
"Aku sudah tahu jawabannya." Karina menghela nafasnya kecewa.
Roy terdiam tidak mengatakan apapun.
"Jangan jadikan aku sebagai pengganti Nita. Aku dan dia adalah dua wanita yang berbeda. Itu akan sangat menyakitkan untukku." Dia pikir Roy ingin membangkitkan Nita dalam dirinya. Jika iya, dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Aku tidak bermaksud seperti itu hanya saja... aku menawarkan apa yang kau butuhkan. Sedangkan yang pernah menempati Mansion ini hanya Nita saja dan Ibu hanya sesekali kemari untuk mengunjungi Kakak," terang Roy merasa bersalah. Dia sama sekali tidak akan melakukan apa yang dituduhkan oleh Karina. Baginya Karina dan Nita adalah dua orang yang berbeda.
Karina mencari kejujuran dalam perkataan Roy. Pria itu lantas mendekati Karina meletakkan jarinya di sela rambut basah wanita itu. Menatapnya dalam.
"Kau tahu, aku tidak akan menyakiti wanita yang dekat denganku. Kenapa? Karena aku tahu bagaimana sakitnya menjadi yang kedua." Kata-kata Roy terdengar begitu tulus. Karina tidak tahu bagaimana kisah percintaan Roy dan Nita tetapi dia bisa meraba ada kisah percintaan pelik di sana antara Nita, Roy dan Adry.
Karina lalu memeluk pinggang Roy. "Aku percaya padamu. Hanya saja mungkin aku terlalu cemburu pada seseorang yang telah meninggal. Padahal dia telah terlebih dahulu ada dalam hidupmu. Tidak seharusnya aku seegois itu."
Netra Roy memperlihatkan keterkejutannya atas kejujuran Karina namun dia senang wanita itu mencoba terbuka atas perasaannya. Bukankah itu bagus karena dia bisa hati Raina sehingga tidak tercipta penghalang antara mereka.
"Kau tidak egois, hanya saja pertemuan kita terlalu singkat untuk saling mengenal lebih dalam dan membentuk suatu hubungan yang lebih intim." Roy memeluk balik Raina dan menghirup bau sampo yang menguar dari rambut Karina.
"Jika ini sangat singkat mengapa kau yakin membawaku masuk ke dalam dirimu sedangkan kau sendiri belum atau tidak menyadari adanya rasa untukku atau tidak." Karina menengadahkan wajahnya menunggu jawaban dari Roy.
"Harus kuakui kau memang selalu terlihat menarik dimataku dari awal kau mengirim surat pengajuan untuk menginap di pulau. Semuanya semakin jelas ketika kau datang dan menyita perhatianku. Entah magnet apa yang kau punya sehingga mataku selalu ingin memantau dirimu setiap saat."
"Bukannya karena kau curiga padaku?"
"Sebagian karena itu. Sebagian itu sebuah dorongan yang coba untuk kutepis namun aku tidak bisa. Aku kira itu hanya perasaan kamuflase belaka. Nyatanya, melihat kau datang ketika aku sakit lalu menemaniku, membuatku yakin jika kau memang hadir untuk menemaniku. Mungkin Tuhan memang menakdirkan kita bersama."
Sebenarnya Adry yang mengatakannya ketika dia sakit. Dia meminta pada Roy untuk membuka hati pada Karina dan tidak membuat penghalang atau sekat di dalam hatinya untuk mereka berdua. Karina terlihat tulus dengan semua perhatiannya. Jika Roy melepaskannya itu sama dengan melepaskan sebongkah berlian dalam hidupnya.
"Kau butuh teman untuk membagi hati, perasaan dan hidupmu. Kau butuh seseorang yang bisa menemani harimu dan membuat tujuan hidupmu lebih berarti. Membuat semangat yang menyala setiap kau bangun dari tidur. Bukannya berjalan sendiri tanpa arah dan tidak tahu apa yang sebenarnya kau inginkan. Aku kakakmu dan aku juga seorang pria jadi bisa menebak jika Karina mungkin akan cocok untukmu. Aku pun bisa melihat jika kau juga tertarik padanya. Jadi biarkan dia jadi separuh hidupku dan jangan lepaskan dia."
__ADS_1
"Lalu mengapa kau bersikap dingin padaku setelah sadar?"
"Karena aku takut kau seperti wanita lain yang hanya akan menyakitiku," batin Roy.
"Aku hanya ingin meyakinkan diriku padamu."
"Apakah kau mulai yakin?"
"Sedikit," Roy memegang erat panggul Karina. Memikirkan tidak ada sesuatu yang menutupi tubuh Karina selain bathrobe itu.
"Hanya sedikit tetapi kau sudah membawaku ke rumahmu?"
Roy kembali mengeratkan pelukannya sembari tertawa. Mendekatkan tubuh mereka lebih dalam. Pria itu tidak mengatakan apapun tetapi pelukannya menggambarkan perasaan Roy.
"Mandi sana, tubuhmu sangat lengket," ujar Karina mendorong tubuh besar Roy.
"Kau tahu aku tidak bisa membersihkan diriku sendiri," ucap Roy. Karina tersenyum lalu mereka ke kamar mandi. Karina mulai menyeka tubuh bagian belakang Roy dan juga dadanya.
"Apa kau juga merasakan hal yang sama denganku Karina," tanya Roy jujur mengerti arti tatapan Karina.
"Aku ... kita berada di kamar mandi dan sama-sama... kau tahu. Bohong kalau aku tidak merasakan apa-apa karena aku wanita normal." Karina mempercepat gerakannya agar tugas beratnya lekas usai.
"Andaikata jika kita menikah apakah bisa langgeng dan bahagia Karina?" tanya Roy mendadak. Membuat Karina menghentikan kegiatannya.
"Jika kau pikir ide menikah ini hanya karena untuk memenuhi kebutuhan biologis kita maka hilangkan itu dari pikiranmu. Jika kau pikir aku adalah rekan kerja yang baik maka suatu saat aku juga bisa berkhianat padamu. Namun, jika kau berpikir kita melakukannya karena kita saling membutuhkan satu sama lain dan tidak bisa hidup tanpa yang lain maka mari kita menikah."
"Namun, aku tidak ingin kau melamarku di kamar mandi seperti ini. Aku ingin sebuah lamaran yang romantis yang akan kuingat seumur hidupku."
"Baiklah, kita coba raba hati kita sepanjang pertemuan kita ini. Sampai di mana perasaan kita ditengah ujian yang datang."
__ADS_1
"Ya, itu lebih baik."
***
Raina bangun keesokan harinya. Hari ini mereka akan pergi ke Jerman bersama-sama. Ayah ingin agar Janeta mendapatkan perawatan di sana lagi pula dia punya banyak pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan.
Adry pun sudah memberikan pengalihan kepemimpinan pulau pada Hyun karena dia sudah mengundurkan diri dari sana. Setelah Raina berbicara dan membujuknya berkali-kali, Adry memutuskan untuk mengikuti saran Raina.
Dia akan kembali ke perusahaan Ayahnya dan kembali ke kediaman keluarga Quantd. Hanya saja kali ini Raina yang akan mengurus mansion keluarga dan semua hal yang berkaitan dengan rumah dan penghuninya. Tugas yang selama ini diemban oleh Janeta sekarang diberikan kepada Raina. Hal ini, membuat Adry senang karena Ayahnya sudah bisa menerima keberadaan istrinya.
Sedangkan soal ibunya mereka akan merawat wanita itu dengan sebaiknya. Berharap Ibunya bisa lekas sadar dan hubungan antara menantu dan mertua membaik dan pulih kembali.
"Apa kau tidak terbebani dengan keputusan ini?" tanya Adry.
"Kenapa harus terbebani. Ini juga keluargaku kan? Kau sudah cukup banyak berkorban untuk membahagiakan aku maka sekarang gantian aku yang akan memberikan kebahagiaan untukmu yaitu dengan menjadikan keluarga kita keluarga yang utuh dan tidak terpecah."
"Ibu... aku takut dia menyakitimu," ucap Adry cemas.
"Aku bukan wanita polos yang dulu lagi. Aku Raina yang sudah ditimpa musibah berkali-kali dan tahu kerasnya kehidupan."
Adry mengusap lembut kepala Raina.
"Aku sangat beruntung memiliki istri sepertimu yang ingin selalu mengerti perasaan suaminya."
"Aku belajar darimu bagaimana mencintai. Kau selalu berusaha membuatku nyaman dan senang. Hal itu pula yang akan kulakukan padamu."
Adry memeluk tubuh Raina erat.
"Ih Ayah dan Ibu sayang sayangan melulu kapan kita berangkat," omel Rere ketika masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Kata Kakek kita harus sampai di bandara setengah jam lagi," ucap Leon.
"Kalau begitu ayo kita pergi." Raina lalu menggandeng tangan Leon keluar dari ruangan itu menuju keluar hotel sedangkan Adry membawa barang-barang dibantu oleh pelayan.