
"Aku tahu." Adry merasa tidak enak pada Raina ketika membahas tentang Leon. Dia lalu bangkit dan berjalan menjauh.
"Nita kau tahu dimana Roy?" tanya Adry.
"Roy... entahlah, terakhir kali berhubungan dia mengatakan ingin pergi dan dia terlihat begitu frustasi. Aku tidak tahu apa yang terjadi sehingga dia begitu tertekan. Setelah itu, dia tidak menghubungiku lagi."
"Apakah dia tidak mengatakan apapun tentang Raina?" tanya Adry lagi untuk menegaskan sesuatu.
"Raina ... " Suara Nita terdengar mulai ragu. Sudah lama dia tidak mendengar nama Raina disebut kenapa kini kembali lagi.
"Untuk apa dia bahas soal Raina denganku.. ha... ha ... kau itu lucu," kata Nita terdengar hambar.
"Bukankah kau yang mengatakan jika Raina selingkuh dariku?"
"Aku tidak mengatakan dia selingkuh hanya, saja mereka sering kali terlihat berdua dan dekat, aku hanya mencurigainya. Kau lihat beberapa kali dia bertemu dengan Raina di belakangmu dan dia juga memberikan barang-barang untuk Raina. Katakan untuk apa? jika dia tidak sedang mengkhianatimu."
"Artinya kau tidak yakin jika mereka berselingkuh?"
__ADS_1
"Kau bisa menilainya sendiri bagaimana hubungan mereka? Bukankah aku sudah memberikan beberapa rekaman kedekatan mereka. Aku bukan wanita yang ingin tahu urusan orang sehingga mematai mereka. Aku hanya ingin tahu tentang Raina mengapa dia tega ingin membunuh Ibu. Mungkin Ibu adalah ancaman terbesar Raina untuk bisa masuk ke dalam keluarga Quandt. Raina dan Roy pasti merencanakan sesuatu. Itulah sebabnya Roy pergi sebelum rencananya diketahui olehmu."
"Okey, aku faham." Adry menghela nafasnya.
"Adry kenapa kau tanya tentang Raina lagi. Bukankah kau sudah membuangnya jauh dari kehidupan kita?" tanya Nita curiga.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedang mencari Roy. Aku tidak bisa menemukan orang secakap dia dalam bekerja. Lagipula dia adalah adik angkatku jadi aku ingin dia kembali. Ayah menanyakannya."
"Oh, ya sudah. Aku harus pergi untuk menjemput Leon. Bye."
Adry menutup teleponnya. Rasa frustasi dan tidak berdaya menyumbat tenggorokannya. Dia marah. Dia kesal pada Nita, pada Raina dan pada dirinya sendiri. Mengapa hal ini sampai terjadi? Dia tidak tahu mana yang benar tetapi ada yang aneh di sini. Apakah Nita berusaha untuk memanipulasi keadaan?
Jadi kemungkinan bayi itu miliknya adalah besar karena Nita tidak punya bukti kuat kedekatan Raina dan Roy. Mereka hanya sering bertemu di belakangnya. Raina dan Roy tidak pernah terlihat mesra. Mungkin mereka punya merencanakan sesuatu tetapi jika selingkuh itu rasanya tidak mungkin. Roy tidak akan mengkhianatinya dan Raina bukan wanita seperti itu.
Ketika dia kembali duduk di depan Raina, dia tidak siap untuk menghadapi kemurkaan dan kebencian di wajah Raina. Sebelum dia ingin mengatakan sesuatu Raina menatapnya dengan ekspresi yang membuat seluruh tubuhnya seakan membeku hingga ke tulang.
"Jika kau ingin memamerkan kebahagiaanmu dengan Nita lebih baik aku pergi dari sini. Aku tidak ingin mendengar nama Nita, Ibumu atau keluargamu disebut lagi di depanku!"
__ADS_1
Adry tercengang, "Dia itu istriku dan sedang merawat Leon jadi dia akan sering menghubungiku."
Raina menggertakkan gigi, mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. "Kalau begitu aku akan keluar dari rumah ini."
Kenapa Raina begitu marah pada Nita. Bukankah wanita itu telah merawat Leon dengan baik dan menyayanginya? Seharusnya dia malah berterimakasih pada Nita bukannya marah seperti itu. Tidak ada satupun yang masuk akal dalam situasi ini, Adry mencoba untuk memahaminya.
"Nita tadi berkata jika kau hanya sering bertemu dengan Roy tidak berarti jika kalian telah melakukan hubungan terlarang." Adry mengatakannya dengan hati-hati menunggu reaksi dari Raina.
Kepedihan menyapu wajah Raina. "Dan kau pasti mempercayainya," ucap wanita itu hingga hampir menangis.
"Apa itu berarti kau memang tidak pernah berselingkuh di belakangku? Dan itu berarti itu adalah bayiku?" Adry sangat ingin mendengar hal ini penjelasan dari Raina jika ini adalah anaknya dan dia tidak pernah mengkhianatinya.
Matanya memohon pada Raina agar dia mengatakan bahwa ini bayinya.
Ekspresi Raina kembali tidak terbaca, "Aku tidak mengatakan apapun."
Rasa frustasi kembali menghujam diri Adry seperti tertimpa berton batu. Raina menutup diri lagi dan tidak ada yang bisa membukanya. Adry merasa ingin meninju tembok dengan keras meluapkan amarahnya.
__ADS_1