Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Monster Kecil


__ADS_3

"Apa maksudmu dengan akan ada keributan. Aku harap kau tidak menghubungi nenekmu!" peringatan Roy.


"Tenang, Om. Tapi siapa mereka?" tanya Leon.


"Namaku Ayu Lestari, panggil saja Ayu," kata Ayu langsung maju. Dia terpesona oleh muka tampan Leon.


"Oh, Ayu. Hallo, namaku Leon," menunduk membalas uluran tangan Ayu.


Leon lalu melihat ke arah Bagus. "Om versi kecil tapi lebih kalem mungkin karena mirip Ibunya."


Sebuah jitakan mampir ke kepala Leon.


"Jaga bicaramu!"


"Well, itu kenyataannya Om," balas Leon.


"Hai, Bung, akhirnya aku punya teman pria di keluarga ini."


"Memang Aaric bukan pria?"


"Wah dia perusuh, bukan temanku," ujar Leon.


"Dia adikmu."


"Sayangnya itu kebenarannya. Nenek terlalu memanjakannya sehingga membuat anak itu cengeng dan manja."


"Siapa namamu?" kata Leon mengulurkan tangan pada Bagus.


"Namanya Bagus," jawab Ayu tersenyum malu tangannya tetap menggenggam tangan Roy.


"Nama yang indah, Ayu dan Bagus."


"Kalau Anda, apakah kakak dari Ayu dan Bagus. "


Sebuah pukulan kembali mendarat di lengan Leon.


"Aww! Sakit Om."


"Dia ibunya anak-anak."


"Itu tidak mungkin, dia terlihat seumuran denganku," Roy mendengus kesal. Sedangkan Hana tertawa lebar tanpa suara melihat wajah Roy yang memegang.


"Dia lebih tua dari umurmu," ujar Roy.


"Mungkin hanya terpaut satu atau dua tahun. Coba bawakan dia pakaian anak muda. Dia pasti masih terlihat seperti anak kuliahan," sahut Leon senang menggoda Om-nya. Selama ini dia tidak tersentuh selalu bersikap serius, baru kali ini Leon bisa mengerjai nya.


"Tapi tidak heran, Om ku itu sangat pelit sehingga tidak memberikanmu pakaian yang bagus. Kau lihat, dia tidak pernah ke salon karena takut hartanya akan berkurang untuk membayar tukang cukur," bisik Leon keras pada Hana.


"Kau benar. Aku juga tidak suka dengan rambut panjangnya."


"Kalau begitu denganku saja, aww!" kali ini telinga Leon yang dijewer menjauh dari Hana.


"Sebaiknya kau masuk sekarang jika tidak ingin mendapatkan pukulanku."

__ADS_1


Ayu dan Bagus tertawa geli melihat tingkah Leon dan Roy.


"Ayu, Bagus, ikut aku saja, Yuk. Ayah kalian ini sangat posesif pada ibunya."


Ayu dan Bagas saling menatap lalu melihat ke arah Roy yang menurunkan bahunya.


"Apakah aku salah bicara?"


***


"Jadi begitu ceritanya," ujar Leon. "Ternyata Om dan Ayah sama saja, nemu anak ketika sudah besar."


"Sialan!" ujar Roy duduk dengan lemas.


"Kapan Om akan menikahi Calon Bibiku itu? Jika tidak mau biar aku saja. Dia cantik lho Om, pasti banyak yang naksir."


"Kau mau kubunuh?"


"Jangan ngegas Om. Aku bilang kan kalau Om tidak mau menikah dengannya."


"Belum tahu ada beberapa masalah yang harus diselesaikan terlebih dahulu."


"Memang Om masih punya masalah? Kukira masalah Om itu hanya satu soal wanita saja. Sekarang kan sudah ada wanitanya kenapa tidak bisa langsung menikah."


"Aku pusing bila bicara dengan kau. Lama-lama kau itu mirip dengan ayahmu sama menyebalkannya."


"Aku adalah kloningnya jika Om lupa dengan hal itu," jawab Leon sambil memainkan handphonenya. Roy lalu melihat ke arah Leon dengan seksama.


"Kau jangan hubungi keluarga di Jerman."


"Dasar anak kurang ajar...." Ujar Roy mengambil kepala Leon dan menjitaknya berkali-kali.


"Aww! Sakit Om. Aku baru saja di sini beberapa hari sudah menemui tindakan kekerasan akan ku adukan pada Nenek."


"Kau mau mengadukan apa lagi Hah! Adry kecil. "


"Om, kenapa memukul Kak Leon," panggil Ayu yang baru masuk ke dalam ruang kerja Roy.


Roy terperangah. Dia lalu melepaskan Leon. Membenarkan ikat rambutnya.


"Kami hanya sedang berlatih gulat. Benar begitu Leon!" Roy memukul bahu anak itu.


"Kata Ibu, kapan kau akan mengajak kami makan?"


Roy melihat jam. Dia tidak sadar telah meninggalkan keluarga kecilnya di ruang tamu sendirian karena menjelaskan semua hal pada monster kecil Adry.


"Ayo kita makan. Kalian pasti sudah lapar." Roy mendekat ke arah Ayu dan membawanya keluar ruang kerja.


"Siapa yang memberitahu jika Om ada di sini?"


"Pelayan yang memberitahu," jawab Ayu.


"Rumah Om sangat besar. Aku sampai lelah berjalan mengelilinginya. Luasnya sama seperti satu komplek rumah kontrakan kami."

__ADS_1


"Kau suka?"


"Suka sekali."


"Mau tinggal di sini?" Mendengar tawaran Roy membuat Ayu menghentikan langkahnya. Dia melihat Roy dengan mata yang berbinar.


"Apa boleh?"


"Tentu saja. Tapi ada satu syaratnya."


"Apa itu?" Roy lalu bersimpuh menekuk satu kakinya ke belakang.


"Kau harus membujuk ibumu untuk menikah dengan Om."


"Hanya itu?"


"Ya."


"Beres. Lagipula aku suka jika punya Ayah seperti, Om," ujar Ayu membuat hati Roy mendesir senang dan terharu. Dia mengerjap matanya. Memeluk Ayu.


"Om juga senang mempunyai anak seperti kalian." Hatinya membuncah senang. Dia menekan kedua mata dengan tangan menghentikan buliran air mata yang ingin merangsek keluar.


"Walau kita sudah bertemu tetapi aku sudah sayang, Om."


"Aku juga menyayangimu lebih dari yang kau tahu."


Leon ikut tersentuh melihat kebersamaan Roy dan Ayu. Dia pernah merasakan di posisi itu dimana Adry datang dan menjadi Ayahnya secara tiba-tiba. Semua sudah terlewati. Masa kelam kini sudah menjadi riang.


Di ruang tamu, Hana nampak duduk sambil menekuk wajahnya. Sudah satu jam lebih dia menunggu Roy, tetapi pria itu meninggalkannya di sini untuk berbicara dengan Leon. Jika bisa dia ingin melarikan diri dari rumah ini, namun para penjaga berbadan besar sedang duduk-duduk di pos penjaga.


Bagus lebih suka melihat semua barang yang di pajang seperti lukisan dan patung. Dia mengamatinya dengan seksama.


"Maaf jika menunggu lama. Berbicara dengan Leon membutuhkan banyak kesabaran," terang Roy.


"Kami sudah biasa terlupakan jadi bukan suatu masalah besar."


"Aku tidak bermaksud melupakan hanya saja," perkataan Roy terpotong oleh Hana.


"Hanya tidak teringat lagi pula kami sudah terbiasa menunggu."


"Dan kelaparan," imbuh Ayu.


"Maaf, aku tidak bermaksud melakukan ini." Roy merasa tidak enak pada Hana. "Ayo kita makan. Kasihan anak-anak."


"Hmmm," ujar Hana. Leon yang melihat dari atas menahan tawanya. Akhirnya, Omnya yang dingin punya lawan yang sepadan.


"Bagus, Ayu, kita ke ruang makan."


"Aku sudah melihatnya tadi. Ayo Kak, ikut denganku." Ayu menarik tangan Kakaknya pergi ke ruang makan.


Sedangkan, Roy meraih tangan Hana dan menariknya. Hana menatap ke arah tangannya dan berjalan mengikuti Roy. Roy melihat ke belakang dan tersenyum.


"Jika kau percaya padaku semua akan baik-baik saja. Percaya jika aku tidak akan menyakitimu tetapi akan menjagamu."

__ADS_1


"Pak Roy," Hana menghentikan langkahnya.


"Panggil aku Roy saja karena aku akan jadi suamimu. Sekarang biasakan dirimu dengan kehadiranku."


__ADS_2