
Adry menemani proses demi proses kelahiran anaknya. Dia lalu mengabadikan di camera yang di genggamnya.
"Kau akan baik-baik saja," kata Adry pada Raina yang terlihat tegang. Dia mulai melihat dokter menyayat perut Raina. Beberapa saat kemudian tangan dokter itu mulai masuk ke perut Raina. Adry meringis dan ngeri melihatnya tetapi hal menakjubkan terjadi Dokter itu mengangkat tubuh mungil dari dalam sana. Adry terpaku dengan pemandangan itu. Mulutnya terbuka namun tidak bisa mengucapkan apapun. Senyuman Adry merekah lebar.
"Lihat Raina anak kita sudah lahir," seru Adry Raina menaikkan kedua alisnya ke atas.
"Anaknya perempuan," kata Dokter itu.
"Aku bilang apa. Aku Ayahnya bisa merasakan jika anakku adalah perempuan." Adry lalu mencium dahi Raina dalam.
"Terima kasih karena telah memberikanku kehidupan baru yang membahagiakan."
Dokter itu lalu meletakkan anak di dada Raina untuk dilakukan inisiasi dini. Anak itu lalu mencari sumber kehidupan secara alami.
"Anaknya mirip denganmu," kata Raina memandangi wajah anaknya dengan gembira melupakan masalah yang membelitnya.
"Dia seperti Leon dalam versi wanita," celetuk Adry bangga.
Setelah menemukan sumber kehidupannya. Anak itu mengecapnya dan menyusu dengan kencang seperti anak kelaparan. Raina yang telah lama tidak menyusui merasakan kegelian.
Dua jam kemudian mereka telah berada di ruang perawatan. Bayi mereka telah dibawa kesana di dalam box bayi.
Adry melihat anaknya tanpa kedip.
__ADS_1
"Akan kau beri nama siapa anak ini?'' tanya Raina menatap ke arah Adry.
"Regina Federica Quandt," kata Adry tetapi merasa sedih ketika mengucapkan marga keluarganya. Dia mendesah kecil. Dadanya merasa sesak. Ingin rasanya dia membagi kebahagiaan ini dengan yang lain namun siapa? Roy kembali lagi menghilang tanpa jejak.
"Leon jika tahu adiknya telah lahir pasti akan senang."
Adry mengatupkan bibir kencang sembari menganggukkan kepalanya.
"Raina aku sudah menemukan sebuah rumah yang tidak akan diketahui oleh siapapun. Aku memutuskan untuk melupakan masalah ini sejenak. Membentuk rumah tangga kita yang baru, dengan suasana baru dan semangat hidup yang baru."
"Memang kita akan kemana?" tanya Raina. Adry melangkah mendekat ke arah Raina.
"Kita akan tinggal di daerah, di kampung terpencil. Tempat wisata yang sedang digalakkan pembangunannya. Hanya saja wilayah itu jauh dari perkotaan dan mall besar."
"Di Malang, Jonathan mempunyai sebuah hotel di sana dan memintaku untuk mengurusnya."
"Leon, aku akan mencari cara untuk mendapatkannya kembali."
"Aku percaya jika suatu hari Leon akan kembali pada kita."
Adry menghela nafasnya. "Amiin, aku harap secepatnya itu akan terjadi."
"Bagaimana dengan luka sesarmu, apakah terasa sangat sakit?" tanya Adry hendak membuka baju untuk melihat bekas luka Raina yang tertutup dengan perban.
__ADS_1
"Sekarang belum nanti jika efek anastesi sudah habis baru akan merasakan sakitnya."
"Kau itu," ujar Adry berdecih kesal. Raina selalu menggampangkan masalah. Adry lalu duduk di samping wanita itu.
"Raina terima kasih," kata Adry mengulangi kata-katanya tadi. Dia memegang tangan Raina dan menciumnya.
"Kau sudah mengatakannya sedari tadi." Raina membalas tatapan dalam Adry.
"Aku tidak akan pernah bosan mengatakannya." Raina tersenyum tetapi merasa terharu jika Adry sudah mulai melakukan ini.
"Aku juga tidak akan pernah bosan mengatakan kau adalah wanita tercantik yang pernah kumiliki yang membuatku jatuh cinta. Yang mengenalkanku akan tulusnya sebuah hubungan, yang mengajarkanku arti hidup sebenarnya, yang memberikanku dua kehidupan. Keduanya bahkan lebih penting dari harta kekayaan yang tadinya kumiliki karena merekalah harta kekayaanku yang sejati."
"Kau juga telah memperbolehkan ku mengisi duniamu dan mengajakku untuk tersenyum, tertawa, dan menangis bersama. Bersamamu hidupku terasa berarti. Bersamamu hidupku menjadi sempurna."
"Aku sangat dan terlalu mencintai hingga tidak bisa mengatakan seberapa aku mencintaimu. Karena tanpa batas rasa cintaku ini."
"Adry," panggil lirih Raina. Adry mengerakkan alisnya menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut istrinya.
"Apakah kau tidak menyesal memutuskan hidup bersamaku dan meninggalkan keluargamu?"
"Tidak, justru aku akan menyesal jika aku hidup tanpamu. Hari-hari yang kulalui terasa hambar tidak ada gairah sama sekali."
Raina merasa lega mendengarnya. "Bolehkah aku meminta satu hal padamu. Mungkin ini berat tetapi hal ini penting bagiku."
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Adry.
"Aku minta kau jangan menyebut nama keluargamu lagi di depanku. Terus terang aku trauma oleh keluargamu dan mendengar nama mereka di sebut saja membuat emosiku naik turun tidak jelas," pinta Raina terus terang.