Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Status Hubungan


__ADS_3

Hana menatap ke arah Roy. Pria itu mengedipkan mata dan tersenyum. Hana lalu tersenyum sangat tipis, dia langsung membalas memeluk panggul Roy karena tinggi mereka berbeda.


Dia sempat melihat wajah terkejut dari Roy karena reaksinya, detik kemudian, pria itu malah mengeratkan pelukannya. Herannya, Hana tidak merasa risih atau ketakutan.


Sebuah perasaan hangat dan terlindungi hadir dalam diri Hana. Dia merasa sangat terpukul dan sakit tadi. Namun, Roy bisa membalas semuanya dengan elegan. Apakah dari awal Roy sudah tahu bahwa Alisa adalah ibunya? Dia pasti sudah tahu itu dan pura-pura tidak tahu.


Roy segera membawa Hana keluar dari ruangan itu dengan wajah puas. Dia tidak terima dengan apa yang wanita itu lakukan. Itu adalah perbuatan kejam dengan tidak mengakui anak kandungnya sendiri.


Hana pasti merasakan perasaan yang teramat sakitnya. Dia faham dengan perasaan itu, merasa dibuang oleh keluarganya sendiri.


"Hana," gumam Alisa lirih ingin mengejar putrinya rasa bersalah karena berpikir negatif tentang anaknya. Ini hal memalukan yang pernah dia lakukan slama ini dan dia menyesalinya. Andai kata dia mengatakan ibu dari Hana, mungkin kerjasama itu bisa berlangsung namun yang dia lakukan malah berbeda. Bukan tidak mungkin jika Roy Quandt sudah tahu.


Namun, David mencegahnya. "Anak itu benar-benar tidak tahu diri, seharusnya dia membantu kita dengan mengatakan jika kau adalah ibunya. Seharusnya dari awal dia mengatakan jika dia adalah istri dari Tuan Roy, bukannya membuat kesalahpahaman ini dan membuat kita menjadi malu."


"Tuan Roy pasti sangat marah jika tahu kau adalah ibunya!"


"Ini juga salahmu! Mengapa kau mengatakan jika dia adalah saudara jauh kita padahal sudah jelas dia adalah anakku!"


"Jangan menyalahkan ku, aku hanya membantumu. Kau pasti tadi malu mengakui dia adalah anakmu. Andai tidak, kau sudah memeluknya karena lebih dari delapan tahun kalian tidak bertemu!"


Alisa terdiam.

__ADS_1


"Sekarang yang harus kita pikirkan adalah bagaimana caranya agar kita bisa mendapatkan kerja sama dengan Tuan Roy Jika itu bisa dilakukan makan kita bisa membayar hutang pada pihak bank sehingga tidak perlu menjual pabrik."


"Aku tidak tahu! Biarkan aku berpikir sendiri terlebih dahulu. Kau pulang sendiri saja. Aku butuh ruang untuk melepaskan beban ini walau sejenak."


"Baiklah, jika itu maumu. Aku akan pulang dengan taxi saja. Jangan pulang terlalu malam. Ingat dengan kondisi kesehatanmu yang mudah sakit."


"Aku bisa menjaga diriku!" Alisa lalu pergi meninggalkan David sendiri.


"Terima kasih," kata Hana ketika mereka sudah sampai di dalam mobil.


"Untuk apa? Aku tidak melakukan apapun."


Sikap Roy seperti ini membuat Hana gemas. Ekspresinya sama seperti dengan Bagus yang sering meletakkan uang di bawah lipatan bajunya. Berpura-pura tidak mengerti apa yang dia lakukan.


"Kau ingin kemana? Ingin pulang atau menemaniku ke kantor."


"Aku bosan selalu berada di rumah. Aku sebenarnya ingin duduk ke lokasi jualan ku. Tapi... anak buahmu melarangku pergi kemanapun, langsung saja membawaku pergi dari sana setelah selesai mengambil barang milikku."


Roy tersenyum. "Kalau begitu kita ke kantor, Lim!"


"Baik, Pak Roy," ucap Salim mulai menjalankan mobil pergi dari restoran.

__ADS_1


"Aku biasa sibuk dengan rutinitas kegiatanku dari bangun sebelum subuh sampai tengah malam. Kini, aku hanya harus duduk di rumah dengan manis. Itu membosankan dan bisa membuatku gemuk seketika."


"Gemuk?" Roy menatap tubuh Hana yang kurus dan kecil, hanya saja memang berisi di beberapa tempat yang seharusnya.


"Ya, di rumah para pelayan menawariku makanan setiap jamnya. Sebulan di sana, bobot ku bisa naik dua kali lipat karena hanya akan makan dan tidur saja."


Roy tertawa kecil melihat ekspresi Hana yang lucu ketika mengomel. Baru saja tadi dia terlihat bersedih kini dia bisa tersenyum kembali seperti tidak ada apa-apa? Wanita itu pandai sekali menyembunyikan kesedihan di hatinya.


"Hana, jika ingin menangis, jangan ditahan. Itu tidak baik bagi...," Roy menunjuk ke arah dada Hana.


Wajah Hana langsung mengerut. Dia membalikkan tubuh melihat ke arah luar jendela.


"Aku tidak baik-baik. Lagipula memang apa yang telah terjadi?"


"Bukankah dia ibumu?"


Hana yang tadinya tegar kini mulai memperlihatkan kerapuhan nya. Tubuhnya bergetar, lalu menunduk. Wajahnya dia sembunyikan di balik rambutnya yang panjang.


Roy merengkuh bahu Hana agar bersandar padanya.


"Kau membuatku menangis!" ucap Hana memukul dada Roy.

__ADS_1


"Padahal aku benci memperlihatkan kelemahanku pada orang lain."


"Aku bukan orang lain, aku ayahnya anak-anak," ungkap Roy. Ya hanya itu status hubungan mereka. Sebagai orang tua dari Ayu dan Bagus.


__ADS_2