Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Anak Terbaik


__ADS_3

Carl memang diam saja. Tidak mengatakan apapun, namun netra hijau itu memperlihatkan sebuah kesedihan yang terpendam. Berkali-kali terdengar tarikan nafas kuat padanya. Entah apa yang ada dalam hatinya sekarang? Apakah dia sedih karena akan melihat ibu yang terluka? Ataukah pertengkaran Adry dan Janeta yang telah melukainya? Tidak ada yang tahu karena Carl tipe kepala rumah tangga yang jarang berbicara atau memberikan komentar pada suatu masalah. Biasanya dia selalu mempercayakan masalah keluarga pada Janeta.


Langkah kakinya sempat terhenti ketika menatap ke arah pintu ruang ICU di mana Roy berada. Tatapannya tertuju pada sosok di mana tubuh lemah Roy terbaring.


"Siapa, Kak?" tanya Karina berbisik pada Raina.


"Ayah mertua," jawab Raina. Karina tertegun memandangi ayah angkat Roy. Dia seperti kembaran Adry, hanya saja beda generasi.


"Aku ingin melihat Roy lebih dekat sendiri." Adry menganggukkan kepala mengerti. Dia dan Raina lalu duduk di kursi tunggu depan ruangan. Carl masuk ke dalam ruangan itu setelah mengganti baju khusus rumah sakit.


"Apakah Roy sudah sadar?" tanya Adry. Karina menggelengkan kepalanya. Mereka menatap pintu ruangan itu dan menarik nafas bersama-sama.


"Dimana Regina, Kak?" tanya Karina.


"Bersama dengan Leon, Kakaknya."


"Wah, kakak Rere datang. Pasti dia senang sekali."


"Awalnya tidak mau tetapi setelah bersama selama setengah jam Rere mau ikut dengan Kakaknya."


"Ikatan darah memang kental, tahu siapa saudaranya. Sayang, aku ini anak tunggal jadi belum tahu bagaimana rasanya punya saudara."


"Aku pun punya saudara perempuan, hanya saja hubungan kami tidak terlalu dekat."


Karina terkejut menatap Raina namun pandangannya terlihat biasa lagi setelahnya. Dia bukan tipe orang yang ingin tahu masalah seseorang lebih dalam.

__ADS_1


"Kalau begitu bolehkah aku menganggapmu sebagai saudara?" tanya Karina. Raina menoleh, tersenyum, lalu meletakkan tangannya di atas tangan Karina dan meremasnya.


"Makanya kau menikah dengan Roy, agar kita jadi ipar," ujar Raina. Karina menunduk malu sembari menggerakkan kakinya.


"Aku akan tenang jika Roy sudah menemukan tambatan hatinya," lanjut Adry yang mendengar pembicaraan istrinya dan Karina. Rasa bersalahnya karena pernah merebut Nita dari Roy akan sedikit berkurang dan beban di hatinya akan hilang.


Dia merasa bahwa kehidupan rumah tangganya yang tidak mulus dengan Nita adalah karma dari perbuatannya. Pada dasarnya, Roy dan Nita adalah pasangan sempurna namun dia yang telah merusaknya. Hidup senang diatas penderitaan adiknya, itu terdengar kejam dan tidak manusiawi. Adry menghela nafas berat.


Karina yang menatap Adry setelah mendengar tanggapan pria itu. Dia tidak menyangka jika mereka mendukungnya untuk dekat dengan Roy.


Sedangkan di ruang ICU. Carl duduk di depan tubuh Roy. Mata pria itu terpejam. Hanya suara alat penunjang yang terdengar jelas dan hembusan nafas Roy dengan bantuan Ventilator.


Carl menatap dada Roy yang di pasang perban. Dengan gemetar dia mendekatkan tangannya untuk menyentuh dada itu. Rasa panas dalam matanya mulai terasa lagi. Pandangannya buram tertutup oleh embun dalam netra. Setetes demi setetes buliran bening tidak dapat dia tahan lagi ketika dia menyentuh dada Roy.


"Maafkan, aku ayahmu karena tidak bisa membahagiakanmu hingga hari ini." Akhirnya kalimat itu terucap dari bibir Carl.


"Aku tidak pantas kau sebut Ayah. Aku terlalu menjadi pengecut untuk membuka kebenaran ini pada semua orang. Tidak ada alasan yang tepat untuk membenarkan semua tindakanku ini."


"Bagiku, kau anak yang sempurna. Selalu bisa melakukan apa yang ku mau tanpa pernah mengeluh sedikitpun. Kau juga selalu mengerti perasaan setiap orang dan selalu mengalah pada Kakakmu."


"Satu hal yang membuatku merasa sedih sampai saat ini adalah saat melihat kau meneteskan air mata ketika menatap wanita yang kau cintai menikahi kakakmu. Kala itu aku ingin sekali memelukmu tetapi aku tidak melakukannya karena beberapa alasan yang tidak perlu. Padahal, aku sendiri yang menyuruhmu untuk merelakan Nita hidup bersama Adry."


"Aku pikir kau akan menemukan wanita lain yang bisa membuatmu bahagia. Namun, tidak. Kau tetap mencintainya." Carl menghembuskan nafas berat. Beban berat serasa terasa menghimpit dadanya.


Dia terkejut melihat titik basah di pelupuk mata Roy. Putranya itu mendengarkan apa yang dia bicarakan.

__ADS_1


"Sadarlah, Nak, agar ayahmu ini bisa membayar kesalahanku. Agar bisa memberikan kebahagiaan padamu." Suara Carl terdengar parau dan tercekat. Lalu isak tangisnya mulai terdengar.


Dia terdiam lama menatap anaknya dalam dan mengusap tangan Roy yang dia genggam.


"Sepertinya ayahmu tidak pantas untuk meminta maaf padamu karena merasa tidak bisa menjadi ayah yang baik. Ayah yang pantas untuk kau sayangi."


"Jika kau bangun nanti, Ayah berjanji akan menjadi Ayah terbaik untukmu dan melakukan apa saja yang bisa membuatmu bahagia."


"Mungkin kita bisa memancing bersama di spree river, dekat Spree River , Pegunungan Lusantian lalu menaiki perahu bersama melewati Bautzen dan Spremberg. Itukah, yang selalu kau lakukan jika sedang pergi berlibur. Ayah tahu semua kegiatanmu tetapi kembali lagi, ayah selalu berpura-pura menjadi ayah yang dingin."


Carl tertawa kecil dalam tangisnya. "Semua itu kulakukan untuk menjaga perasaan ibumu. Aku tidak ingin dia membencimu. Aku hanya ingin kita semua bisa hidup bersama dengan tenang dan damai." Carl menelan Salivanya dengan sulit. Menunduk kembali sembari mengangkat genggaman tangannya dan Roy lalu menciumnya.


"Aku senang melihat kau sering bersamanya. Aku kira hubungan kalian dekat. Nyatanya, kini dia menembakmu. Rupanya kekecewaan dan kemarahannya pada diriku masih tersimpan lekat lalu dia luapkan padamu. Aku tidak bisa mencegahnya. Andai, aku bersikap tegas mungkin tidak jadi seperti ini."


"Namun, kayu telah menjadi arang. Kita tidak bisa merubah apa yang telah terjadi. Hanya bisa berdoa semoga Tuhan dan kau memberikan kesempatan pada aku untuk merubah segalanya agar kita bisa bersama lagi."


"Bangunlah, Nak. Demi ayahmu ini. Bangunlah, ini pinta ayahmu, apakah kau akan mengabaikannya?" suara Carl terdengar putus asa. Dia lalu menyembunyikan wajahnya di tempat tidur.


Jari tangan Roy mulai bergerak perlahan, membuat Carl yang sedang menggenggamnya terkejut.


"A.. ku tidak pernah mengabaikan perintah Ayah," suara Roy mulai terdengar lirih. Carl membuka mulutnya lebar dan tertawa keras. Roy lalu membuka matanya perlahan.


"Aku tahu itu, kau memang anak terbaikku," ujar Carl bangkit dan mencium dahi Roy.


"Aku akan memanggil dokter," kata Carl hendak keluar. Tapi genggaman tangan Roy mengerat.

__ADS_1


"Ayah, kapan kita memancing lagi?"


Carl tertegun. Lalu tersenyum. "Setelah kau pulih, kita pasti akan memancing seperti dulu," ujarnya.


__ADS_2