
Keheningan panjang melanda. "Tuan, mungkin saja itu bukan dia, aku lebih suka jika Anda mendapatkan konfirmasi dulu sebelum melakukan perjalanan yang tidak perlu."
"Kau bilang kemungkinan besar itu dia," tukas Adry tidak sabar. "Jikapun bukan dia aku tidak akan memintamu untuk bertanggung jawab."
"Apakah aku harus menarik anak buahmu?" tanya Sersan Andika.
Adry terdiam merapatkan bibir dan mencengkeram handphone itu dengan lebih erat. "Kalau itu Raina aku akan tahu. Kalaupun bukan, aku akan memberitahu sehingga kau bisa mencarinya ke tempat lain dan melanjutkan pencariannya. Kau tidak perlu mengirim siapapun aku yang akan mencarinya sendiri. Cukup kirimkan alamatnya saja."
***
Adry berkendara melalui tol Cikopo, Palimanan menembus hujan lebat yang mengaburkan pandangan matanya. Tujuannya ke sebuah cafe kecil di sudut kota Bekasi, tempat Raina bekerja sebagai pelayan. Seharusnya itu tidak mengejutkan dirinya. Dia adalah juru masak yang handal sebelum bertemu dengannya.
Jika benar dia bekerja di sana berarti itu yang membuat Raina tidak memakai sepeserpun yang miliknya dalam kartu yang dia bawa. Dia berpikir Raina mungkin akan kembali bekerja di sebuah bank atau kantor yang lebih layak daripada menjadi seorang pelayan.
Seharusnya dia mengambil uang di bank untuk membuat usaha sendiri. Raina pernah mengutarakan niatnya untuk membuka usaha kuliner. Adry menyetujuinya Walau dalam hati sifat egoisnya melarang karena dia ingin Raina hanya fokus padanya dan Leon.
Saat tiba di Bekasi hari sudah larut malam jadi dia memutuskan untuk menginap di sebuah hotel dekat dengan lokasi di mana Raina berada. Semalaman penuh dia tidak bisa memejamkan matanya.
Saat Adry terbangun langit tampak mendung berawan berwarna kelabu dan tampak mendung. Namun, hingga dia keluar dari hotel itu tidak nampak setetes hujan pun turun dari langit. Suasana ini mirip sekali dengan hatinya yang sedang sedih.
Adry melirik GPS dan melihat jika dia masih berada beberapa blok dari tujuannya. Hal yang membuat dia kesal dan frustasi adalah dia harus berhenti di setiap lampu merah di sepanjang perjalanan lalu lintas yang nyaris macet itu.
Mengapa dia harus tergesa-gesa dia tidak tahu tetapi menurut Sersan Andika, Raina telah bekerja di tempat itu selama beberapa bulan lalu, jadi dia tidak akan pergi kemanapun.
Jutaan pertanyaan berada di benak Adry tetapi dia tidak tahu apakah jawaban dari setiap pertanyaan yang dia ajukan sebelum bertemu langsung dengan Raina.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Adry menepikan kendaraannya di depan sebuah kedai kopi dengan tulisan miring bergambarkan pria yang sedang merokok. Dia terkejut menatap tempat itu dan membayangkan Raina bekerja di kedai itu.
Sambil menggelengkan kepalanya Adry keluar dari BMW-nya dan bergegas masuk ke dalam pintu masuk. Dia mulai merasakan tetasany hujan di rambutnya. Dia melangkah melewati kanopi kecil diatas pintu.
Begitu di dalam. Adry memandang ke sekitar tempat itu, sembari mengambil tempat duduk di salah satu terjauh di kafe itu. Seorang pelayan wanita yang sedang bercanda dengan seorang pria di tempat pemesanan melihat ke arahnya. Wanita itu lantas menuju ke arahnya. Yang pasti itu bukan Raina.
"Kopi saja," ucap Adry.
"Baiklah, yang biasa atau cappucino atau yang lain kau bisa melihatnya di daftar menu yang ada di meja," terang wanita itu.
"Kopi hitam pahit," kata Adry tanpa melihat ke arah daftar menu.
"Baiklah!" pelayan itu melenggang menuju ke bar untuk membuat kopi.
Pelayan itu kembali untuk sesaat meletakkan kopi itu diatas meja. Tetapi pekerjaannya itu dilakukan dengan sembrono sehingga cairan hitam itu meluber ke pinggiran cangkir. Dengan tersenyum pelayan itu meminta maaf dan meletakkan serbet.
Adry hendak menanyakan tentang Raina ketika melihat sosok wanita di belakang pelayan itu dan memunggunginya. Berdiri di seberang ruangan di meja yang lainnya.
Adry menyuruh pelayan itu pergi dan menatap lurus serta tajam ke arah wanita yang ada di seberang ruangan. Itu dia. Adry tahu bahwa pelayan itu adalah Raina.
Rambutnya yang dipotong segi lebih panjang dari terakhir kali mereka bertemu dan rambut itu diikat kuda ke atas seperti yang sering Raina lakukan pada rambutnya. Adry merasakannya bahkan lebih dari yang dia bayangkan, tubuhnya langsung bereaksi bahkan setelah enam bulan ini tertidur panjang.
Kemudian Raina berputar memperlihatkan wajah serta senyumannya. Namun, wajah Adry memucat.
"Apa-apaan ini?"'
__ADS_1
"*Perut buncit itu tidak salahkan?''
"Raina sedang hamil*?" Dia bahkan sedang hamil besar. Lebih besar ukurannya dari istri Kenan jika diukur.
Tatapan Adry tepat di wajah Raina ketika wanita itu memutar tubuhnya sehingga wajahnya tepat berada di depan matanya. Tatapan mata mereka bertemu.
Manik mata Cokelat itu terlihat kaget setelah melihat Adry berada di seberang ruangan. Wanita itu langsung mengenalinya. Wajah Adry langsung meremang mendapat tatapannya. Raina langsung membuang wajahnya tetapi kenapa? Apakah salahnya di sini? Batin Adry.
Sebelum Adry sempat berdiri atau bereaksi melakukan sesuatu, kemarahan nampak sangat tadi dari tatapan mata Raina yang dingin. Wajah Raina yang halus nampak mengeras dan dari kejauhan nampak jika tulang rahang wanita itu mengetat.
"Apa yang membuat wanita itu terlihat marah padanya?"
Jari Raina mengepal erat di sisi tubuh seakan terlihat jika wanita itu ingin melampiaskan kemarahannya dengan meninju pria itu. Lalu, tanpa sepatah katapun Raina berbalik dan berlari melewati pintu yang berada dibelakang dan berayun.
Adry menyipitkan matanya. Okey, Tadi memang tidak seperti yang dia bayangkan atau dia harapkan.
Namun, dia tidak tahu apa yang dia harapkan. Raina datang padanya dan menyatakan permintaan maafnya lalu menangisi kejadian yang lalu. Berharap Raina akan meminta kembali padanya?
Adry shock. Mendapati kenyataan bahwa Raina dalam keadaan hamil dan bekerja sebagai pelayan di tempat yang lebih cocok untuk lulusan SMU bukannya lulusan perguruan tinggi degan nilai bagus dan mantan pegawai dari sebuah bank besar.
Hamil? Adry menarik nafas panjang dan mencoba menenangkan diri. Sudah berapa bulan dia hamil paling tidak lebih dari tujuh bulan. Mungkin lebih. Jika iya seharusnya wanita itu bercerita padanya sewaktu mereka masih bersama.
Namun, mengapa Raina tidak menceritakan hal ini padanya sebelumnya? Apakah benar yang dikatakan oleh Nita jika sebenarnya Raina punya hubungan lebih dengan Roy? Beberapa bukti mengarahkannya pada hal itu.
Jika tidak mengapa Roy yang membebaskan dia dan dia pergi bersama pria itu seolah ingin pergi darinya sejauh mungkin. Jika itu anaknya, seharusnya Raina berterus terang bukannya hanya diam seperti itu.
__ADS_1
Pikirannya kacau antara melihat kenyataan yang ada bahwa Roy sering kali ke apartemen mereka di Jerman tanpa sepengetahuannya dan berpikir jika apa yang mereka katakan tentang Raina itu salah dan itu adalah memang benar anaknya!