
Adry membawa Raina ke sebuah apartemen mewah. Semua yang dia butuhkan memang ada di sana. Tempat tinggal nyaman dan semua keperluannya benar-benar dipenuhi oleh Adry. Seperti yang dia bilang tidak ada keluarganya dan Nita dalam hubungan mereka.
Adry bahkan tidak membahasnya sama sekali tentang mereka. Dia memang seperti berniat ingin membuatnya nyaman. Namun, masalah yang disembunyikan itu seperti menyimpan bara dalam sekam. Entah kapan bara itu akan berubah menjadi api yang bisa membakar dirinya.
"Kau bawa apa?" tanya Raina ketika melihat Adry datang dengan beberapa tas ditangannya.
"Keperluanmu," kata Adry mengecup pipi Raina. Wanita itu merasa terkejut melihat isi tas yang penuh dengan barang-barang feminim.
Raina lalu duduk di sofa dibantu oleh Adry dan mulai membongkar semua isi tas itu. Baju rumah yang nyaman dan dress untuk keluar dan dalaman yang rata-rata berwarna merah.
"Kau membeli semua ini?" tanya Raina memperlihatkan sebuah penutup atas tubuhnya.
"Sebenarnya sekretarisku yang kusuruh untuk membeli dan memilih pakaian untukmu." Raina mencoba memasangkannya.
"Apakah cukup?" tanya Adry penasaran.
"Jangan menatapku seperti itu," ujar Raina dengan wajah memerah. Wanita itu memang berubah menjadi lebih pemalu setelah mereka berpisah. Raina bahkan meminta kamar terpisah hingga kini walau mereka telah bersama selama lebih dari 20 hari. Tidak mudah bagi Adry untuk mengambil lagi hatinya.
Raina terdiam untuk sesaat. Wajahnya nampak terlihat tegang.
"Ada apa?" tanya Adry cemas.
__ADS_1
"Dia sedang bergerak," kata Raina memegang perutnya.
"Boleh aku menyentuhnya?" tanya Adry hati-hati. Raina lalu menganggukkan kepala. Adry terkejut melihatnya. Dia langsung melompat dari tempat duduknya dan mendekat ke arah Raina. Berjongkok di bawahnya. Dengan tangan yang terlihat ragu dan takut Adry menyentuh perut besar Raina.
Adry menahan nafasnya menatap Raina dengan ekspresi tidak percaya. Ini kedua kali untuknya tetapi rasanya sangat luar biasa. Ada gerakan kecil seperti gelombang dibawah tangannya. Menakjubkan untuknya. Dia tidak bisa mengungkapkan isi hatinya dengan kata-kata.
Raina menyingkap kaos di perutnya sedikit sehingga kulitnya bisa bersentuhan langsung dengan kulit Adry.
"Jika kau meletakkan tanganmu di tempat lain dia akan meresponnya." Raina lalu mengambil tangan Adry dan memindah posisinya. Benar saja jika gerakan anak itu seperti mengikutinya.
"Apakah sakit?"
"Hanya tidak nyaman. Jika dia bergerak terus saat malam, aku hampir tidak bisa tidur menunggu dia tenang."
"Kau jangan nakal pada ibumu. Biarkan dia istirahat agar kau bisa tumbuh dengan sehat di sana." Raina tersenyum. Hatinya menghangat mendapat perhatian dari Adry.
"Putriku pasti akan menjadi anak yang aktif."
"Kau sangat yakin jika dia anak perempuan?"
"Naluriku yang mengatakan demikian tetapi aku tidak perduli apakah dia seorang putri atau pangeran. Bagiku sama saja."
__ADS_1
Raina tersenyum kecut mendengar kata 'naluri'.
"Apa kau yakin dia putrimu?" tanya Raina dengan hati mendesir sakit. Bagaimanapun dituduh berselingkuh oleh suami seperti sebuah bentuk penghinaan yang cukup serius dan melukainya. Kehormatannya sebagai seorang istri dipertanyakan.
Adry menghela nafas berat menatap Raina. "Aku tahu, aku salah. Aku minta maaf."
Mata Raina berkaca-kaca.
"Sial! Jangan menangis, aku tidak suka melihatmu menangis." Raina memalingkan wajahnya ke arah lain dan mengusap air matanya.
Adry bangkit dan memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang. Kepala Raina berada di perut pria itu. Dia menangkup pipi Raina yang basah dan menciumnya.
"Jangan menangis lagi. Aku tidak sanggup melihatnya." Mereka berdua akhirnya malah menangis bersama dan saling memeluk erat.
"Aku marah padamu, kenapa kau selalu diam tidak pernah membela dirimu selama ini? Aku menunggumu marah dan mengatakan semuanya tetapi mulutmu tidak mengucapkan apapun." Adry duduk di sofa dengan posisi kepala Raina berada di pangkuannya.
Tangannya mengusap rambut Raina dengan lembut. Ini pertama kalinya mereka menjadi cukup dekat setelah terpisah selama beberapa bulan Raina yang selalu menjaga jarak dengannya walau mereka sudah bersama lagi.
"Di saat kita lelah lebih baik kita diam. Bicara pun percuma jika orang yang kita ajak bicara tidak mempercayai kita."
Terdengar suara helaan nafas yang berat dari Adry.
__ADS_1
"Pertanyaannya adalah mengapa begitu lama bagimu untuk tahu hal ini? Di mana hati nuranimu atau yang kau katakan naluri itu? Apakah sudah ikut mati? Tadinya aku berharap mata hatimu masih berfungsi walau kedua netranya buta oleh kenyataan yang kau lihat dan kau dengar nyata tidak. Mereka menjadikanmu buta untuk melihat semuanya."