Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Melarikan Diri


__ADS_3

Perkataan Hana soal penampilannya membuat kepercayaan diri Roy menurun. Selama ini tidak ada yang memprotes nya. Bahkan banyak wanita yang tergila-gila padanya.


Dia melirik pada Hana yang asik melihat keluar jendela. Sesekali terdengar suara helaan nafas berat. Sebenarnya apa yang dia pikirkan. Apakah masalah gaya ini atau hal lain? Hana sosok wanita yang terlihat tenang di luar tetapi menyimpan banyak kepahitan di dalamnya.


Mobil berhenti di depan pelataran sekolah. Roy ingin keluar namun Hana mencegahnya.


"Jangan, biar aku saja yang keluar. Para guru akan aneh bila melihatmu."


"Ya Tuhan apakah gara-gara masalah gaya ini lagi. Sungguh terlalu."


Roy terdiam, membiarkan Hana keluar dari mobil dan masuk ke dalam sekolah. Lama pria itu menunggu tetapi Hana tidak kunjung keluar dari sekolah. Rasa khawatir mulai muncul. Dia lalu keluar dari mobil dan mencoba masuk ke dalam.


Seorang penjaga sekolah menghadangnya.


"Ada keperluan apa Pak! Ini wilayah sekolah."


"Tadi ada seorang wanita masuk. Dia calon istri saya. Katanya dia ingin menjemput anak kami."


"Siapa anak Bapak?" tanya Penjaga itu lagi.


"Anak saya bernama Ayu dan Bagus. Penjaga itu melirik ke penampilan Roy.


"Pak, ada yang sedang memaksa saya untuk ikut dengannya. Dia itu penjahat kejam. Tolong saya dan anak-anak untuk keluar dari sini," bisik Hana kepada penjaga gerbang ketika hendak masuk ke dalam sekolah.


"Oh, Ayu dan Bagus sudah keluar dari tadi." Penjaga gerbang mengamati Roy dari bawah ke atas. Tubuh dan wajah pria itu memang terlihat garang.


"Lho saya tidak melihat mereka keluar, Pak?"


"Lewat pintu samping."


"Sial!" umpat Roy.


"Sejak kapan, Pak?"


Penjaga gerbang melihat jam yang melingkar di tangannya, "Kurang lebih setengah jam yang lalu."


"Di mana pintu sampingnya?"


"Lewat dalam Pak jika ingin keluar dari sana."


"Dasar wanita!" geram Roy kesal.


Pria itu lantas menelfon Hyun untuk membawa beberapa orang guna mencari Hana dari CCTV di semua jalan sekitar daerah ini.


Hana merasa sudah bebas dari genggaman Roy. Dia dan si kembar telah naik dua bisa trans. Tidak mungkin jika Roy bisa menemukannya karena dia sudah sangat jauh dari lokasi sekolah.


"Kita duduk di sana!" ajak Hana ketika baru saja turun dari bus trans. Mereka lalu duduk di halte bus.

__ADS_1


"Bu, kenapa kita harus pulang lebih awal dan kemana kita akan pergi!" ujar Bagus.


"Iya, kita akan kemana?" imbuh Ayu yang duduk di kursi paling pojok sedangkan Hana duduk diantara mereka berdua.


"Ibu belum tahu," ucap Hana lemas.


"Kok tidak tahu, sih Bu?"


Ayu memegang lehernya.


"Haus."


Seseorang mengulurkan sebotol minuman pada Ayu.


"Terimakasih kasih." Ayu menoleh dan terkejut melihat siapa yang memberikan botol minuman itu.


"Om Roy. Kok bisa di sini!" seru Ayu, membuat Hana langsung melihat ke arah Ayu. Dia menelan salivanya yang tercekat dalam-dalam.


"Kebetulan ada di sini." Dia tersenyum mengejek pada Hana. Hana mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Bagus sendiri mendekat ke arah Roy. "Untung ketemu Om."


"Kenapa untung?"


"Om bisa mengantar kami pergi."


"Tidak tahu. Memang kita akan kemana, Bu?" tanya Bagus pada Hana.


"Ke laut," ujar Hana kesal dan dengan wajah ditekuk. Dia tidak tahu jika secepat itu dia bisa ditemukan dengan mudah oleh Roy. Lagipula sejak kapan pria itu ada di sini? Kenapa dia tidak sadar dan tahu.


"Apa kalian lapar?" tanya Roy.


"Iya. Ini sudah hampir waktu makan siang."


"Sebaiknya kalian ikut Om cari tempat makan sambil memikirkan akan pergi kemana kalian nanti." Roy ingin tertawa menatap ekspresi Hana yang sedang marah. Wanita itu menggerakkan bibirnya ke kanan dan kiri. Dasar wanita.


"Aku mau," seru mereka berdua senang.


"Ibu anak-anak kau mau ikut kami atau tidak?"


Hana masih terdiam menatap ke arah sepatu sneakersnya yang berwarna putih.


"Kalian masuk saja ke mobil itu," tunjuk Roy pada mobilnya.


Di sana tampak tiga orang berpakaian jas lengkap dan tinggi besar berdiri. Hana sudah tahu jika itu pasti anak buah Roy. Dia berhubungan dengan orang penting dan berkuasa sepertinya. Jadi tidak mudah untuk lepas darinya dan dia sudah membuktikannya.


Roy duduk di sebelah Hana. Melihat ke arah jalanan. Sedangkan, anak-anak sudah masuk ke dalam mobil satunya. Tangkap dulu anaknya maka sangat induk akan ikut serta. Itu yang Roy lakukan.

__ADS_1


"Kau mau pergi lagi atau ikut denganku. Aku tidak akan memaksamu."


Hana menoleh menatap Roy dengan sebal dan kesal. Terlihat sekali jika wanita itu ingin sekali menghajarnya.


"Haruskah aku menjawabnya!" ucap Hana geram.


"Kalau mau ikut naik ke mobilku. Jika tidak kau akan ku tinggal sendiri di sini." Roy dengan santai berjalan pergi meninggalkan Hana. Dia lalu meminta kunci mobil pada sopir. Roy masuk ke dalam mulai memasukkan kunci mobil.


"Om, Ibu tidak ikut?" tanya Bagus melihat ke belakang di mana Ibunya tetap duduk di kursi besi.


Roy tidak menjawab. Dia hanya menyalakan mesin mobil melihat ke arah spion mobil. Benar saja seperti dugaannya. Hana berlari menuju ke arah mobil lalu mengetuk pintu mobil.


Roy membuka pintu depan, di sampingnya. "Kau yakin mau ikut kami?" ejek Roy.


Hana hanya mendengus kesal. Mobil mulai berjalan meninggalkan tempat itu.


Setelah sekian tahun berlalu, entah mengapa Roy tiba-tiba ingin bernyanyi. Hatinya merasa senang sekarang. Kini dia pulang dengan membawa teman. Calon istri dan dua anaknya. Dia tidak tidak perduli apakah Hana akan menerimanya sebagai suami atau tidak. Yang penting mereka sudah ada dalam genggamannya.


"Kita akan kemana, Om?" tanya Ayu.


"Rumah," jawab Roy.


"Rumah Om?"


"Ya seperti itulah." Rumah kita Nak. Di mana kalian akan tumbuh di sana dan menghabiskan waktu denganku.


Setelah menempuh perjalanan mereka akhirnya sampai di kediaman Quandt. Hana membuka matanya lebar. Dia kaya tetapi rumahnya yang dulu tidak sebesar ini.


"Wah, ini seperti istana besar sekali," teriak Ayu.


"Ini rumah Om atau hotel?"


"Rumah Om. Ayo kita turun." Roy lalu turun dari mobil mereka langsung disambut oleh para pelayan.


"Siapkan makan siang sekarang juga," perintah Roy.


"Baik, Tuan."


Ayu dan Bagus lalu mendekat ke arah Roy.


"Rumahnya besar dan bagus sekali," ujar Ayu.


"Kau suka?"


"Sangat suka."


"Kalau begitu kita masuk dan melihat ke dalam, kita lihat apakah kau menyukainya juga?" ajak Roy. Ayu nampak lebih suka berinteraksi dengan Roy dengan manja. Dia akan memegang tangannya atau memeluk dibanding dengan Bagus. Mungkin karena dia anak perempuan naluri nya ingin dekat dengan sang Ayah.

__ADS_1


"Wow... Om... kau membawa anak siapa kemari?" ujar Leon keras menatap Ayu. Dia lalu melihat ke arah Hana dan Bagus. Dahinya nampak berkerut. "Akan ada keributan nanti."


__ADS_2