Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Bertemu dengan Adik


__ADS_3

Roy memutuskan pergi ke mall untuk memotong rambut sekaligus berbelanja dengan Hana. Dia ingin berjalan-jalan berdua dengan wanita itu dan memanjakannya. Dia memang membelikan semua barang untuk Hana tetapi Hana tidak pernah mengatakan ingin membeli sesuatu yang dia suka.


Mereka lalu berada di sebuah mall. Tangan Roy dengan posesif memegang pinggang Hana. Sepertinya takut jika wanita itu jauh darinya.


Semua orang yang berpapasan dengan mereka pasti melihatnya. Bukan karena Hana terlihat istimewa tetapi pria yang disebelahnya memng kelihatan maskulin, manly dan menakjubkan karena membawa lima orang bodyguard yang mengelilingi mereka. Dia merasa menjadi orang penting yang diberi jalan ketika akan melangkah melewati kerumunan manusia.


Mereka masuk ke dalam salon kecantikan terbesar di mall itu.


"Tolong rubah penampilan istriku total!"


"Wow, dia istri Tuan?" ujar pria gemulai pemilik salon. Hana terkejut karena Roy langsung mengenalkannya sebagai istri padahal mereka belum menikah.


"Apa ada yang salah?"


"Tidak, hanya saja, aku baru melihat jika baru ada wanita yang bisa meruntuhkan hati seorang Roy Quandt yang dingin dan tidak tersentuh."


Roy menatap tajam pemilik salon itu. "Hai Nona, siapa namamu?"


"Hana," jawab Hana malu-malu.


"Tunggu, sepertinya aku pernah melihatmu, wajahmu tidak asing. Kau mungkin pernah jadi pelangganku."


"Tidak, aku tidak pernah ke sini."


"Masa sih, apa aku yang salah lihat. Namun, sepertinya tidak."


"Kau mungkin melihat wanita lainnya, Susi, " sela Roy.


"Mungkin saja. Mari sini Sist, mau potong dengan model apa?"


"Tunggu, aku mau dia dulu yang dipotong rambutnya."


"Kami sudah tahu potongan apa yang Tuan Roy inginkan."


"Kali ini potong dia pendek, seperti pria kantoran pada umumnya," pinta Hana membuat Susi terhenyak. Dia menatap ke arah Roy.


"Aku pikir salah lihat Tuan karena tidak pakai jambang ternyata benar Tuan. Ternyata perubahan besar itu karena dia... hebat!" Susu bertepuk tangan. Roy menyipitkan matanya, membuat Susi terdiam.


"Jadi akan dipotong seperti apa, Tuan Roy?" tanya Susi menyerahkan buku berisi model rambut pria dari yang terbaru hingga yang sering pelanggan minta.

__ADS_1


Hana mulai memilihkannya. Dia lalu duduk di sebelah Roy melihat hair stylist memainkan gunting dan alat cukurnya. Roy menutup mata ketika rambut yang dia panjangkan selama ini tiba-tiba di potong pendek.


"Aku ingin sedikit panjang di sisi depannya dan tipis di bagian belakang. Pria akan kelihatan segar jika rambutnya diberi gel dan dibentuk," ucap Hana.


"Lakukan yang dia minta," perintah Roy pada hair stylist.


"Kau sendiri ingin potongan seperti apa, Nyonya?"


Hana lalu melirik ke arah Susi dari pantulan cermin.


"Aku hanya ingin dirapikan rambutku sesuai dengan bentuk wajah lalu dibuat terlihat mengembang."


"Hanya itu?" tanya Susi mulai melepaskan ikat rambut Hana.


"Ya."


"Ish, siapa yang memotong rambut Anda Nyonya?"


"Aku sendiri," jawab Hana tenang.


"Sendiri?" ucap lemah Susi tidak percaya dan miris sambil sedikit meringis. Pantas saja jika potongan nya tidak teratur dan nampak berantakan.


"Tidak, hanya saja jika semua orang memotong rambut mereka sendiri makan tidak akan ada tukang cukur lagi," gurau Susi mengatasi kekakuan suasana.


"Kau benar."


Susi mulai melakukan perawatan pada rambut Hana sebelum memotongnya. Selain itu ada dua orang yang melakukan pedicure pada Hana dan Roy. Mereka berdua menikmatinya sambil berbincang.


Roy selesai terlebih dahulu, sedangkan Hana masih harus di make up. Roy tidak henti-hentinya menatap Hana. Wanita itu nampak sangat berbeda ketika mengenakan riasan dan baju yang pantas. Tidak seperti Hana yang dia lihat ketika berada si rumah kontrakan kecil itu. Dia nampak kurus dan lusuh serta tidak segar.


"Jika seperti ini baru seperti Nyonya Quandt," ujar Susi.


"Memang yang kemarin tidak?" tanya Hana.


"Bukan tidak hanya tampilannya kurang cocok," ucap terus terang Susi.


"Aku suka dia apa adanya," kata Roy membela Hana.


"Ya, aku mengerti. Nyonya, anda memang cantik tetapi akan lebih terlihat indah jika kau memperhatikan penampilanmu."

__ADS_1


"Ck, kau itu banyak bicara. Sudah ku katakan aku suka dia adanya. Entah itu memakai riasan atau tidak aku tetap suka," bela Roy, menatap Hana dan menyentuh pipinya. Dia menyerahkan kartu kredit pada Susi untuk membayar semuanya.


Hana terharu mendengarnya. Roy sama sekali tidak pernah menuntut apapun darinya. Dia membebaskan Hana melakukan apapun dan berbuat apapun asalkan masih berada di sisinya.


"Ayo, kita pergi," ajak Roy.


Mereka lalu keluar dari salon itu. Di belakang Roy dan Hana, berdiri satu sosok wanita yang sedari tadi mengamati kebersamaan mereka.


Awalnya Hani ingin merubah penampilannya untuk datang ke salon ini tetapi dia mengurungkan niatnya ketika melihat Hana bersama dengan seorang lelaki yang pernah memberinya uang dulu.


"Hani, kau di sini rupanya. Aku mencarimu sedari tadi," ucap seorang pria dengan perut buncit nya.


Hani tersenyum lalu bergelayut manja pada pria itu.


"Kita jadi makan kan?" tanya pria buncit itu.


"Terserah Pak Firman saja," ucap Hani tersenyum cantik padahal di belakang pria itu Hani menghela nafas malas.


Roy mengajak Hana pergi ke toko perhiasan terlebih dahulu sebelum makan.


"Pilih saja mana yang kau suka."


"Untuk apa membelinya. Pemborosan. Yang ini saja baru sebulan kupakai," tunjuk Hana pada kalung di dada.


"Itu model lama Hana. Aku ingin membelikan yang baru untukmu."


"Tidak perlu. Aku tidak perlu apapun darimu."


"Kau tidak mau, tapi aku ingin membelikan untuk calon istriku sebagai hadiah pernikahan," bujuk Roy karena Hana selalu menolak semua yang dia berikan.


"Aku hanya minta kau mencintaiku saja," ucap Hana menatap lekat Roy.


"Aku mencintaimu makan dari itu aku ingin memberikanmu banyak hal. Kali ini aku ingin kau yang memilihnya. Lagipula semua ini nanti bisa disimpan untuk infestasi," bujuk Roy.


"Baiklah, jika kau memaksa," ucap Hana.


"Akun juga ingin memessn cincin perkawinan sekalian."


"

__ADS_1


__ADS_2