
"Kalau mereka bukan anakku lalu katakan siapa ayahnya?" Roy menunggu jawaban dari Hana.
Wanita itu nampak gugup mengusap rambutnya ke belakang.
"Jika aku tidak salah hitung umur Ayu dan Bagus di tambah umur kehamilanmu itu sama dengan renggang waktu ketika kita bertemu untuk pertama kalinya."
"Itu ... itu...," Hana tidak tahu harus menjawab apa.
"Jangan mengatakan jika waktu itu yang bersamaku adalah Hani."
Netra Hana semakin membesar. Sebanyak apa pria ini tahu tentang semuanya.
"Aku ingat bola mata ini yang terbuka ketika pertama kalinya kau ku... " Roy tidak sanggup untuk mengatakannya namun dia harus melakukannya untuk menyelesaikan semua masalah yang ada, "nodai. Maaf. Waktu itu aku kira kau adalah wanita bayaran temanku. Aku tidak tahu jika kau masih gadis."
Hana terdiam tidak mengatakan apapun. Hanya lehernya saja yang naik turun. Lama-kelamaan netranya merebak dan tubuhnya terguncang.
"Kau pria terkejam yang pernah kutemui. Kau tidak berperasaan," umpat Hana dalam hati namun tidak bisa dia tumpahkan. Dia hanya memeluk tubuhnya sendiri.
"Kau boleh marah dan memaki ku tapi jangan diam seperti ini," ungkap Roy dengan perasaan bersalah. Hatinya nyeri melihat Hana menangis tanpa suara. Dia lalu memeluk Hana tapi belum sempat dia menyentuhnya Hana menatapnya tajam.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu! Pergilah dari hidupku, aku ingin hidup sendiri dengan anak-anak ku." Matanya menyiratkan kebencian dan rasa sakit yang dia pendam selama ini.
"Hana... aku...," Roy mencoba menyentuh wajah Hana namun wanita itu menepis dan tertarik histeris.
"Jangan sentuh aku!" teriaknya lalu naik ke atas tempat tidur dan duduk di pojokan, memeluk erat bantal yang baru saja dia ambil. Pupil matanya bergerak, memperlihatkan ketakutan teramat sangat. Bekas sentuhan Roy diusapkan ke bantal dengan kasar berkali-kali.
"Aku kotor kau sentuh... aku kotor...." Suara tangisnya terdengar menyayat hati.
Roy hanya terdiam. Kini dia tahu apa yang dia lakukan beberapa tahun silam membuat luka dalam untuk Hana. Wanita itu trauma berat dan butuh penanganan dari ahli masalah kejiwaan.
"Ibu kenapa Om?" tanya Ayu yang baru masuk. Dia langsung mendekati ibunya.
"Om tidak tahu," ucap Roy.
__ADS_1
"Om pasti menyentuh Ibu. Ibu tidak suka jika disentuh seorang pria dia akan marah. Namun biasanya tidak seperti ini," tuduh Bagus dan memang benar.
"Ibu, ini kami. Ayu dan Bagus. Ibu jangan menangis," ucap Ayu. Hana menatap bola mata kedua anaknya secara bergantian lalu memeluk mereka.
Pemandangan itu menghantam diri Roy jauh ke dalam kegelapan. Mengingatkannya kembali pada dosa masalalu yang membuat hancur masa depan seorang gadis. Dia tidak mengira semua akan memburuk seperti ini. Bodohnya dia yang mengira Hani adalah Hana yang menerima perlakuannya dengan mudah. Pantas saja wanita itu tersenyum senang ketika menerima uangnya.
Hana pasti sangat terluka dalam sehingga rentang waktu selama ini tidak bisa membuat trauma nya hilang.
Roy memegang dadanya yang terasa nyeri. Dia menatap nanar ketiganya. Terdiam menyaksikan semuanya. Si kembar berusaha menenangkan Hana. Wanita itu lantas menangis sambil berbaring lalu tertidur pulas. Dia tidak tahu harus melakukan apa.
Dia tidak tega membiarkan kembar mengurus dirinya sendiri. Akhirnya, memutuskan untuk tinggal hingga Hana pulih. Dia memesankan makanan untuk mereka semua lewat on-line lalu menemani Bagus tidur di lantai. Ayu sendiri memilih tidur bersama ibunya.
Sepanjang malam dia duduk di pintu kamar. Menatap semua orang yang sedang tertidur pulas terutama Hana. Dia menggunakan kesempatan itu mencari artikel tentang trauma dan menghubungi salah seorang sahabatnya.
Dia menceritakan semuanya pada temannya itu.
"Bawa saja dia kemari. Kita lihat seberapa parah trauma atau guncangan jiwa yang pernah dia alami," ucap Rama.
"Atau kau bisa membawa dia ke rumahmu. Kita akan menangani di sana."
"Rumahku?"
"Humm. Jangan katakan jika kau akan membiarkan mereka hidup sendiri?"
"Itu tidak mungkin."
"Kalau begitu bawa dia ke rumahmu. Dia harus cepat mendapatkan penanganan sebelum terlambat."
"Baiklah. Aku akan membujuk ibu dan kedua anaknya. Ini bukan perkara mudah."
"Roy selalu bisa mengatasi masalahnya."
"Kau itu."
__ADS_1
"Semangat kawan. Kau sudah mendapatkan sebuah keluarga jangan kau sia-siakan kesempatan itu. Dia membutuhkanmu untuk mengatasi trauma nya dan memperbaiki hidupnya. Kau membutuhkan dia untuk menemani hari-harimu yang kesepian dan merana. Cinta itu bisa datang belakangan, Roy."
"Sialan!" umpat Roy.
Terdengar kekehan dari seberang telepon sana.
"Roy, ini hampir pagi dan kau mengganggu kesenanganku malam ini. Jadi aku akan memberikan tagihan tiga kali lipat atas biaya konsultasi ini."
"Ck kau itu dengan sahabatmu masih perhitungan."
"Sahabat... sahabat tapi aku juga butuh banyak uang untuk menyenangkan pasanganku," lalu terdengar lenguhan Rama.
"Asem... ih..." Roy bergidik terperanjat dari duduknya.
"Punyamu kudu diasah jika tidak akan loyo dan akhirnya tidak bisa digunakan. Buat apa besar jika tidak normal, nikah lah Dude, apa kau mau mendengarku bermain bersama istriku!"
"Gila, gendeng, breng***, dasar tak berakhlak," umpat Roy sebelum mengakhiri pembicaraan itu.
Tetapi tawa keras terdengar dari baliknya sebelum panggilan terputus.
Roy jadi panas dingin mendengarnya. Sudah lama dia tidak tidur bersama wanita. Terakhir kalinya dia melakukan itu bersama Hana. Malam yang panas dan dia tidak benar-benar puas karena sebelum efek obat itu menghilang.
Itu brutal dan liar. Roy mengakuinya, pantas jika wanita itu trauma. Dia bahkan tidak mengindahkan tangis Hana waktu itu.
Dia memerhatikan wajah Hana yang putih dan mulus. Terlihat kusam karena tidak dirawat. Namun aslinya Hana itu wanita yang cantik, pipi yang sedikit berisi, mata yang lembut, hidung kecil tapi tinggi dan bentuk wajah oval. Semua sempurna terutama bibirnya yang berwarna salem dan berisi.
Pandangannya lalu turun ke bawah menilai semuanya hingga sampai ke kaki Hana yang terbuka karena kain selimut tersingkap. Kaki yang panjang dan kecil. Sangat cantik jika memakai sepatu highless sesuatu yang dia sukai dari wanita. Sepasang kaki yang indah hal yang selalu membuatnya terpesona pada wanita. Nita dan Karina sama-sama memilikinya.
Namun, apa Hana akan menerimanya sebagai suami. Wanita itu muda dan cantik. Hana sebenarnya bisa memilih pria manapun untuk bersanding dengan wanita itu. Mungkin yang tampan dan seumuran dengannya. Sedangkan dia dan Hana sekitar sembilan belas tahun atau dua puluh tahun.
Sekarang bukan waktunya memikirkan pernikahan tetapi bagaimana agar Hana bisa pulih dari trauma nya dan menjalani kehidupan dengan normal.
Rama benar. Dia harus secepatnya membawa Hana ke rumah. Akan tetapi ada Leon di sana. Apa yang akan dia katakan pada anak itu? Bagaimana jika dia mengatakan semuanya ke keluarganya? Mereka pasti akan datang segera dan Roy yakin Hana belum siap dengan semuanya.
__ADS_1