Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Rindu yang Berbalas


__ADS_3

Raina menunggu kedatangan mertua dan putranya tidak sabar di bandara. Pesawat telah turun tetapi mereka belum juga nampak terlihat. Dia berjalan mondar-mandir di depan Adry lalu menatap sekitar berharap melihat Leon.


Regina sendiri duduk santai di pangkuan Adry sembari melihat film dari tablet yang dipegang oleh Adry. Untung saja dia tenang tidak rewel seperti tahu jika ibunya sedang dalam keadaan gelisah.


Akhirnya, yang ditunggu pun akhirnya kelihatan juga. Kaki Raina melemas, bahunya turun, matanya merebak, serta hampir tidak bisa bernafas. Terpaku di tempat hanya bisa memandangi seseorang yang paling berarti bagi hidupnya beberapa tahun lalu. Kini masih berarti hanya saja ada Regina dan Adry yang menambah daftar orang yang dikasihinya.


Leon sendiri menghentikan langkahnya. Senyum lebar terpancar dari wajahnya yang nampak semakin dewasa dan tampan. Leon sudah berumur 12 tahun. Tingginya juga hampir sama dengan kakeknya.


Leon langsung berlari cepat menuju ke arah Raina. Raina merenggangkan tangan dan menyambutnya. Tubuh Leon langsung masuk dalam pelukan ibunya. Kepalanya berada di bahunya. Tubuh mereka sama-sama bergetar. Isak tangis mulai terdengar dan derai air mata menjadi bukti atas kerinduan.


Bagai menemukan air telaga di tengah Padang gurun begitulah yang bisa digambarkan dari pertemuan ini.


"Ibu...," panggil Leon dengan suara serak.


Suara tangis Raina semakin keras. "Panggil lagi Nak. Sudah terlalu lama Ibu merindukan suaramu memanggilku lagi," ungkap Raina.


"Ibu... Aku juga merindukanmu memanggil namaku. Aku selalu memanggil namamu setiap saat. Hatiku sakit setiap kali membayangkan dirimu dan ayah bersama sedangkan aku sendiri." Raina merenggangkan pelukannya lalu menatap anaknya dan menyeka pipi basah Leon.


"Ibu juga merasa kehilangan dan menderita karena tidak ada kau. Setelah semua yang terjadi, Tuhan sangat baik telah membiarkan kita bertemu dan bersama lagi. Ibu pikir melihatmu lagi hanya akan menjadi impian saja. Namun, kini kau ada dihadapan Ibu." Raina memeluk tubuh anaknya erat lagi.


"Aku mencintaimu, Ibu ... sangat mencintaimu. Jangan biarkan aku sendiri lagi... ku mohon...," ucap Leon. "Aku sendiri dan kesepian tanpa kalian."


"Tidak akan kubiarkan kita terpisah lagi. Kau akan selalu bersama kami walau apa yang terjadi." Adry ikut memeluk keduanya.


Leon melihat anak kecil diantara mereka berempat.


"Dia?" Leon terperanjat melihat Regina tersenyum lebar padanya. Dia menutup mulutnya karena terkejut dan senang. Matanya berbinar-binar. Tidak menyangka jika dia telah mempunyai saudara wanita yang lucu dan cantik.


"Dia adikmu, Regina atau biasa kami panggil Rere," kata Adry. Leon menangkup pipi Rere membuat balita itu terkejut dan terdiam menatap mata Leon yang berwarna hijau. Sama seperti mata Ayahnya.


"Kau cantik sekali," Leon mencium pipi Rere yang chubby. Rere menatap Ayahnya.


"Dia Kakakmu, Leon. Panggil Kakak ..," kata Adry pada Regina.


"Kaka...," ucap Regina jelas. Leon lalu menciumi seluruh wajah Rere. Membuat Rere ketakutan dan hampir menangis.

__ADS_1


"Cup ... cup ... cup ... Kakakmu sangat sayang padamu. Kau jangan takut." Namun, Regina malah menyembunyikan wajah di dada Adry sembari terisak kecil.


"Regina tidak pernah berhubungan dengan orang luar jadi dia takut jika melihat ada orang yang baru dikenalnya," terang Raina.


"Ayah," sapa Adry menatap pria yang berdiri di belakang Leon. Regina diberikan pada Raina. Dia lalu mendekat dan mengambil tangan Carl dan mencium punggung tangannya.


Carl lalu memeluk tubuh Adry. Adry menyambutnya. Dia sangat merindukan Ayahnya setelah dua tahun ini tidak pernah sekalipun mereka bertemu bahkan saling menyapa di telephon pun mereka tidak pernah lakukan. Adry menyangka jika Ayahnya sangat membencinya karena lebih memilih Raina ketimbang keluarganya.


Terdengar helaan nafas berat, Carl.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Carl.


"Seperti yang Ayah lihat." Adry tersenyum dan berdiri tegap.


"Kau nampak sedikit gemuk, sepertinya istrimu sering memberimu makanan yang enak," canda Carl.


Dengan langkah takut-takut Raina maju ke depan. Dia sudah mempersiapkan hati untuk ditolak lagi.


"Ayah... ," sapa Raina dengan suara tercekat dan mata layaknya kelinci yang hendak menemui kematiannya.


Carl menarik nafas dalam dan menepuk bahu Raina.


"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Carl.


"Baik, Ayah."


"Ini cucu keduaku?" tanya Carl menyentuh pipi Regina yang disembunyikan di tubuh ibunya. Pelukan Regina di leher Raina semakin erat. Mata kecilnya mengintip Leon dari balik bahu ibunya. Leon lalu tersenyum pada Regina dan menggoda anak itu.


"Ayah, aku takut," ujar Regina pada Adry.


"Sayang, kau harus menyapa Kakekmu," bujuk Raina. Regina menggelengkan kepala.


"Jangan dipaksa jika dia tidak mau." Carl lalu mengusap rambut tebal sebahu milik anak itu.


"Dia seperti Leon namun dengan wajah wanita," ujar Carl.

__ADS_1


"Iya, Ayah," tanggap Adry.


"Cantik natural dan menggemaskan."


"Jika kalian sudah mengenalnya maka akan tahu jika Regina ini sangat usil. Tidak mau diam di rumah."


"Oh, sungguh kah, Putri kecil keluarga Quandt." Carl menunduk agar bisa sejajar dengan Regina.


"Kita akan kemana setelah ini?" tanya Carl.


"Ke hotel saja. Aku sudah memesan tempat untuk kalian berdua."


"Baiklah kalau begitu kita ke rumah sakit terlebih dahulu untuk melihat keadaan ibumu setelah itu baru kita ke hotel."


"Ayah tidak tanya keadaan Roy."


"Aku sudah menanyakan ini pada Dokter yang mengawasi keadaan mereka secara langsung."


"Ayah... aku ... ," Adry menundukkan kepala.


"Aku baru saja melalui penerbangan selama belasan jam. Jangan katakan apapun yang akan membuat masalah semakin runyam. Kita cukup merawat mereka berdua bersama-sama."


Adry menganggukkan kepalanya.


Mereka lalu menuju ke pintu keluar bandara dan masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu mereka sedari tadi.


Selama di perjalanan semua orang nampak terdiam. Namun, Leon mengajak bermain adiknya yang masih takut-takut menatap kepada dirinya. Lalu dalam waktu singkat saja Regina bisa tertawa dan tersenyum pada Leon. Leon tertawa keras. Carl yang duduk di depan lalu menoleh ke belakang.


Dia ingin melihat Leon tertawa. Hal yang tidak pernah Leon lakukan selama tinggal bersamanya.


"Lihat, dia sudah mulai menyukaimu," ujar Raina. Leon lalu mengulurkan tangannya lalu ditarik. Mengulurkan lagi di tarik lagi hingga akhirnya Regina mau ikut bersama dengan Leon.


"Wah, baru saja kau bersama dengan kakakmu. Namun, kau sudah melupakan Ayahmu," gerutu Adry yang duduk di depan Raina dan Leon. Mobil mereka memang telah di desain agar bisa saling menatap ketika bersama seseorang.


Akhirnya, mereka sampai di sebuah rumah sakit daerah yang terbesar di sana. Mereka lalu menghentikan kendaraan, setelah itu keluar dari mobil menuju ke kamar Roy terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2