
Adry lalu menyerahkan gelasnya yang masih penuh pada Roy. Terakhir dia mabuk Raina tidak mau diciumnya. Dia berkata tentang haram dan surga serta neraka. Dia tidak terlalu memperdulikan apa itu tetapi Raina mau didekati ketika Adry sudah mengganti piyama serta membersihkan diri agar bau alkohol itu menghilang. Bodohnya dia menuruti semua yang Raina inginkan. Cinta itu memang diluar nalar logika.
Adry lalu membuka ponselnya dan galeri foto melihat foto kebersamaan dia dan Leon ketika bersama Raina, semua senyum dan tawa itu terlihat natural. Lalu ketika dia dan Leon bersama dengan Nita, terkadang dia meminta Leon untuk tersenyum ketika di foto.
"Kukira Anda harus memfokuskan apa yang Anda inginkan. Anda ingin Nyonya Nita atau Nyonya Raina atau Anda ingin Leon saja. Ketika fokus telah didapat maka Anda akan mendapatkan jalan untuk meraihnya jika pikiran Anda bercabang yang ada Anda malah bingung dan kehilangan semuanya," nasihat Roy.
"Kau benar, jika aku memilih Raina aku akan mendapatkan Leon?"
"Belum tentu Tuan. Ada banyak rintangan contohnya orang tua Tuan dan Nita."
"Orang tuaku akan menyetujui apa yang kuinginkan."
"Anda bisa menanyakan hal ini pada mereka."
Adry menarik nafasnya panjang. "Sebaiknya aku pergi dulu menemui mereka atau langsung langsung membawa serta dua istri dan anakku?" tanya Adry ragu.
"Temui mereka dengan turut serta membawa dua istri Anda dan Leon kita akan lihat tanggapan mereka."
"Kau benar, nilai Nita atau Raina di mataku sama."
"Jangan salah memilih karena bisa-bisa orang tua Anda akan marah, Anda tahu sendiri bagaimana watak Nyonya Janet."
"Kau jangan membuatku tambah pusing?"
"Aku hanya ingin memberikan pengertian pada Anda tentang baik buruknya keputusan yang akan Anda ambil. Tetapi semua keputusan ada di tangan Anda."
"Kalau begitu aku akan menghubungi ayahku untuk memintanya melakukan makan malam bersama."
"Itu lebih baik."
"Aku memintamu untuk mendandani Raina total habis dan membuat Leon sekeren mungkin. Mereka harus terlihat luar biasa. Aku tidak ingin ibuku menemukan celah untuk menghina mereka." Jelas Adry.
"Baik, Tuan."
"Jangan sampai Nita tahu soal ini. Kau bawa saja langsung Raina ke tempat biasanya ibu berhias."
Roy menganggukkan kepalanya.
"Hmm, aku akan memesan satu set perhiasan untuk Raina. Kau bisa menyerahkannya."
"Kenapa tidak Anda sendiri?"
__ADS_1
"Aku akan tidur di kantor saja," ucap Adry membuat Roy membuka mulutnya sehingga berbentuk 'O'.
"Anda punya dua istri dan malah memilih tidur di kantor ini sendiri?"
"Kau bisa menemaniku," jawab Adry santai.
Roy menghela nafasnya. Dia tidak akan istirahat jika malah ikut tidur di kantor.
"Aku hanya tidak ingin melukai salah satu istriku jika aku tidur di kamar istri yang lain. Jadi lebih baik sendiri dulu biar mereka berpikir apa yang terbaik bagi kita semua. Aku hanya akan menemui mereka di rumah orangtuaku."
"Ternyata sulit menjadi suami dengan dua istri," gumam Roy.
"Aku juga tidak tahu mengapa semuanya jadi seperti ini. Aku hanya bersyukur jika aku sudah punya seorang anak, Leon."
"Anda benar," kata Roy.
"Kau itu kubayar bukan untuk mengobrol kerjakan semua tugas dariku tentang perjanjian kita dengan pemerintah negara Qatar. Minta dispensasi penurunan pajak untuk negara mereka."
Roy menghela nafasnya. Itulah nasib karyawan selalu dicari kesalahannya padahal Tuannya yang mengajak ngobrol bukan dia.
Roy lalu meminta ijin Tuannya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang seabrek. Dia adalah satu-satunya asisten kepercayaan Adry. Roy sendiri membawahi Lima orang asisten lain untuk membantu pekerjaannya. Oleh karena, pekerjaannya bukan hanya soal urusan kantor saja namun urusan pribadi bosnya juga ikut dia kerjakan.
"Hallo, Yah!" sapa Adry sopan.
"Akhirnya kau menelfon juga. Aku kira kau sudah menganggap aku dan ibumu mati sehingga tidak pernah menghubungi kami apalagi pergi ke rumah orang tuamu!"
"Yah, kau tahu aku punya banyak kerjaan!"
"Pekerjaan apa yang membuat kau lalai dari tugasmu merawat orang tua jompo seperti kami dan memberikan kami cucu?" sindir Tuan Carl, ayah dari Adry.
"Yah, kau tahu jika ...."
"Jika Nita mandul? Aku sudah tahu lama mati saja yang tertutup."
"Dia tidak mandul, Yah. Hanya saja!"
"Hanya saja indung telurnya buruk apalagi nama lainnya ya mandul andai kata punya anak pun akan cacat."
"Dari mana Ayah tahu soal itu?" tanya Adry heran.
"Tidak usah kau tanyakan darimana Ayah tahu soal itu. Itu urusan ibumu, ayah hanya mendapat informasi dari dirinya."
__ADS_1
"Ayah, aku... ."
"Datanglah ke rumah, kita bicarakan ini baik-baik. Sebagai orang tua kami ingin yang terbaik untukmu," ujar Carl.
"Untuk itu aku ingin bertemu dengan Ayah, aku ingin membawa keluargaku."
"Keluargamu ya Nita," ujar Carl. Terdengar suara batuk dari seberang sana.
"Ayah sakit?"
"Apakah kau peduli jika Ayah sakit atau mati, kau hanya akan peduli soal warisan saja!" ungkap Carl kejam. Adry hanya bisa menghela nafas. Ayahnya ini suka asal ceplas-ceplos kalau berbicara.
"Tentu saja kau peduli karena kau Ayahku," ujar Adry.
"Jika kau peduli mengapa kau baru hubungi aku sekarang padahal kau sudah datang di negara ini satu bulan yang lalu."
"Ayah sudah kukatakan ...."
"Sudahlah datang saja ke rumah, Janeta Sayang, pasti akan suka jika kau melihat keadaannya."
"Aku juga merindukannya," kata Adry.
"Semenjak kau bersama si Nita kau jarang peduli pada kami." Adry hanya tersenyum sinis. Dia selalu merasa salah jika berhadapan dengan Ayahnya. Pria itu selalu mencari celah agar bisa memarahinya dari dulu walau tidak pakai kekerasan.
"Nita itu menantu yang baik Yah," ucap Adry.
"Ya, dia menantu yang baik tetapi aku butuh pewaris karena uhuk ... uhuk ... " Carl terbatuk lagi.
"Kukira kau harus pensiun Dad, agar tidak terlalu lelah."
"Aku akan pensiun jika kau memberikan aku pewaris. Kenapa? Karena masanya aku habiskan waktu bersama cucuku dan menikmati jerih payahku selama puluhan tahun. Soal pekerjaan akan kuberikan semuanya padamu nanti karena kau putra tunggalku."
Adry terdiam tidak bisa mengatakan apapun. Ayahnya bisa mati jantungan jika dia mengabarkannya lewat telepon tetapi dia sendiri curiga ayahnya sudah tahu tentang Leon.
"Apakah Ayah sudah pergi berobat?"
"Tanpa aku periksa jika aku terbatuk Ibumu pasti akan langsung memanggil Chin. Si Dokter sialan itu telah memberiku banyak pil agar aku tetap terlihat tampan dan gagah di depan karyawanku, walau aku membenci obat itu!"
"Aku akan sehat jika kau bawa calon pewaris ke rumah tidak ada koma. Titik." Terdengar suara panggilan di tutup. Adry menaikkan kedua alisnya yang lebat dan tebal itu ke atas.
"Fix Ayah sudah tahu semuanya."
__ADS_1