Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Rindu


__ADS_3

Adry benar-benar tidak mau menjawab apa yang Raina tanyakan dan dia malah bertanya balik masalah Roy dan ibunya. Raina tidak menjawabnya balik. Bukan tanpa sebab. Dia ingin Adry yang menemukan sendiri jawaban dari semua pertanyaannya.


"Percuma saja aku mengatakan semuanya padamu karena sampai kapanpun kau tidak akan mempercayaiku. Aku pasrah dengan semuanya dan aku tidak peduli apa pendapatku tentangku. Walaupun permasalahan itu terbuka lagi hanya akan membuat luka lama dan akan membuat luka baru. Kau tahu aku tidak cukup kuat untuk terluka kembali."


"Aku sendiri belum percaya padamu seratus persen. Apakah kau mengatakan ini hanya agar aku percaya dan kau mau mengambil anak ini lagi lalu hidup bersama Nita. Breng ... sek kau Adry jika sampai kau melakukannya maka aku tidak akan segan-segan untuk membunuh kalian semua," ucap Raina bersungguh-sungguh.


"Dari mana kau punya pikiran seperti itu. Aku tidak pernah punya niat sedikitpun untuk memisahkan mu dengan Leon." Adry mengerutkan dahinya.


"Pada kenyataannya seperti itu. Itu yang kalian rencanakan, kalian bermain sandiwara dengan sangat apik untuk .... " Raina kembali menangis mengingat apa yang terjadi beberapa bulan yang lalu. "Kalian sangat jahat!" ucapnya.


Perut Raina menjadi kencang seketika. Dia memeganginya.


"Akh!" teriak Raina membuat Adry terkejut.


"Ada apa Sayang?" tanya Adry khawatir.


"Ini sakit," ucapnya. Adry seketika menggendong Raina keluar dari apartemen menuju ke parkiran. Dia lalu membawa Raina ke rumah sakit terdekat yang letaknya tidak jauh dari kompleks tempat tinggalnya.


Satu jam kemudian dokter yang memeriksa Raina duduk di depannya.

__ADS_1


"Pasien mengalami kontraksi palsu. Ini sering ditemukan pada ibu dengan kehamilan besar. Biasanya terjadi akibat dari kelelahan atau pula pikiran yang tegang. Sebisa mungkin Anda harus selalu membuatnya tenang dan nyaman."


"Apakah perlu diambil tindakan medis Dok?" Adry nampak sangat cemas melihat keadaan Raina yang pucat.


"Tidak perlu. Masa kehamilannya hampir mencapai delapan bulan. Kalian bisa melakukan operasi sesar jika tekanan darah pasien turun."


"Tidak, aku mau melahirkan normal saja," ucap Raina duduk di pembaringan.


"Ya, sudah kalian bisa pulang dan jika ada masalah yang serius bisa kembali lagi kemari."


"Saranku jaga istri Anda baik-baik dan hindarkan dari stress yang berlebih," lanjut dokter itu.


Adry menganggukkan kepalanya. "Saya berjanji akan menjaganya dengan nyawa saya."


"Apakah ini anak pertama kalian?" tanya dokter itu.


"Tidak, kami sudah punya anak berumur sebelas tahun."


"Jarak yang cukup panjang. Saya kira ini akan pertama kalian. Ibunya masih terlihat sangat muda."

__ADS_1


Adry menatap Raina. "Dia melahirkan di usia masih muda."


"Kalau suaminya perhatian seperti ini maka istri seharusnya tidak stress berlebihan."


"Dia hanya khawatir menghadapi proses persalinannya nanti."


Raina lalu di suruh duduk di kursi roda oleh Adry dan dia mendorong keluar Raina dari ruangan itu.


"Kita tidak akan membicarakan masalah itu lagi sampai kau melahirkan," kata Adry sesampainya di rumah. Raina menghela nafas panjang. Pria itu seperti biasa mengambilkan sebaskom air hangat dan merendam kaki Raina sembari memijitnya pelan.


Raina hanya mengatupkan bibirnya rapat. Setelah itu, Adry mengelap kaki Raina dan mengangkatnya naik ke tempat tidur. Dia menyelimuti Raina hingga ke dadanya. Dia lalu membuang air itu ke kamar mandi dan kembali di samping Raina.


"Bolehkah aku menemanimu tidur kali ini saja? Aku sangat khawatir dengan keadaanmu," pintanya.


"Jika kau keberatan aku tidur satu ranjang denganmu. Aku bisa tidur di sofa."


Raina menatap sendu pada Adry. Dia lalu menganggukkan kepalanya.


"Tidur saja disini. Di sofa tidak akan nyaman."

__ADS_1


Adry lalu naik ke atas tempat tidur sehingga kasur bergerak. Raina berbaring miring memunggunginya. Tangannya memegang kain seprai dengan erat. Matanya berkaca-kaca menahan tangis. Dia satu sisi dia ingin membuat benteng yang tinggi antara dia dan Adry. Di sisi lain layaknya wanita hamil lainnya dia ingin dimanja dan dipeluk oleh suaminya.


Dengan gerakan ragu, Adry memeluk Raina dari belakang. Mengusap perut dan mencium aroma wanita itu dari dekat. Dia sangat merindukannya. Mereka terdiam tetapi sentuhan mereka menyiratkan kerinduan yang sangat.


__ADS_2