
Raina sedang sarapan dengan Leon ketika mendengar pintu apartemen di ketuk. Raina lantas menghentikan makannya dan berjalan menuju ke pintu utama.
Dia mulai membukanya dan di sana ada Roy yang sedang membawa paper bag.
"Selamat pagi!" sapa Roy.
"Nampaknya kau terlihat bersemangat daripada hari kemarin," ucap Roy.
"Ya, aku mendengar kabar baik jika Adry akan mengajakku bertemu dengan orang tuanya."
"Baguslah, hanya hati-hati," nasihat Roy.
"Tentu saja."
"Salah sedikit saja kau bisa kehilangan semuanya."
"Maksudmu?"
"Kau belum kenal keluarga Adry," ujar Roy dia menyeka rambutnya ikal yang berwarna hitam ke belakang. Roy adalah pria berkebangsaan Perancis tetapi mempunyai ibu orang Indonesia. Awal dia dipilih menjadi asisten Adry karena dia menguasai bahasa Indonesia sehingga memudahkan bosnya ketika bertemu dengan klien dari negara itu. Selain itu, kedekatan Adry muda dengan Nita membuat keinginan Adry untuk mempelajari bahasa itu semakin tinggi.
"Aku memang belum mengenalnya dan karakter mereka."
"Belajarlah untuk menjadi sempurna, karena bagi mereka menantu adalah wanita yang layak bersanding dengan Adry. Status, nama baik dan harta adalah hal yang mereka utamakan. Mereka tidak suka dengan Nita hanya karena wanita itu tidak punya anak tetapi jika melihatmu aku yakin, kau tidak akan mereka anggap." Roy melihat Raina dari bawah hingga ke atas.
"Jangan membuatku patah arang sebelum berperang," kata Raina mulai down dengan ucapan Roy.
" Aku perkenalkan medannya agar kau bisa bersiap-siap. Kau harus kuat dan percaya diri serta punya sesuatu yang akan membuat mereka bangga melihatmu. Terkadang sesuatu yang terlihat remeh itu berharga karena dia punya nilai plus. Jadilah seperti itu. Jika kau tidak kuat maka hubungi aku, aku akan membawamu pergi jauh dari Adry."
"Apakah kemungkinan aku masuk ke keluarga mereka sedikit?" tanya Raina tidak yakin.
"Untuk kau tidak ada tapi untuk Leon mereka pasti menerima dengan tangan terbuka. Kau tidak punya kuasa untuk menekan Adry karena dia hanyalah seorang anak. Jika Adry sendiri mungkin kau bisa diterima tapi dia sudah ada Nita dan kau pasti disingkirkan."
__ADS_1
Raina menutup mulutnya.
"Tuan dan Nyonya besar pasti sudah tahu keberadaan kau dan Leon, hanya menunggu bagaimana Adry menentukan sikap. Siapkan diri dan tunggu hingga waktu itu tiba!"
"Kau jangan bercanda?" tanya Raina.
"Kapan aku pernah bercanda, apakah wajahku terlihat seperti orang yang sedang bercanda?"
"Tidak! Tapi bisakah aku mempercayaimu?" ungkap Raina.
"Tidak sepenuhnya, karena aku hanya bawahan saja. Namun, aku bisa membantumu pergi dari Adry!"
"Apa kau punya tujuan tersendiri? Mengapa kau sangat ingin aku pergi dari hidup Adry?"
"Setiap manusia punya tujuan masing-masing dan aku tidak mengatakan kau harus pergi dari hidup Adry hanya saja jika kau sudah putus asa aku bisa membantumu."
"Kau pria misterius," ucap Raina.
Roy hanya tersenyum smirk sedikit dan nyaris tidak terlihat. "Aku misterius dan suamimu lebih misterius dibanding aku. Kau bahkan tidak akan bisa membaca apa kemauannya dan apa yang akan dia lakukan ke depannya. Wellcome to the jungle."
"Good, kita lihat seberapa tangguhnya dirimu. Cuma jangan terlalu berharap pada Adry jika tidak ingin kecewa."
"Ini sudah siang aku harus segera ke kantor jika tidak Pak Bos marah," ungkap Roy melihat jam yang melingkar di tangannya.
***
"Tuan," panggil Roy pada Adry yang sedang melamun padahal mereka sedang melakukan rapat dan salah satu peserta rapat sedang bertanya padanya.
"Tuan," panggil Roy sembari menyentuh tubuh Adry. Adry lalu terhenyak seketika. Semua peserta rapat menatapnya.
"Tuan Anderson sedang bertanya tentang masalah promosi sedan terbaru kita nantinya akan dilaksakan kapan?" tanya Roy.
__ADS_1
"Oh, kapan? nanti akan aku lihat jadwal yang pas," jawab Adry asal.
"Tuan Adryan Quant kita harus punya target," sela manager pemasaran itu.
"Aku yang menentukannya dan akan kupikirkan dengan matang terlebih dahulu. Rapat selesai," ucap Adry meninggalkan ruang rapat padahal permasalahan yang mereka bahas belum selesai.
Adry lalu berjalan saja tanpa mengindahkan krasak-krusuk yang terjadi dalam ruangan itu. Adry lalu membanting pintu ruangannya membuat Roy terkejut. Dia lalu membuka pintu itu dan ikut masuk ke dalam ruangan.
Roy melihat Adry sedang duduk santai di sebuah kursi sofa panjang menjulurkan kakinya dan kepalanya di sandarkan di sandaran kursi menghadap langit-langit.
"Aku pikir mempunyai anak adalah suatu keajaiban tetapi ternyata tidak semudah itu aku mendapatkannya walau aku ingin. Jika aku single akan lebih mudah hidup bersama Raina namun aku sudah punya istri yang setia dan aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja karena ada orang baru yang datang masuk ke dalam hidup kami, apakah itu adil untuk Nita?'' tanya Adry dengan tatapan mata yang kosong.
"Apakah karena ini Tuan tidak fokus dalam bekerja?" tanya Roy pergi ke lemari kaca dan mengambil minuman keras kesukaan Adry. Dia menuangkannya dalam sloki dan menyerahkannya pada Adry.
"Bagaimana aku bisa fokus jika bayangan Nita dan Raina silih berganti." Adry lalu duduk tegak menerima minuman itu dan menenggaknya. ( Okey othornya g ngajarin minum tetapi jika baca sampai selesai kalian akan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.)
Roy hanya diam saja tidak menanggapi ucapan Adry. Adry lalu menatap ke arahnya.
"Katakan padaku apa yang akan kulakukan?"
"Serahkan semua permasalahan pada orang tua Anda. Mereka orang yang bijak dalam mengambil keputusan. Contohnya, mereka tidak terlalu menyukai Nyonya muda tetapi mereka tidak melarang kau menikahinya. Mereka juga tidak turut serta andil dalam hubungan kalian. Hanya saja menuntut kau untuk memberikan keturunan."
"Nah, itu yang aku pikirkan. Aku sudah punya Leon sebagai keturunanku, jadi tidak penting lagi Raina hamil anakku atau tidak. Kami sudah punya anak." Wajah Adry tanpa sadar mengekspresikan kebahagiaan.
"Anda benar soal keturunan tidak perlu kita pikirkan hanya saja apakah Tuan dan Nyonya besar mau menerima Raina?"
"Itu yang membuatku ragu. Namun, aku yakin jika aku bisa membuat mereka mengerti."
Roy menganggukkan kepalanya. Dia lalu menuangkan lagi minuman ke gelas Adry.
"Apakah kau akan membuatku mabuk?"
__ADS_1
"Tidak hanya saja biasanya Anda akan menenggaknya ketika merasa tidak baik," ujar Roy. Adry menghela nafasnya. Dia kembali teringat pada Raina yang membuang semua minuman keras yang dia lihat.
"Pilih aku atau minuman itu, mana yang lebih memabukkan. Jika kau memilih itu, pergilah dari rumah ini karena aku tidak suka ada pemabuk di dekat Leon, itu akan membawa pengaruh buruk untuknya!"