Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Tidak Sangka


__ADS_3

Hana menoleh dan melihat satu sosok yang lama sekali tidak dia temui. Nafasnya terhenti, kedua netranya memanas. Dia mengerjap cepat dan menarik nafas yang tersumbat di dada.


Hana menatap ke arah Roy.


"Hana... kenapa kau di sini bersama... ?" Alisa terdiam menatap ke arah Roy.


"Kalian saling mengenal?" tanya Roy pura-pura tidak tahu.


Dara tidak mengatakan apa-apa, tubuhnya seperti membeku di tempat, dia tidak berhenti memandangi wajah ibunya.


"Dia... dia...," Alisa menundukkan wajahnya. Dia lalu menatap Hana dan menarik tubuhnya untuk mendekat ke arahnya.


"Berarti benar apa yang mereka katakan jika kau memang menjual diri? Mama sangat malu punya anak sepertimu!" Hana menoleh dan menatap ibunya dengan ekpresi terkejut. Dadanya naik turun menahan tangis yang sudah sampai di dada. Matanya sudah merebak.


"Sepertinya kalian kenal akrab?" tanya Roy santai.


"Dia hanya anak dari saudara jauh kami," ujar David yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu.


"Oh... ternyata dia bibimu Hana?" ujar Roy tersenyum.


"Ya, seperti yang kau lihat." David menatap jijik pada Hana.


"Maaf jika kelakuan dia membuat Anda tidak nyaman!" kata Alisa malu.


"Tidak nyaman bagaimana? Kehadirannya membuatku bahagia."


Roy melambaikan tangan agar Hana mendekat. "Kemarilah," panggilnya.

__ADS_1


Hana lalu berjalan dengan kaki yang gemetar dan lemas. Dia nyaris pingsan karena ibunya tidak mengakui dia sebagai anaknya.


Dia menurut ketika Roy menduduknya, lalu mencium pucuk kepala Hana. Alisa yang melihat membuang muka dengan ekspresi jijik dan benci.


"Mereka itu calon klien ku Hana. Mereka ingin menawarkan plastik hasil pabrik mereka untuk sebagai pembungkus produk pabrik," cerita Roy duduk di sebelah Hana. Hana terdiam menunduk. Setetes air mata sempat turun dari pelupuk mata dan dengan cepat dia sekarang agar tidak terlihat. Tangan Roy memegang tangan yang lainnya dan meremas nya erat.


Hana mengangkat wajah dan tersenyum kecut.


"Karena kalian sudah saling mengenal, jadi tidak perlu untuk memperkenalkan diri lagi."


Seorang pelayan lalu datang, mereka mulai memesan makanan. Sepanjang pertemuan itu, Hana hanya menutup mulutnya. Sedangkan ibu dan Ayah tirinya tidak menatap Hana. Seolah enggan dan muak untuk berbicara dengannya.


Hana makan dengan malas, hanya mengaduk-aduk makanan itu.


"Kenapa kau tidak memakannya, apakah kau tidak suka dengan menu makanannya?" Roy bersikap penuh perhatian dan lembut membuat dua orang di depan mereka saling menatap ekspresi tidak dimengerti. David lagi menatap dengan tatapan merendahkan.


Mereka berbicara tentang masalah bisnis sambil makan.


David dan Alisa tersedak mendengar ucapan Roy. Hana menoleh ke arah Roy.


"Tapi Tuan, ini adalah kualitas yang sangat baik dengan harga yang terbaik khusus untuk perusahaan Anda."


"Kami mempunyai standar mutu sendiri dan produk kalian tidak sesuai dengan standar yang kami inginkan. Maaf!" Roy menegakkan posisi duduknya dengan satu tangan memegang bahu Hana.


"Tapi, Tuan kami akan perbaiki produk kami sesuai dengan kriteria yang perusahaan Tuan terapkan," ungkap David.


"Jika dari awal saja sudah tidak bertanggung jawab bagaimana akhirnya." Roy nampak sudah malas meladeni pembicaraan dua orang itu.

__ADS_1


"Hana!" panggil Alisa berbisik meminta bantuan pada anaknya. Dia mencolek paha anaknya agar merayu Roy untuk bisa mendapatkan tender.


"Kau mau pesan makanan apa untuk anak-anak di rumah?"


"Hmmm apa ya?" Kedua orang itu mengamati Hana dengan seksama sambil membaca gestur tubuhnya.


"Spagetti saja."


"Itu biar aku saja yang memasakkan," ungkap Roy. "Spagetti buatanku tiada duanya."


"Aku tidak tahu harus memesan apa? Kak Raina pasti sudah memasak berbagai hidangan. Di rumah, apa saja sudah ada."


"Desert, kue ini sepertinya lezat," ungkap Roy. "Aku juga ingin membeli menu kepiting ini untuk makan malam kita. Kau atau kakak ipar bisa memanaskan nya nanti. Lagipula Ibu suka dengan menu ini."


Mereka akhirnya memesan makanan yang Roy inginkan.


Orang tua Hana mengernyitkan dahi. Mereka saling bertanya soal Hana lewat pandangan mata.


"Pak David dan Ibu Alisa saya kira sampai di sini saja pertemuan kita ini. Saya masih ada urusan lain," Roy bangkit bersama Hana. Satu tangannya mengait ke pinggang kecil wanita itu Berharap jika masalah trauma Hana tifaj kambuh untuk saat ini.


"Saya Mohon Bapak bisa menindak lanjuti soal kerja sama ini," kata Alisa dengan sangat.


"Maaf, saya tidak bisa. Saya masih ada jadwal dengan orang penting yang lain. Permisi, ibunya anak-anak sepertinya lelah dan butuh istirahat. Permisi," ujar Roy membuat wajah Alisa dan David memucat seketika.


"Ibu anak-anak? Memang apa hubungan kalian?" celetuk Alisa.


"Memang kalian melihat hubungan kami seperti apa?" balik Roy.

__ADS_1


"Jangan mengira jika Hana adalah wanita simpananku karena jika kalian berpikir seperti itu betapa picik dan rendahnya pemikiran kalian. Dia adalah ibu dari anak-anakku dan sumber kebahagiaanku, jika kalian menyakitinya sama saja dengan menyakitiku!"


Mata Alisa membesarkan dia terperanjat hingga terhuyung satu langkah ke belakang.


__ADS_2