Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Menahan Rasa


__ADS_3

Ekspresi Adry melunak. Dia mendorong Raina hingga sampai di tempat tidur dan mendudukkannya. Dia lalu duduk di sampingnya memegang dua lengan Raina.


"Kau akan cantik memakai apapun. Percayalah. Bahkan perut besarmu itu menambah kau terlihat menarik dan seksi." Adry menarik nafas.


"Berhentilah mencemaskan tentang satu hal."


"Aku gugup Adry, semua ini membuat pikiranku tidak enak."


"Aku tidak ingin kau cemas, Raina. Apapun yang telah terjadi aku tidak memikirkannya lagi. Kita tutup masa lalu dan aku telah menerimamu apa adanya terlepas dari semua yang sudah kau lakukan. Aku memaafkan atas semua tindakanmu pada ibuku. Jika aku sudah menerimamu maka mereka juga harus melakukannya."


Tenggorokan Raina terasa tercekat mendengarnya. Kepedihan serasa menyentaknya seakan sesuatu menikam dadanya dengan sebilah belati tajam. Walau dia tidak tahu bagaimana rasanya ditusuk tetapi tidak seburuk ini.


'Memaafkan!'


Untuk sesuatu yang tidak dia perbuat tetapi Adry mempercayai dia melakukannya.


Dia tahu Adry berniat baik. Dia ingin agar Raina merasa tenang dan lebih baik. Alih-alih merasa itu, Raina malah seperti didorong jatuh ke dasar jurang.


Adry mengecup kedua tangan Raina bergantian. "Aku tahu bahwa kita pasti telah melakukan kesalahan. Aku pun pernah melakukan kekhilafan juga. Yang terpenting adalah kita tidak mengulanginya lagi.


Raina menganggukkan kepalanya dengan lesu. Matanya menerawang jauh ke depan terasa kosong menahan rasa panas di matanya. Air mata melesak keluar membuat penglihatannya kabur.


Bagaimana caranya agar Adry bisa tahu jika maaf nya itu membuatnya merasa ingin mati?


Adry lalu bangkit dan mencari gaun yang pas untuk Raina. Sebuah gaun hitam panjang dengan belahan di bagian dada dan tanpa penutup di bagian punggungnya.


"Ini membuatku perutku nampak jelas terlihat besar."


"Aku suka dengan perut besarmu." Adry memang bangga dengan hasil pencapaiannya yang bisa membuat Raina hamil. Dia seolah ingin memamerkan kehamilan Raina pada setiap orang.


"Pakai juga mantel bulu ini jika kau merasa kedinginan."

__ADS_1


Raina berjuang mengumpulkan kembali kekuatannya dan bertingkah seolah tidak ada yang salah. Siapa yang bisa menolak perlakukan Adry yang manis itu?


"Aku akan membersihkan diri, kau bisa bersiap-siap." Adry meletakkan baju itu serta mantelnya di atas tempat tidur dengan pelan.


Raina lalu memeluk Adry, dia merasa butuh suatu dorongan yang bisa membuatnya kembali berdiri tegak. Ini semua terasa menyesakkan untuknya. Dia memeluk Adry lebih lama dari biasanya seperti enggan untuk melepaskannya.


"Kenapa? Apa kau merasa tidak nyaman dengan pertemuan ini. Jika iya kita bisa menundanya."


"Tidak, aku hanya ingin melakukan ini," ucap Raina. Adry tertawa kecil, Raina bagai anak ayam yang takut kehilangan induknya.


Dia lalu melepaskan Raina seraya memegang pipi wanita itu. Mencium dahinya lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Sepeninggal Adry, Raina memandang gaun indah itu. Adry seperti ingin memamerkan kehamilannya pada keluarganya. Raina tersenyum kecut. Adry memaafkannya, Raina menggelengkan kepala seraya menyeka air matanya.


Seharusnya dia yang memaafkan Adry dan keluarganya.


***


Ruangan itu dibuka. Di sana sudah duduk Tuan Carl dan Ibu Janeta, lalu di sisi yang lain ada Nita dan juga Leon yang sedang memandanginya. Leon terlihat diam, namun tatapannya memperlihatkan keterkejutan karena Raina hamil dan rasa rindu yang mendalam.


"Jika kau ingin menemui ibumu kau harus janji untuk duduk dengan tenang. Tidak perlu kau bersikap berlebihan seperti ingin memeluk nya lama. Aku tidak menerimanya Leon. Jika kau melakukan itu, aku jamin Ibumu akan masuk penjara lagi," bisik Janeta sebelum mereka keluar dari kediaman Quandt di Jakarta.


Oleh karena itu, Leon tetap membisu dan memegang ujung bajunya kencang dibawah meja agar dia tidak berlari memeluk ibunya. Dia mengerjapkan mata agar air di pelupuk tidak keluar. Dadanya terasa panas menahan semua perasaan yang ada. "Mom," gumam anak itu lirih. Nita yang tahu perasaan Leon memegang satu tangan anak itu.


"Kau harus kuat menghadapinya," ucap Nita lirih dan hanya mereka berdua yang mendengarnya. Leon menelan Salivanya dan menganggukkan kepala.


Raina tertegun melihat Leon. Dia ingin memeluknya namun Leon terlihat dingin dan diam, tidak datang layaknya seorang anak yang Merindukan orang tuanya. Raina menahan diri untuk datang ke arah Leon. Adry seperti mengerti perasaan Raina dia meremas tangannya berusaha untuk memberikan kekuatan.


"Hallo, Ayah," sapa Adry mencium Ayahnya lalu ibunya. Raina hanya menyalami mereka saja. Janeta nampak mengambil tisu setelah bersalaman dengan Raina.


"Hallo, Leon," ucap Raina gemetar.

__ADS_1


"Bu," ucap Leon dengan pupil mata bergerak. Raina langsung memeluk Leon dan mendekapnya erat. Alih-alih mengikuti ucapan Janeta, Leon memeluk balik Raina karena tidak tahan pada rasa rindu yang mendalam. Namun, sebisa mungkin dia menahan air matanya.


Setelah beberapa menit Raina menangkup kedua pipi Leon. "Kau terlihat bertambah tampan. Mom Nita mengurus mu dengan baik."


Leon tidak sanggup mengatakan apapun hanya menganggukkan kepalanya. Dia takut jika tangisnya yang akan keluar bukan lagi jawaban dari pertanyaan Raina.


Leon menyentuh perut Raina yang besar.


"Dia adikmu, sebentar lagi akan keluar ke dunia ini," sela Adry di samping Raina.


Leon tidak mengucapkan apapun tetapi dia mencium lama pada perut Raina lalu berdiri naik ke kursi mencium dahi ibunya dan tersenyum.


Raina mengacak lembut rambut Leon. Sedangkan, Janeta menatap malas dengan drama rumah tangga itu. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Nita kau pesan apa tadi?" tanya Janeta.


"Makanan terbaik di sini. Steak dengan taburan emas, Salmon tartar with quail eggs and caviar, sampanye, mungkin untuk Raina segelas jus jeruk itu bagus untuk kakinya yang bengkak," ungkap Nita yang melihat jelas bagian kaki Raina.


"Kau memang selalu mengerti kebutuhan setiap orang mu dear," puji Janeta pada Nita. Nita berusaha tersenyum lebar. Padahal hatinya sedang tidak karuan.


Posisi tempat duduk itu seperti huruf U, dengan sofa tebal hingga ke dindingnya. Raina memilih duduk di sebelah Nita. Sedangkan Adry berada di sampingnya. Itu seperti perumpaan jika Nita mendapatkan Leon dan dia mendapatkan Adry. Wah, pikiran macam apa itu? Batin Raina.


Pelayan datang membawa pesanannya. Di saat itu pintu ruangan terbuka dan semua melihat Roy masuk ke dalam ruangan.


"Hallo semuanya, apakah aku terlambat?" tanya pria itu terlihat santai.


"Biasanya kau selalu ada sebelum kami datang. Rupanya keluar dari tempat kerja membuat perilaku biasamu juga ikut berubah," ucap Carl yang paling tidak suka melihat orang terlambat atau membuang waktu.


"Maaf, Yah, aku ada masalah di jalan."


"Alasan klasik, tidak bisakah buat alasan yang lebih menghibur?" ejek Carl. Roy terdiam.

__ADS_1


__ADS_2