Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Roy


__ADS_3

Raina dan Adry akhirnya menginap di salah satu hotel yang paling dekat dengan rumah sakit. Mereka berdua ingin menjaga Roy bersama-sama.


Banyak yang sudah Roy lakukan untuk Adry, pria itu sadar akan hal itu. Namun, ada hal yang tidak dia mengerti tentang dialog ibunya dan Roy sebelum dia tidak sadarkan diri.


Adry bersandar di jendela hotel yang sengaja dia buka. Menghembuskan asap yang berwarna putih dari kedua bibirnya yang seksi dan tebal itu. Pandangan mata kosong ke depan. Tubuhnya memang berada di sini namun pikirannya melayang entah kemana.


Raina yang telah menidurkan Regina lalu berjalan mendekati suaminya. Melingkarkan kedua tangannya dari belakang ke dada pria itu, meletakkan pipi di punggung pria itu. Menghirup wangi yang terpancar, yang selalu bisa menenangkan hati dan urat syarafnya yang tegang.


Adry lalu menoleh ke belakang satu tangannya mengusap lembut rambut Raina. "Kau baik-baik saja?"


"Aku malah lebih mengkhawatirkan dirimu dari pada diriku." Raina lalu melangkah ke depan suaminya.


"Aku baik-baik saja," ujar Adry menyembunyikan rasa sakit di hati. Tidak ada seorang anak pun yang akan tega menyakiti orang tuanya sendiri kecuali orang gila dan psikopat. Dia masuk ke dalamnya karena melakukan hal itu.


Tidak ada seorang kepala keluarga yang rela rumah tangganya mencoba dihancurkan oleh seseorang. Mereka akan berusaha untuk membuat keluarganya tetap utuh dan bahagia. Jika tidak dia adalah orang bodoh.


Tidak ada kakak yang rela adiknya dilukai. Kecuali dia tidak punya hati. Walau Roy bukan adik kandungnya tetapi dia sangat menyayangi Roy. Dia sangat marah karena ibunya selalu membuat Roy terluka dan menderita sendiri.


Tadinya Adry tidak tahu jika Nita dan Roy sebelumnya punya hubungan dekat. Namun, Nita telah mengiriminya sebuah surat tentang perasaannya selama menikah dengan Adry. Dia melakukan itu agar hatinya merasa tenang sebelum menghembuskan nafas terakhir. Selain itu, dia meminta maaf atas semua yang telah dia lakukan kepadanya dan Raina.


Hal yang membuat Adry terkejut adalah ternyata Roy dan Nita sama-sama masih memendam cinta walau mereka telah terpisah selama belasan tahun. Nita juga bersumpah jika dia tidak pernah berselingkuh dengan Roy ketika menikah dengannya. Dia harap setelah semua pengakuan ini dia akan meninggal dengan tenang.


Pernyataan Nita membuat hati Adry sesak. Dia tidak marah pada mereka berdua karena saling mencintai. Dia marah pada dirinya sendiri yang begitu tega merebut kekasih adiknya walau dia tidak sengaja melakukan hal itu karena tidak tahu. Andai saja dia tahu, dia tidak akan melakukannya dan dengan rela menyerahkan Nita pada Roy.


Di saat itu, dia membayangkan bagaimana hancur dan tersiksanya perasaan Roy selama bertahun-tahun melihat kebersamaannya dengan Nita.

__ADS_1


Setelah tahu hal ini, Adry berjanji akan membayar semua pengorbanan Roy. Dia akan melakukan apapun agar pria itu bisa bahagia. Namun, Roy yang sederhana tidak menginginkan apapun. Dia hanya ingin hidup tenang dekat dengan Adry. Ingin merasakan mempunyai keluarga yang hangat dan menerimanya dengan sepenuh hati.


Kini setelah apa yang Roy lakukan malah ibunya ingin membunuh anak malang itu. Rasa marah dan tidak terima membuat Adry melepaskan tembakan ke arah ibunya. Dia sengaja memilih perut karena tidak terlalu bahaya. Namun, Tuhan berkata lain. Ibunya yang menderita hipertensi mengalami komplikasi dan mereka menunggu apa yang akan terjadi pada tubuh ibunya. Apakah komplikasi itu akan mempengaruhi organ tubuh lainnya. Adry peduli tetapi rasa sakitnya membuat dia menyingkirkan bayangan tentang ibunya.


"Ayah akan datang besok bersama dengan Leon," ujar Adry.


"Leon?" Mata Raina berkaca-kaca. Anak yang selama ini dia rindukan akhirnya bisa dia lihat kembali.


"Ya, kita bisa menemuinya besok."


"Sungguh?" tanya Raina yang merasa jika kabar ini hanya mimpi belaka.


"Apakah aku pernah berbohong padamu?" tanya Adry. Raina menggelengkan kepala.


"Tapi bagaimana dengan Ayahmu? Apakah dia akan mau melihat diriku?" tanya Raina ragu.


"Bagaimana jika tidak?" tanya Raina ragu.


"Berpikirlah yang positif terlebih dahulu."


"Aku hanya tidak cukup muka untuk menemuinya."


"Lalu dimana wajahmu itu?" tanya Adry tersenyum mencoba mengalihkan pembicaraan ini.


"Ish ...kau itu," ucap Raina kesal.

__ADS_1


"Kalau begitu letakkan wajahmu di dadaku karena aku akan menjaganya setiap saat." Adry lalu menarik tubuh kecil Raina dalam pelukannya.


"Kali ini aku percaya kau akan melakukannya," ujar Raina. Dulu dia takut untuk mempercayai suaminya.


"Terima kasih kalau begitu. Aku akan berusaha untuk tidak membuatmu kecewa lagi." Mereka terdiam dalam kegelapan malam hanya sinar bulan saja yang masuk melalui jendela kamar itu. Angin menerpa tubuh mereka berdua tetapi tidak dipedulikan oleh keduanya yang sedang larut dalam pikirannya.


"Sayang, apakah yang akan kita lakukan jika Ibu siuman?" tanya Raina takut-takut.


"Aku tidak memikirkan tentang Ibu. Pikiranku kini terfokus pada Roy dan kedatangan Leon, besok." Adry memalingkan wajah ke arah lain.


"Bisakah kita tidak membicarakan dia!"


"Maaf, aku kira kau sedih karena orang yang paling berarti bagi hidupmu terbaring lemah di rumah sakit."


"Jika Roy memang tetapi jika Ibu, tidak. Aku bahkan malu mengakuinya sebagai Ibu. Bagaimana bisa dia melakukan hal keji itu pada Roy. Apa salahnya sehingga harus mendapatkan ujian seberat ini?"


"Aku hanya takut jika Tuhan berpikir Roy akan lebih baik hidup bersama-Nya karena ketika hidup dengan kita yang ada anak itu hanya mendapatkan kesedihan sedari kecil."


"Roy kecil diberikan oleh keluarganya untuk dirawat oleh Ayah. Keluarganya lalu dibantu oleh Ayah untuk menyelesaikan hutang yang membuat mereka pailit. Setelah itu, Roy berusaha keras agar bisa membalas apa yang telah Ayah berikan. Dia melakukan apa saja yang Ayah dan Ibu perintahkan tanpa pernah menolak atau mengeluh. Aku juga sering bersikap sok sebagai atasannya. Tidak merasa bahwa Roy adalah seorang adik. Bagiku dulu, Roy hanya anak yang dipungut Ayah untuk membantu pekerjaanku. Jahat memang tetapi seiring waktu berjalan ketika kami sudah saling mengenal dengan baik. Aku mulai menyayanginya."


"Roy lebih hebat dariku dalam memahami keinginan Ayah dan ibu. Sedangkan, aku tidak pernah dekat dengan mereka hanya selalu menyelesaikan urusanku saja dan menjadi yang terbaik dalam semua bidang yang ku pegang. Boleh dikata aku adalah anak kebanggaan mereka dan Roy adalah anak yang mereka butuhkan setiap saat."


"Kau tahu, Ibu menembak Roy karena apa?" Raina menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin menyudutkan Adry dengan semua pertanyaan yang memenuhi otak depannya.


"Karena Ibu sangat membencinya, dia bahkan mengatakan jika Roy adalah anak ******."

__ADS_1


Raina menutup mulutnya, berharap apa yang dia pikirkan tidak benar. Jika itu benar, maka ada skandal besar dalam keluarga Quandt yang disimpan rapat selama ini.


__ADS_2