
Roy sengaja pulang lebih awal karena cincin yang dia pesan sudah datang namun Hana belum juga kembali. Lagipula entah mengapa perasaannya merasa tidak tenang seperti ada yang salah atau kurang namun apa itu dia tidak tahu. Rasa gelisah yang mengganggu aktivitasnya disertai dengan dadanya yang berdegub kencang tidak menentu.
Sesampainya di rumah, Ayu dan Bagus menyambutnya. Mereka pulang lebih awal karena ada beberapa pelajaran yang kosong. Guru mereka sedang ada rapat penting.
"Ayah... ada yang mencari Ayah dan ibu dari tadi," ucap Ayu memeluk Ayahnya.
"Ya, Ayah sudah tahu. Ibumu belum pulang juga?" tanya Roy.
"Belum." Roy masuk ke dalam rumah sambil menghubungi Hana. Namun, nomor wanita itu tidak aktif.
"Hana kau di mana?" rasa cemas segera menghampiri.
"Hyun kau hubungi orang yang mengawal Hana, tanya mereka ada di mana sekarang?"
"Baik, Pak." Hyun lalu keluar untuk menghubungi anak buahnya.
"Hallo, Tuan Roy, kami kesini membawa pesanan Anda, sepasang cincin pernikahan Anda dan calon Nyonya Quandt. "Ucap manager toko perhiasan.
Pria itu lantas membuka tas kerjanya dan mengeluarkan kotak indah berwarna putih dengan sentuhan emas di ukiran sekitar kotak itu.
Roy menerimanya dan membuka kotak itu, sebuah senyuman terbit di bibir Roy.
"Ini indah sekali Ayah," seru Ayu. Bagus ikut mendekat dan menatap cincin itu.
"Rancangannya hanya dibuat khusus untuk Anda. Sesuai yang Anda inginkan ini terbuat dari emas yang dicampur oleh darah Anda dan calon istri Anda."
"Silahkan Anda mencobanya, muat atau tidak."
__ADS_1
Roy sedang mengambil cincin itu ketika Hyun bergegas menghampiri Roy.
"Hyun coba lihat cincin ku ini indahkan?" tanya Roy tanpa melihat wajah Roy yang sudah pucat pasi.
"Pak saya punya berita penting untuk Anda."
"Apa yang lebih penting dari urusan pernikahanku."
Hyun memejamkan matanya, menarik nafas berat.
"Ada apa, Hyun!" Roy menatapnya dengan seksama.
"Pak dengar Anda harus tenang untuk saat ini."
"Pengasuh... pelayan...." Hyun memanggil para pelayan untuk datang.
"Ada apa Hyun, kau membuatku tegang."
Hyun masih diam dengan ekspresi tegang. Anak-anak yang bingung dengan apa yang terjadi lalu dibawa ke kamar mereka. Setelah melihat anak-anak masuk ke dalam lift Hyun baru menatap ke arah Roy.
"Katakan!"
"Sepertinya pernikahan Anda ditunda Pak."
"Kenapa Hyun! Kau jangan membuat prank."
"Aku tidak pernah melakukan itu, apalagi pada Anda, Pak." Roy bisa melihat wajah Roy yang serius.
__ADS_1
"Okey, katakan. Apakah ini tentang Hana?''
Hyun mengangguk. " Ada apa dengan dia?" Dada Roy sudah bergemuruh padahal dia belum mendengar berita apapun tetapi dari raut wajah Hyun dia bisa menebak jika telah terjadi sesuatu yang buruk pada Hana. Dia lalu berdiri menatap Hyun.
"Pak," suara Hyun terdengar merendah dan menegang. Dia mendekat ke sisi Roy dan memeluk tubuhnya. Pelukan Hyun membungkus seluruh tubuh Roy.
"Tidak!" ucap Roy keluar begitu saja, entah pikiran itu dari mana dan untuk apa, namun sebuah penyangkalan meledak dalam dirinya, dahsyat dan tidak masuk akal. 'Tidak.'
"Apa yang terjadi Tuan?" tanya pemilik perhiasan melihat pipi Hyun tiba-tiba basah.
Setetes titik terjatuh mengenai bahu Hyun.
"Sebaiknya kau duduk dulu, Pak."
Saat itulah dia tahu walau Hyun belum mengatakan apapun. Rasanya begitu aneh seolah Roy memandangi dirinya sendiri dari cermin besar yang menempel di tembok.
Roy memundurkan langkahnya. Masih memandangi cermin di depannya. Dia lalu menatap ke arah Hyun meminta penjelasan lebih.
"Nona Hana," Hyun menutup matanya dan menarik nafas hidungnya nampak mengembang dan memerah. Tidak tega untuk meneruskan perkataan yang hendak dia keluarkan.
"Kenapa dengan Hana." Roy menunggu jawaban Hyun seperti menunggu sebuah putusan hukuman mati dari seorang hakim.
Hyun menelan ludahnya dengan kasar.
"Mobil Nona Hana ditabrak lalu terjatuh di sungai Ciliwung," kata Hyun lalu menunduk menyeka air matanya. Dia tidak tahan melihat penderitaan majikannya untuk kesekian kali. Di saat kebahagiaan mulai datang malah datang masalah baru. Ini seperti suatu kutukan beruntun bahwa wanita yang mendekati Roy akan meninggal dunia.
Tubuh Roy terhuyung ke belakang dia memegang tangan kursi agar tidak jatuh ke lantai. Kakinya tiba-tiba seperti tidak bertulang, jatuh lemas ke sofa, terdiam. Jiwanya tiba-tiba terbang entah kemana. Cincin yang dia pegang tiba-tiba terjatuh dan menggelinding ke lantai hingga ke sudut ruangan. Manager toko perhiasannya lalu memungutnya sedangkan Hyun buru-buru mengambil segelas air minum untuk Tuannya.
__ADS_1