
Dengan senyum konyol dari bibirnya tanpa suara Karina memadamkan lampu kamar. Mengeluarkan bajunya dari koper dan memakainya sebelum Roy masuk ke dalam kamar ini.
Roy yang sudah menyelesaikan bersih-bersih tubuhnya lalu keluar dari kamar mandi dan langsung berbaring di ranjang.
Karina menarik selimut dan menyelinap di baliknya. "Roy," bisiknya di telinga pria itu.
Roy masih menutup matanya. "Roy," ulang Karina sembari meletakkan satu tangannya di lengan pria itu untuk membangunkannya.
Dengan cepat pria itu berguling membuat Karina berada di bawahnya.
"Kenapa kau mengganggu waktu istirahatku?" tanya Roy.
"Aku tidak bisa tidur." Dalam keadaan sadar Karina mengagumi pemandangan ketika Roy duduk di atas tubuhnya.
Roy hendak berbaring lagi tapi Karina meletakkan tangannya di perut pria itu menahannya agar tetap duduk di sana lebih lama. Seringai muncul di bibir pria itu dengan nakal. Dia lalu mengeluarkan kalimat dalam bahasa Jerman yang Karina tidak tahu artinya.
"Tidurlah Karina dan jangan terlampau memikirkan apa yang sudah terjadi."
"Aku terlalu letih dan lelah untuk berpikir."
Roy menarik tubuh Karina lebih dalam dan wanita itu menghirup aroma tubuh pria itu. Mungkin besok dia akan memberi tahu semuanya pada Roy tentang masalahnya setidaknya hatinya merasa lebih tenang jika melakukan itu. Nampaknya, Roy orang yang bisa dia andalkan ke depannya.
Pagi harinya.
Sebenarnya, Karina sadar jika dia masih berada diatas tempat tidur, namun ranjang ini bergerak. Kepalanya bergerak naik turun dalam gerakan mengalun.
Sepasang matanya lalu terbuka. Roy.
Dia merasa ini benar bukan hanya sekedar mimpi belaka. Kepalanya bersandar di lengan kanan Roy yang besar dan kokoh, sesuatu yang ingin dia lihat. Dada pria itu berbulu dengan banyak gelombang. Hanya saja kain perban masih menutupi sebagian besar dada kirinya. Namun, tidak mengurangi keindahannya.
Sebisa mungkin Karina tidak ingin membangun kan teman tidurnya. Dia memeriksa tubuh mereka berdua lalu berbaring menghadap ke kiri dan lengan kirinya melingkar diantara tubuh mereka berdua. Lengan kanannya tanpa malu-malu tersampir rendah di dada Roy. Kaki kanannya membelit kedua kaki Roy.
Dia sudah seperti selimut untuk Roy dan pria itu bahkan memeganginya dengan erat. Tangan kanan pria itu ada di pinggulnya yang sepenuhnya terbuka pada sentuhan tangan Roy karena baju tidurnya naik saat malam tadi. Tangan Roy satunya memegangi lengan Karina yang berada di dadanya.
Bersama dalam satu ranjang berarti berkomitmen. Apakah mereka akan melakukan ini hingga akhir? Pertanyaan itu merasuk dalam pikiran dan menggelitik hatinya seperti remaja yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Bagaimana bisa pria terasa harum padahal sabun yang mereka gunakan itu sama?
__ADS_1
Karina memanjakan diri dalam rasa dan aroma tubuh Roy, sedikit lebih lama hingga kedua matanya terbuka secara penuh. Dia mencoba melepaskan diri dari pelukan pria itu namun pria itu malah menariknya lebih dalam.
"Jangan pergi!" gumam Roy.
"Kau sudah bangun?"
"Sejak kau membuka mata," lanjut pria itu.
Karina mengangkat dagunya dan melihat pria itu sedang menatap ke arahnya. Ya Tuhan pria ini nampak terlihat seksi sekali.
Dia tersenyum dan tidak mengkhawatirkan bagian rambut mana yang mencuat atau berpikir tentang nafas bau di pagi hari.
Roy memutar tubuh hingga cukup membuat kaki Karina terselip diantara kaki pria ini.
"Kau nampak sangat cantik," ucapnya.
Roy meletakkan satu tangan Karina dan menyentuh leher wanita itu. Dia membentangkan jemarinya dan menikmati dada Roy menikmati salah satu tepian otot yang menonjol.
Pria itu bergeser lebih dekat dan mengerang pelan merasakan sentuhannya.
"Apa kau menginginkan hal ini juga Karina? Jika iya, apa yang harus kulakukan untuk memulainya?
Bayangan mereka berpelukan dalam gelombang gairah merasuki pikiran dengan begitu tiba-tiba dan membuat Karina gemetaran.
Jemari tangan Karina terbenam dalam daging Roy. "Kau hanya harus meminta?"
Roy menjilati bibirnya sendiri yang sedang tersenyum. Dengan wajah yang ingin terlihat serius pria itu berusaha agar tidak meringis.
"Sweety..." Roy menelusuri tangan pada wajah sisi wajah Karina. "Biarkan aku mencintaimu," ucapnya.
Karina terpaku mendengarnya. Apa dia tidak salah dengar? Sepertinya tidak.
Karina merespon pria itu dengan mendaratkan bibirnya pada bibir pria itu. Ketika rasa mint memercik dia melepaskan tautan itu. "Kau curang, obat kumur," gerutunya.
Roy menarik tubuh Karina lagi, menciumnya, dan menyingkirkan tentang segala pemikiran tentang nafas pagi hari. Karina mendesah dan membiarkan pria itu yang memimpin.
Roy berlama-lama menyandera mulut Karina dengan lidahnya hingga dia mulai merasa bosan dan mungkin membiarkan Karina bernafas dia melepaskannya.
__ADS_1
Roy memulai gerakan pada lehernya dalam gerakan lambat dan tangan pria itu dengan bebas bermain pada kaki dan pinggulnya membangkitkan ujung syaraf dengan sentuhan.
Pria itu lalu mengigit ujung baju Karina di mana di dalamnya tersembunyi harta kembar membuat tubuh Karina meremang. Lutut Roy bagai membebaskan balutan boxer yang membara jauh ke dalam dirinya.
"Aku ingin setiap pagi bangun dan kau ada di dekatku. Lalu mandi bersamamu dan melewati hari bersamamu," ucap pria itu.
"Apakah ini sebuah lamaran romantis?" tanya Karina membuat tawa rendah Roy mulai terdengar. Pria itu mulai menarik gaun Karina melewati kepalanya.
Kepala pria itu mulai turun kebawah sehingga gesekan antara kulit Karina dan janggut tipis Roy terasa, belum lagi lidah yang menjelajahi seluruh tubuhnya. Membuat wanita itu melayang.
"Sempurna kau begitu sempurna," ucap Roy ketika mereka sudah tanpa penghalang satu benang pun.
Pria itu lalu mengambil sesuatu dari laci nakasnya dan merobek bungkusan plastik itu dan memakainya. Karina tahu apa itu walau dia belum pernah melihatnya secara langsung ketika seorang pria memakainya di depannya.
"Kau tahu, aku belum pernah melakukannya, sebelum ini," ucap Karina antara malu dan sedikit takut walau hasrat itu masih membara setelah pemanasan yang mereka lakukan.
Roy tersenyum. "Jadi aku yang pertama?" tanya nya.
Karina menganggukkan kepala. "Apakah itu memalukan?" tanyanya.
"Apakah kau rela menyerahkannya padaku?" tanya balik Roy.
Karina nampak berpikir. "Jika kau ragu kita tidak usah melanjutkannya?"
"Aku hanya berpikir jika hubungan kita sudah sedalam ini apakah tidak akan menyakitkan jika kita akan berpisah suatu saat nanti?" tanya Karina.
"Kalau begitu tetap bersamaku!" ucap Roy.
"Apa kau yakin ingin menghabiskan sisa waktu hidupmu bersama ku?" tanya Karina.
"Kita akan lewati semuanya bersama, kau hanya cukup genggam tanganku dan jangan pernah lepaskan."
Karina mengalungkan tangannya di leher pria itu.
"Kalau begitu lakukan dan jadikan aku sepenuhnya milikmu."
"Aku pun akan jadi milikmu," ucap Roy.
__ADS_1