Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Resiko


__ADS_3

"Raina."


Adry berlutut untuk bisa meraih tubuh Raina sehingga wanita jatuh di salah satu lengannya. Adry berjongkok karena sebagian tubuh Raina sudah di lantai.


Tubuh wanita itu menegang dan kejang. Keluar busa dari dua bibirnya dan rahang Raina mengetat. Kelopak matanya yang tertutup terlihat bergerak. Adry langsung mengambil handphone di saku bajunya. Dengan gerakan gemetar dia menelfon ambulans dari rumah sakit terdekat.


"Aku butuh ambulans, istriku hamil dan kejang-kejang. Apartemen xxxx, kamar 414," ucap Adry singkat. Hati dan pikirannya ingin berteriak saat mencoba untuk bersikap tenang. Operator mulai mengajukan beberapa pertanyaan dan memberi instruksi, Adry menjawabnya singkat sembari memeriksa keadaan Raina.


Tidak lama kemudian tubuh Raina melemas dan kepalanya tergolek ke samping. Adry melebarkan matanya, wajahnya pucat seketika rasa takut kehilangan Raina menghujam dalam dirinya.


"Tidak... kau harus tetap hidup, kau telah berjanji padaku untuk tidak akan pergi dariku lagi," ucap Adry dengan tangan gemetar dia mencari denyut nadi Raina berusaha untuk menemukannya. Dia tidak menemukannya. Lalu meletakkan kepala di dada wanita itu, berusaha untuk mendengar suara helaan nafas atau detak jantungnya.


"Jangan tinggalkan aku, Raina, bertahanlah, aku sangat mencintaimu," bisik Adry putus asa.


Adry lalu mengambil tangan Raina dan menekan tangan wanita itu di pipi. Lalu mencium Raina sambil menarik nafas tidak beraturan, menangis tanpa suara. Dia tidak pernah ketakutan seperti ini dalam hidupnya.


Waktu terasa lama menunggu ambulance datang untuk menolong istrinya, Raina masih tidak sadarkan diri dan tubuhnya semakin kaku. Kepanikan dan ketidakberdayaan Adry semakin terlihat.


Penantian dirasanya semakin tidak berujung hingga ada suara seseorang yang memanggilnya.


"Di sini!"


Mereka masuk dan menyuruhnya mundur ketika mereka mengurus Raina. Adry melihatnya dengan mati rasa, dia berdiri menatap Raina yang diangkat ke tandu dan dibawa masuk ke lift.


Adry mengikutinya sembari mengumamkan doa. Ambulance menunggu mereka di depan pintu lobby, Raina dimasukkan ke dalam ambulance dan Adry ikut masuk ke dalamnya.


Ketika mereka dalam perjalanan ke rumah sakit, dia mengeluarkan handphone. Menatap benda pipih itu tetapi kemudian terdiam. Siapa yang akan dia telepon? Kemarahan mencekam dalam batinnya. Tidak ada yang dia bisa percaya dan dia mintai tolong untuk sekedar memberi dukungan dalam situasi seperti ini.


Adry berdiri di depan ruangan rumah sakit tatkala dokter menjelaskan kondisi Raina dalam keadaan serius. Mereka telah memberikannya obat anti kejang, obat penurun tekanan darah, injeksi steroid. Mereka akan melihat ke depan, jika tubuh Raina tidak bereaksi terhadap obat-obatan itu maka harus dilakukan operasi sesar.

__ADS_1


"Dan risiko terhadap bayinya?" tanya Adry.


"Kita tidak bisa membahayakan nyawa keduanya, di sini kita tidak punya pilihan. Keduanya bisa tewas jika tidak segera dilakukan tindakan dengan cepat." Dokter itu melihat Adry dengan penuh simpati.


Mendengar kata tewas membuat dada Adry nyeri, dia menggelengkan kepalanya. Berharap semua itu tidak terjadi. Dia harus bisa menyemangati diri sendiri sekarang. Menjaga ketenangan dan kewarasan.


"Cara satu-satunya untuk menghentikan eklampsia adalah dengan melahirkan bayinya. Kami telah melakukan tes usia kandungan pasien dan usia kehamilan 34 Minggu, bagus untuk melahirkan bayinya."


Adry meremas rambutnya sendiri dan memejamkan matanya. Dia menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi pada Raina.


Seharusnya ketika wanita itu hamil, dia memanjakannya dan membuat dia merasa dicintai. Namun tidak, alih-alih mendapatkan semua itu, Raina malah harus bekerja keras dibawah tekanan psikisnya.


Ketika Adry menemukannya, dan merawatnya. Ariana malah mendapat cemoohan, hinaan, kebencian, serta harus merasakan emosi dan kesedihan yang tidak berkesudahan.


"Apakah Raina akan baik-baik saja dan apakah dia akan bisa pulih seperti semula? Pertanyaan itu terasa menghimpit dadanya membuat Adry tidak bisa bernafas dan merasa sesak. Dia menghembuskan nafas pelan, sembari merenggangkan tangan untuk meredakan emosinya.


"Apakah saya bisa melihat kondisinya dokter?"


"Silahkan tetapi jangan sampai Anda mengatakan hal-hal yang membuat dia gelisah atau sedih. Anda harus membuatnya tetap tenang."


Adry mengangguk dan berbalik menuju kamar Raina. Dia hendak memutar handle pintu tetapi diurungkannya. Keningnya diletakkan di pintu. Dia menegakkan tubuhnya dan mengambil nafas lalu membuka pintu dan masuk.


Adry dengan hati-hati mendekat tidak ingin mengganggu atau membuat Raina sedih. Dia melangkah mendekat ke sebelah Raina dan melihat wajah pucat wanita itu. Mata Raina terpejam tetapi alisnya berkerut. Apakah Raina sedang sakit atau sedih? Adry tidak tahu.


Dengan ragu Adry menyelipkan tangannya di bawah tangan Raina yang terpasang infus. Dia menggenggamnya. Dia mengangkat tangan itu dan menciumnya.


"Maafkan, aku Raina," ucapnya penuh penyesalan yang mendalam.


"Aku sangat menyesal," suaranya terdengar parau.

__ADS_1


***


"Kak... Kak ...," panggil Roy menyentuh bahu Adry.


Panggilan itu membuat Adry terbangun, dia menggerakkan kepala dan mengerang tatkala rasa pegal menyerang leher dan bahunya. Dia membuka matanya dan melihat sinar matahari masuk menerangi ruangan Raina. Dia menyesuaikan pandangannya dengan cahaya yang ada. Menegakkan kepala dan mencoba melihat siapa yang datang. Roy. Dari mana dia tahu jika Raina sakit?


Adry lalu menatap ke arah Raina yang masih memejamkan matanya. Botol infusnya sepertinya sudah diganti karena tadi malam dia melihat tinggal sedikit.


Adry lalu menoleh, sembari memijat lehernya yang kaku.


"Apa yang terjadi?" tanya Roy.


Adry takut pembicaraan mereka akan mengganggu Raina jadi dia memberi isyarat agar mereka berbicara di depan saja.


"Bagaimana kau bisa disini?" tanya Roy.


"Semalam sungguh tegang, aku menelfonmu untuk memastikan keadaan Raina baik-baik saja tetapi tidak kau angkat. Lalu aku ke apartemen dan penjaga mengatakan jika kau dan Raina berada di rumah sakit."


Adry memejamkan matanya, tenggorokannya terasa kering. Di kejauhan dia melihat Jonathan datang dengan membawa se plastik tas besar.


"Kau menghubunginya juga?" ujar Adry sedikit senang dan banyak kesal. Roy menganggukkan kepala.


"Kau sudah bangun, bagaimana keadaan Raina?" tanya Jonathan ketika berdiri di dekat Adry. Dia menyerahkan sebotol air mineral. Kebetulan tenggorokan Adry sangat kering karena sejak semalam, dia lalu meraihnya.


"Duduk dulu," kata Roy mengajak Adry ke kursi dari besi.


Adry membuka penutup botol dan meminum air itu hingga habis separuh. Dia menyeka mulutnya yang basah bekas air minum yang sedikit tumpah.


"Bagaimana keadaan Raina?" tanya Jonatan penuh rasa ingin tahu. Adry menundukkan wajahnya dengan sedih seolah beban berat berada di atas punggung pria itu.

__ADS_1


__ADS_2