Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Sindrom Caucavade


__ADS_3

Roy mengejar perempuan yang diindikasi telah tidur dengannya. Dia lalu memegang bahu wanita itu.


"Akhirnya kau kutemukan," ucap Roy.


"Siapa kau?" tanya wanita itu.


Roy menatapnya lalu mengernyitkan kedua alisnya. Mungkin terlalu banyak pria yang telah bersama wanita ini hingga lupa dengannya.


"Ikut denganku!"


"Aku tidak mau!" tolak Hani. Namun, cekalan tangan Roy sangat kuat.


"Mau apa kau dengan kekasihku?" tanya seorang pria mendekat ke arah Hani.


"Entahlah, dia mengusikku," ucap Hani. "Brandon tolong aku!"


"Jika kau tidak ingin tahu apa yang kau lakukan di hotel bersamaku pada malam itu, sebaiknya kau menurut!" bisik Roy jijik dengan wanita itu. Ternyata dia wanita murahan seperti kebanyakan wanita yang dia temui.


"Kau...," Hani terdiam menatap Brandon. "Sayang, aku dan dia punya sedikit masalah. Aku akan menyelesaikan semua dengannya. Bisakah kau tinggalkan kami," ujar Hani.


"Tapi?"


"Kumohon aku baik-baik saja. Kau tahu dengan masalah keluargaku, aku hanya ingin menyelesaikannya agar semua mudah untuk kita ke depannya."


Perut Roy merasa muak dan mual mendengarnya. Pria muda bernama Brandon itu lantas mencium bibir Hani.


"Ingat kau hanya milikku jadi jangan biarkan dia menyentuhmu aki tidak suka!"


"Tentu saja tidak, kami hanya ada urusan berkaitan dengan bisnis Ayah saja."


Brandon menatap Roy dengan tajam lalu pergi dari tempat itu dengan wajah kesal.


"Apa maksudmu dengan hotel?" tanya Hani dengan wajah ditegarkan dalam hatinya dia sebenarnya gentar harus bertatap muka dengan pria berbadan tinggi besar dengan banyak tattoo di tubuhnya. Walau sebenarnya dia tampan hanya saja dia terlalu tua untuk Hani.


"Bukankah kau wanita yang menemaniku di Hotel Sultan waktu itu?"


Hani nampak gelisah.


"Sepertinya iya. Aku mengingat wajahmu."


Hani nampak mengagumkan bibirnya erat. Tidak berani menatap Roy.


"Aku hanya ingin memastikan jika kau hamil atau tidak setelah apa yang kita lakukan?"


Roy lalu melihat Hani dari bawah hingga ke atas. Celana hotpants model belel dengan atasan yang menggantung dan dengan pusat yang terlihat sedikit. Remaja yang terlihat murahan. Tas yang dia gunakan bermerk G double hanya saja KW. Mungkin dia gunakan untuk memenuhi gaya hidupnya terlihat dari pakaian yang mahal sepatu original brand terkenal walaupun tasnya KW namun itu masih termasuk mahal untuk kalangan anak muda.


Roy menghela nafasnya.


"Aku tidak hamil!" ucap wanita itu dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


"Kita lihat saja nanti," Roy menyeret wanita muda itu pergi dari mall menuju ke sebuah klinik.


Hani langsung diperiksa oleh Dokter yang berjaga di tempat itu.


"Anda siapa dari wanita muda ini? Mengapa ingin tahu dia hamil atau tidak?"


"Saya Omnya. Adik dari ayahnya. Saya hanya khawatir dengan apa yang dilakukan oleh keponakan saya diluar sana," terang Roy berbohong.


"Anda sangat perhatian sekali," ucap Dokter itu tersenyum ramah tapi Roy tahu jika itu sebuah sindiran karena dokter itu tidak akan percaya jika dirinya adalah paman dari Hani.


"Berapa umur mu, Dik?" tanya Dokter itu.


"Sembilan belas tahun, Bu."


"Wah masih sangat muda. Kuliah atau bekerja?"


"Kuliah," jawab Hani.


"Nona Hani saat ini tidak sedang hamil Pak. Hanya saja tolong jaga agar tidak salah pergaulan bisa-bisa nanti dia hamil betulan."


Roy menarik nafas lega. "Terima kasih kalau begitu, Dok."


Roy lalu mengajak Hani keluar.


"Sudah puas! Sudah ku katakan kan jika aku tidak hamil." Hani melangkah pergi namun Roy mencegahnya.


"Tunggu!"


Roy mendekat. "Berapa nomer rekeningmu?" tanyanya.


"Untuk apa?"


"Aku akan memberikanmu uang tambahan."


Hani menaikkan dua alisnya keatas matanya nampak berbinar. Dia lalu tersenyum menyerahkan handphone miliknya yang berisikan nomer rekening.


Roy mencatat lalu mentransfer sejumlah uang.


"Itu untuk bayaran mulai karena telah menemaniku malam itu. Setelah ini anggap kita tidak pernah bertemu lagi."


Hani menutup mulutnya karena terperangah. Tiga ratus juta. Dia kaya dalam sehari. Dia menelan salivanya sambil tersenyum.


Hani ingin mengatakan sesuatu namun Roy sudah berjalan jauh dari nya.


"Yes! Aku akan menghubungi Papa dan Mama. Mereka pasti senang. Tidak sebaiknya aku rahasiakan uang ini dari mereka jika tidak mereka akan mengambilnya dariku. Itulah untungnya punya otak cerdas. Tidak melakukan apapun tetapi dapat uang banyak. Brandon I Love You."


Sedangkan Roy kembali ke mansion nya. Dia kini tinggal di Jakarta untuk mengurus cabang perusahaan otomotif Quantd yang ada di Asia. Sedangkan pusat tetap di pegang oleh Adry dan dia tidak ada masalah dengan itu. Dia tenang dengan kehidupannya kini walau kisah percintaannya sering kali berakhir dengan tragis. Setidaknya, kini dia merasa tidak sendiri ada keluarganya yang akan selalu mendukung. Ibu bahkan sering datang untuk melihat keadaannya di Jakarta. Kini dia tahu bagaimana rasanya dicintai oleh seorang Ibu serta diakui oleh dunia bahwa dia anak kedua dari Carl secara sah dalam hukum. Bukan lagi sebagai anak angkat.


Rasa mual kembali menyiksanya. Roy pergi ke kamar mandi untuk memuntahkan semua isi perutnya. Setelah itu dia masuk kembali ke dalam kamarnya, berbaring. Baru saja dia hendak menutup matanya sebuah panggilan masuk.

__ADS_1


Si Tengil. Nama yang tertera dalam benda pilih itu. Dengan malas Roy menggeser tombol hijau ke samping.


"Ada apa?" tanya Roy.


"Suaramu nampak lemas," ujar Jonathan dari balik handphone milik Roy.


"Aku meriang, itukan yang orang Indonesia katakan jika sedang sakit pusing dan tidak enak badan," ujar Roy.


"Kau sakit tumben," seru Jonathan dari balik telephon.


Roy memijat pelipisnya. "Sudah seminggu lebih," ujar nya.


"Badan panas, demam?"


"Tidak hanya menggigil tengah malam karena merasa dingin. Tulang sakit semua, kepala seperti mau pecah dan muntah-muntah," terang Roy memejamkan matanya.


"Kena tipes kali, bro!" ujar Jonathan.


"Kemarin Dokter yang memeriksa ku mengatakan jika aku sehat dan dalam keadaan baik-baik saja."


Terdengar suara berbicara dari seberang sana. "Jo kau masih di sana?"


"Iya, aku di sini. Aku hanya sedang ngobrol dengan istriku Bella kenapa gejala yang kau alami sama dengan yang kurasakan sekarang?"


"Maksudmu?" Roy langsung bangkit dan bersandar pada sandaran tempat tidur.


"Aku sedang mengalami Sindrom Caucavade kata dokter yang memeriksa."


"Penyakit apa itu? Apa kelainan otak karena otakmu itu tidak pernah beres."


"Kurang ajar. Aku matikan teleponnya kalau begitu."


"Eits jangan terangkan dulu apa itu sindrom yang tadi kau katakan!" pinta Roy mulai mendengarkan.


"Sindrom Caucavade itu adalah kehamilan simpatik. Pasangan kita sedang hamil anak kita dan kita merasakan yang sering dirasakan oleh ibu hamil."


"Memang aku hamili anak orang? Kayaknya aku tidak pernah tidur dengan wanita manapun."


"Wanita yang dua bulan lalu bertemu dengan kita?"


"Aku baru saja dari rumah sakit dengannya dan Dokter menyatakan jika dia tidak sedang hamil."


"Aneh!"


"Kau yang aneh. Bicara denganmu malah jadinya ngawur. Sudahlah nikmati saja sindrom Caucavade mu itu. Aku sepertinya hanya lelah dan butuh istirahat."


"Kau memang terlalu keras bekerja. Sekali-kali nikmati hidup."


"Jika ada pasangan atau teman hidup mungkin bisa melakukannya jika sendiri seperti ini, hanya pekerjaan teman hidupku saat ini."

__ADS_1


"Jangan terlalu keras dengan hidupmu!" ujar Jonathan sebelum panggilan itu berakhir.


__ADS_2