
Adry merasa sangat cemas dengan keadaan Raina. Dia memarahi sopir yang melajukan kendaraannya dengan lambat padahal kecepatan sudah diambang batas yang diharuskan.
Dia mendekap erat istrinya dengan penuh kasih sayang. Sesekali memandangi wajah istrinya yang pucat.
"Kau itu kenapa? Apa karena terlalu lelah? Atau kenapa? Aku sangat cemas melihat keadaanmu seperti ini."
Akhirnya, mobil itu sampai di depan ruang instalasi gawat darurat. Mereka langsung disambut oleh perawat dan dokter yang berjaga dan dibawa ke ruang tindakan.
"Kenapa Tuan?" tanya Dokter sebelum masuk ke ruangan tindakan.
"Entahlah, dia pingsan pagi ini dan aku langsung membawanya kemari."
"Apakah dia sedang hamil?"
"Hamil," ulang Adry.
"Nanti saya akan periksa." Dokter itu lantas masuk ke dalam. Setengah jam kemudian dokter itu keluar dari ruangan.
__ADS_1
"Tuan Quantd," panggil Dokter itu. Adry mendekat. Dia menunggu apa yang akan dikatakan oleh dokter itu.
"Bagaimana keadaan istri saya Dokter," ujar Adry.
Dokter itu tersenyum. "Sesuai dengan perkiraan saya. Nyonya Quandt sedang dalam keadaan hamil. Tekanan darahnya tinggi dan sepertinya dia dalam posisi sangat kelelahan. Jadi itu yang memacu sakitnya. Saya anjurkan agar istri Anda banyak beristirahat. Khusus untuk satu Minggu ini jangan biarkan dia melakukan hal berat."
Adry membuka mulutnya lebar. "Istri saya hamil Dokter?" tanya Adry menegaskan kembali apa yang dia dengar tidak salah.
"Ya, dia hamil."
Adry langsung memeluk Dokter itu dan berjingkrak senang.
"Kami turut bahagia dengan kabar baik ini."
"Tapi Dokter, bisakah istri saya pulang hari ini. Saya berjanji akan merawatnya dengan baik. Dia bahkan tidak akan menggerakkan satu jari pun tanpa sepengetahuan saya," pinta Adry.
"Bukankah lebih baik dia tinggal di rumah sakit untuk sementara waktu agar kami bisa memantaunya."
__ADS_1
"Tidak, dia sangat benci dengan rumah sakit dan dia sedikit trauma tinggal di sini karena kelahiran keduanya sedikit bermasalah.''
"Oh, masalah apa yang yang terjadi pada kehamilan kedua. Biar kami mencatatnya. Ini sangat penting untuk dijadikan riwayat kesehatan pasien."
"Dia mengalami eklampsia," jawab Adry.
"Itu sangat mengerikan. Saran saya agar kejadian itu tidak terjadi lagi maka Nyonya Quantd harus diperhatikan dengan sangat."
"Tentu saja Dokter, saya juga tidak ingin terulang lagi kejadian yang telah lampau." Adry menghela nafas. "Padahal saya sudah tidak berharap dia hamil lagi tapi ini adalah anugerah dari Tuhan yang tidak bisa ditolak. Anak itu adalah hadiah besar yang Tuhan berikan untuk kita."
"Anda benar, banyak orang yang ingin hamil. Tapi jika ini berbahaya sebaiknya diaborsi lebih dini. Namun, jika kehamilannya kali ini sehat dan selalu stabil maka kita lanjutkan saja. Namun harus berhati-hati."
"Ya, Dokter." Adry mendengarkan dengan seksama apa yang Dokter itu katakan. Setelah itu dia menemui Raina di dalam ruangan.
Raina sedang duduk sembari meminum segelas susu hangat yang diberikan oleh pihak rumah sakit. Dia tersenyum pada Adry ketika melihatnya.
Bibir Adry tertarik lebar menyimpulkan sebuah senyuman indah. Dia mendekat ke arah Raina yang menghabiskan susu itu. Setelah itu, dia memeluk istrinya.
__ADS_1
"Kau membuatku takut saja, Sayang," ujar Adry.
"Aku juga sama terkejutnya denganmu mendengar kabar ini. Apa kau senang, karena kau sangat tidak ingin jika aku hamil lagi."