Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Kejutan


__ADS_3

Semalam semuanya berjalan dengan tenang. Anak-anak suka dengan kamar mereka dan tidur setelah makan malam.


Roy sendiri merasa bahagia karena bisa melihat keduanya ada rumah ini. Malam harinya dia dan Hana berbicara banyak hal tentang apa yang Hana lewati ketika membesarkan si Kembar. Mereka berbincang dengan santai di tepi kolam renang.


Hana menceritakan sebagian kehidupan mereka secara gamblang. Dia nampak nyaman dengan perlakuan manis yang Roy berikan.


"Kau melalui semuanya dengan sulit, maaf jika aku tidak berada di sisimu saat itu."


"Tidak apa-apa, aku menjalaninya dengan biasa saja. Semua terasa menyenangkan, mempunyai anak adalah sesuatu hal yang menakjubkan. Hidup kita jadi terasa sangat berarti."


"Aku bisa merasakannya sekarang. Semangat hidupku bangkit lagi seolah cahaya menyinari kegelapan yang selama ini bersemayam di hati."


Hana ingin bertanya kenapa? Namun dia tidak berani, ini terlalu awal. Apakah Roy ada masalah dengan keluarganya sehingga memilih mengasingkan diri di negara ini sendiri? Apakah istrinya tidak baik atau ada hal lain. Roy tidak pernah membahas tentang keluarga padanya.


Setelah pembicaraan itu, Hana mereka masuk ke kamar masing-masing.


Pagi harinya saat sarapan, semua orang terkejut ketika mendengar suara mobil masuk secara berbarengan. Roy langsung bergerak cepat ke depan untuk melihat siapa yang datang. Leon mengikuti Roy dengan menahan senyumnya. Sedangkan, si Kembar menatap ibunya.


"Habiskan makan kalian." Hana mendadak cemas dengan siapa yang datang ke rumah ini. Mengapa wajah Roy nampak tegang. Dia ingin ikut melihat keluar tetapi itu tidak sopan.


Roy tertegun sewaktu melihat dua mobil sudah terparkir di depan rumah. Carl sedang membantu Janeta turun dari mobil. Begitupula Adry dan Raina, mereka berdebat tentang Aaric yang masih tertidur di mobil.


"Kau gendong saja, bawa masuk ke kamar tidak usah dibangunkan."


"Dia sudah besar."


"Belum baru delapan tahun."


"Tapi tubuhnya kelebihan bobot." Raina suka marah kalau Adry mengatakan Aaric gemuk padahal tubuh anak itu memang gempal. Kelebihan berat badan.


"Bobotnya hanya 60 kilo saja. Itu sesuai dengan tinggi tubuhnya," bela Raina. "Bilang saja kau sudah tidak kuat menggendongnya."


Raina lalu melihat Roy yang berdiri di depan pintu.


"Roy tolong aku, bawa Aaric masuk ke kamar."


"Apa kubilang, si manja itu pasti membuat susah semua orang," gumam Leon.


"Eh, sini dulu, Roy!" panggil Janeta yang berdiri dengan menggunakan tongkat.


Roy menarik nafas. Dia menatap ke Leon.

__ADS_1


"Ck... kau memang membuat keributan!"


Leon menggaruk tengkuknya sambil tersenyum.


Roy lalu mendekat ke arah Janeta. Wanita tua itu nampak lebih sehat dari terakhir dia melihatnya. Rambutnya di semir cokelat sama seperti warna rambut aslinya. Wajahnya pun nampak segar.


Tongkat Janeta dilayangkan ke arah Roy berkali-kali. "Dasar anak nakal, kenapa kau menyembunyikan keberadaan anak dan istrimu," kata Janeta kesal.


"Ibu ini sakit," teriak Roy keras berusaha untuk sedikit menghindar. Namun, dia suka dengan perhatian Janeta padanya.


"Kau pantas menerimanya karena aku hampir kena serangan jantung ketika Raina memberikan kabar ini. Dimana menantu baruku dan cucunya?"


"Mereka di dalam," Leon menunjuk ke arah dalam rumah mereka.


"Roy pantas mendapatkan itu, Bu," kata Adry mengompori Janeta. "Hajar saja sampai dia tidak bisa jalan." Adry tertawa keras suka melihat penderitaan adiknya.


"Kak, kau bukannya membantu malah ikut membuat ibu marah."


Janeta menghentikan pukulannya. Dia memegang dadanya. "Tubuhmu itu keras kalau kau ku pukul terus yang ada malah tanganku patah."


"Sudah... sudah kita masuk saja," ujat Carl mengulurkan tangannya agar Janeta berjalan bersamanya masuk ke dalam rumah. "Kita lihat seperti apa menantumu itu dan cucu baru kita."


"Roy bawa masuk Aaric, kakakmu itu sudah tua, tidak kuat menggendong anaknya sendiri," pinta Raina.


"Ck, Ibu terlalu memanjakan Aaric, dia itu sudah besar," ungkap Rere. Dia lalu mengoyak tubuh Aaric keras.


"Aaric bangun! Kita sudah sampai!"


"Sudah biarkan saja!" kata Raina menarik tubuh Rere menjauh. "Dia itu masih kecil."


"Kecil? Tubuhnya saja lebih besar dari tubuhku dikatakan masih kecil," gerutu Rere sebal.


Leon lalu memeluk bahu Rere. "Sudah Ibumu memang seperti itu," bisik Leon mendekat.


"Ibumu juga Kak!" sungut Rere, Leon hanya tersenyum. Keseharian keluarga mereka memang seperti ini selalu ramai dengan pertengkaran kecil.


Roy hendak menggendong Aaric untuk menghentikan perdebatan tetapi melihat mata anak itu mulai terbuka.


"Akhirnya kau bangun juga anak manja," seru Leon.


"Kak Leon, aku kangen sekali." Aaric langsung bangkit dan memeluk Leon erat.

__ADS_1


"Aku juga rindu dengan tangisanmu," ujar Leon sarkas.


"Leon!" seru Raina tidak senang.


"Iya, aku rindu dengan kalian semua, tetapi aku baru saja pergi empat hari yang lalu jadi belum rindu sekali." Aaric yang mendengar jawaban Leon menekuk wajahnya. Lengan Leon di pukul oleh Raina.


"Kau itu selalu saja suka meledek adikmu. Ayo, Sayang, kita masuk ke dalam."


Raina lalu memeluk bahu Aaric melangkah masuk ke dalam rumah.


"Terkadang aku merasa hanya Aaric anak Ibu saja," keluh Rere.


"Aaric itu paling muda, wajar Ibu lebih perhatian. Kau jangan berpikiran aneh. Ibu menyayangi kita semua," Leon memeluk bahu adiknya masuk.


"Apa yang Leon ucapkan itu benar, Rere. Kami menyayangi kalian tanpa terkecuali hanya saja caranya berbeda. Kau itu putri ayah yang paling ayah banggakan," ujar Adry menenangkan Rere.


"Hanya Ayah yang selalu mengerti perasaanku."


Roy yang melihat keluarga kakaknya ikut bahagia. Dia kini juga punya dua anak, mungkin besok juga akan seramai keluarga Adry.


"Kenapa kau malah melamun di sini. Ibu pasti sudah buat kehebohan di dalam. Apa kau tidak kasihan dengan istrimu itu?"


"Oh ya aku lupa!" Roy berlari pergi masuk ke dalam rumah dengan cepat. Sedangkan yang lain hanya menggelengkan kepala tertawa.


"Bagaimana dia bisa melupakan keluarganya?"


"Karena belum terbiasa, Yah."


"Ya, kau benar."


Di dalam rumah, Janeta masuk dia bertanya pada pelayan dimana istri Roy.


Hana yang mendengar ada suara di ruangan sebelah lalu membersihkan mulutnya dan mulut kedua anaknya. Berdiri merapikan baju.


Dia pikir mungkin istri pertama Roy sudah datang. Keringat dingin mulai membasahi keningnya dan kakinya seketika gemetar.


Apakah adegannya akan sama dengan adegan film di mana dia yang menjadi tertuduh pelakor, dianiyaya oleh istri pertama. Hana sudah mulai pasrah.


Lalu terdengar derap langkah beberapa orang mulai mendekat. Yang pertama dia lihat adalah sepasang suami istri yang sudah lanjut usia. Walau usia telah mengambil masa muda mereka tetapi kerut di wajah tidak menutup wajah mereka yang asli. Janeta terlihat anggun dan masih cantik sedangkan Carl nampak tampan dan berwibawa.


Hana menelan salivanya dalam-dalam ketika dua orang itu menatapnya dan menilai penampilannya dari bawah hingga atas.

__ADS_1


"Apakah kau istri, Roy?" tanya Carl yang lebih fasih berbicara bahasa Indonesia.


__ADS_2