Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Tragedi


__ADS_3

"Hai, Yah, Kakak, Kakak Ipar, semuanya, aku punya kabar penting. Aku sudah menikah dengan Karina," ucap Roy melalui sambungan video call dengan keluarga Quantd di Jerman.


"Wow, berita yang mengejutkan...," seru semua orang di sana.


"Kau baru saja pergi tahu-tahu sudah menikah. Ini tidak adil seharusnya kau menikah di sini dan kami melihatnya," ucap Adry


"Tetapi kami turut bahagia Roy, Karina kau harus kuat hidup bersama pria dingin itu... membuatnya panas bukan hal mudah," celetuk Adry. Raina nampak memukul lengan suaminya.


"Tanpa disentuh Roy sudah akan panas sendiri, betul tidak Karina," lanjut Raina.


Wajah Karina nampak memerah.


"Oh, ya ini Ibu Karina. Ibu Lilis namanya,"


"Hallo Ibu, salam kenal dari keluarga Roy yang ada di sini." Nampak Carl meminta wajahnya di sorot.


"Salam kenal dariku Carl, Ayah dari Roy. Maaf jika kami tidak berada di sana karena anak itu sangat nakal menikah tidak minta ijin dan tidak mengatakannya pada kami sebelumnya."


"Oh, tidak apa-apa lagi pula dia secara spontan Ingin menikahi putriku. Semua tanpa direncana terjadi begitu saja namun aku bahagia karena putriku sudah ada yang menjaga. Aku hanya takut ketika aku tiada nanti siapa yang akan menemani hidupnya ke depan." Ibu Lilis terlihat bersedih ketika mengatakannya.


Semua terdiam.


"Ini berita yang mengejutkan untuk kami. Kami bersyukur jika Roy sudah menemukan hidupnya. Jika ada pendamping saya yakin dia akan menemukan semangat lebih untuk melalui hari-harinya ke depan. Lagipula, Karina terlihat tepat untuk Roy yang dingin dan cuek. Aku yakin mereka akan jadi pasangan yang cocok satu sama lain."


"Kita berdoa semoga mereka akan bahagia selamanya." Lalu layar di handphone menunjukkan wajah Roy bersama dengan Karina lagi.


"Roy, apakah kau sudah malam pertama dengannya? Jika belum kau harus pelan-pelan jika tidak...," mulut Adry ditutup oleh Raina.


"Jangan dengarkan Kakakmu ini dia itu... terkadang tidak waras," ucap Raina.


"Aku tidak waras jika di dekatmu," ucap Adry mencium pipi Raina.


"Aku tahu...," balas Raina.


Carl yang sedang berada di sekitar dua insan itu hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum melihat kemanisan antara menantu dan anak lelakinya.


"Di mana anak-anak?" tanya Roy.

__ADS_1


"Mereka sudah tidur, besok Leon akan mulai sekolah dan Rere sudah tidur sebelum makan malam. Mungkin karena terlalu lelah bermain dengan Leon serta pelayan di sini."


"Kak, aku tunggu kadonya," ucap Roy.


"Kau minta apa?"


"Mungkin apartemenmu di Jakarta," ucap Roy.


"Hadiahmu rumah itu saja. Aku serahkan padamu," kata Carl.


"Sungguh, Yah," kata Roy tidak percaya.


"Untuk apa aku berbohong. Kau anakku berhak pula atas sebagian hartaku."


"Ayah... aku tidak ... ," perkataan Roy terpotong oleh Adry.


"Kita punya bagian yang sama Roy. Jadi jangan sungkan terhadap pemberian dari Ayah. Terima saja. Soal apartemen kau akan kubelikan apartemen di Berlin saja agar kau bisa menempatinya ketika kemari."


"Kak, aku hanya bercanda. Tidak serius untuk meminta itu." Roy terlihat tidak enak dan juga terharu atas hadiah dari Ayahnya dan Adry.


"Aku tidak pernah bercanda untuk, adikku. Kau tahu aku bahagia mendengar kabar jika ternyata aku tidak sendiri, aku punya seorang adik sedarah, walau sebelumnya memang kau sudah kuanggap adik. Aku menyayangimu."


"Kapan kau akan membuat resepsi pernikahanmu?" tanya Raina.


"Kami belum merencanakan itu. Ini benar-benar mendadak tiba-tiba malam tadi aku ingin menikahinya dan aku takut jika aku menundanya maka rencana itu akan batal. Jadi aku langsung saja merealisasikannya menjadi kenyataan. Semuanya berjalan dengan lancar dan akhirnya kami bersama."


"Semoga kalian bahagia dan lekas diberi momongan," ucap Raina.


"Kami belum merencanakannya," ucap Roy yang memang tidak setuju jika Karina hamil.


"Doakan saja, Kak agar kami lekas punya anak," sela Karina yang dari tadi terdiam. Roy memandangnya dengan tatapan tidak senang.


"Amin...," seru Adry, Raina dan Carl bersamaan.


"Ya, sudah kami akhiri dulu pembicaraan ini. waktu kunjung telah usai dan ibu mertua akan beristirahat. Kami harus keluar dari kamar ini."


"Buat Ibu Lilis semoga lekas pulih," ucap Carl.

__ADS_1


"Terima kasih banyak atas doanya. Saya senang Karina mendapat keluarga seperti kalian yang menerimanya dengan baik."


Lalu obrolan itu mereka akhiri. Roy dan Karina meminta ijin pada ibunya untuk kembali ke rumah.


***


Raina sendiri pergi ke kamar Janeta untuk memberi wanita itu obat. Sebenarnya Adry sudah melarang Raina mendekat namun wanita itu bersikukuh untuk merebut hati mertuanya.


"Ibu... boleh aku masuk." Raina membuka pintu dan masuk tanpa Janeta persilahkan.


"Kau tidak perlu ijinku untuk melakukannya," ujar Janeta sewot. "Bukankah kau sudah menjadi penguasa rumah ini."


Janeta menatap Raina tajam.


"Aku membawakan obat untukmu Ibu," ucap Raina membawa baki berisi obat dan segelas air putih.


"Apakah itu racun untuk membunuhku?" ujar Janeta tertawa sinis.


"Jika aku ingin melakukannya aku tidak membawakannya untukmu karena mereka bisa tahu pelakunya adalah aku."


"Kau sangat pandai dalam berkata-kata. Kemarikan obat itu," ucap Janeta.


Raina tersenyum tipis hampir tidak terlihat. Dia senang Janeta mau menerima obat yang dia bawa. Dengan langkah ringan dia mendekatkan diri pada wanita yang sedang duduk di pinggir pembaringan tempat tidur.


Raina sedikit membungkuk agar Janeta bisa mengambil obatnya. Saat itu dia lakukan Janeta dengan keras memukul baki itu sehingga baki terlempar ke atas dan gelas itu sempat mengenai kepala Raina.


Prang!


"Akh!" Raina mengaduh kesakitan memegangi dahinya yang mengeluarkan darah.


"Ya Tuhan, Nyonya Muda," pekik Frans yang sedari tadi menunggu diluar ruangan untuk menjaga jika sesuatu yang buruk terjadi. Dia tahu jika emosi Janeta sangat buruk semenjak pulang dari Indonesia. Ditambah lagi dia terkena stroke yang membuatnya semakin bertambah tertekan. Semua pelayan di mansion ini nampak takut jika mendekati wanita itu karena akan menjadi sasaran kemarahannya. Namun, semenjak menjejakkan kaki di mansion ini Raina yang benar-benar mendekatinya dengan tulus serta menyiapkan semua keperluan wanita itu walau berbagai cacian dan makian dilayangkan ke arahnya.


Pria gemulai itu melihat darah di pelipis Raina yang mengucur deras. Dia berlari keluar memanggil pelayan yang lainnya.


"Siapapun di sana tolong bawa alat pembersih serta alat P3K," seru Frans. Adry yang mendengar keributan di lantai satu, langsung turun ke bawah untuk melihat apa yang terjadi. Dia langsung menuju kamar ibunya.


Carl yang juga sedang berada di ruang kerja mendengar teriakan Frans lalu keluar.

__ADS_1


"Raina kau baik-baik... sa ... kau kenapa? Ibu apa yang kau lakukan pada istriku!" seru Adry tidak terima.


__ADS_2