
"Aku tidak ingin menjadikanmu seperti Karina. Aku hanya merasa sayang jika semua barang itu dibuang begitu saja. Katakan aku perhitungan tetapi satu tas saja bisa bernilai milyaran."
"Kau bisa menjualnya lagi jika mau jadi kah tidak akan rugi besar bukannya menyuruhku menggunakan itu! Terus terang aku tersinggung."
"Sudah kukatakan itu jika kau mau memakainya jika tidak kita bisa membuangnya." Hana memalinhkan wajah nampak tidak puas dengan jawaban Roy. Itu bukan hanya soal barang tetapi perasaan yang sulit untuk diungkapkan. "Aku mengajakmu kemari agar kita bisa saling mengenal dan mendekat bukannya bertengkar."
"Sebenarnya aku tidak suka konflik dan pertengkaran hanya saja. Sikapmu yang kadang dingin membuatku bertanya apa yang sebenarnya kau inginkan darimu?"
"Tidak ada, aku tidak berharap apapun darimu. Aku hanya ingin kita bisa membesarkan Ayu dan Bagus bersama entah itu dalam suatu ikatan pernikahan ataupun tidak."
"Apa maksudmu?"
"Itu mauku. Kita bersama dalam suatu rumah. Kau bisa menganggapku sebagai, teman, kakak atau kekasih apapun itu. Atau mungkin kau ingin sebuah hubungan yang lebih serius yaitu pernikahan. Kita bisa melakukannya. Semua keputusan ada di tanganmu dan aku akan mengatakan ya. Bahkan jika suatu saat kau datang dan mengatakan bahwa kau sudah punya kekasih dan ingin pergi. Aku akan rela melepaskanmu asalkan kau bahagia." Roy mengatakannya dengan nada bicara yang terlihat pasrah.
Haruskah Hana marah dengan kata-kata Roy atau terharu? Hana tidak tahu. Dia lalu tertawa.
Roy ingin mengatakan sesuatu tetapi terhenti ketika sebuah ketukan mulai terdengar dari balik pintu.
"Masuk!"
Sekretaris Roy dan seorang pegawai mulai masuk.
"Bu, pesanan Anda sudah ada. Jika ada hal lain bisa Anda katakan."
__ADS_1
"Jika ada coba ambilkan sapu untukku," celetuk Hana.
"Untuk apa?"
"Aku ingin memukul seseorang dengan itu."
Sekretariat Roy menahan tawa melihat wajah pucat Roy yang tidak seperti biasanya. Dia membawa pesanan milik Hana, meletakkan semuanya diatas meja sofa.
"Kalian boleh kembali menyelesaikan pekerjaan kalian."
"Baik, Pak." Dua orang tadi lalu keluar dari ruangan.
"Hana, bakso pesanan mu sudah datang."
"Kau tidak mau menemaniku makan?"
Roy hanya bisa pasrah sekarang. Jika dia menolak maka akan ada masalah baru.
"Baiklah," ucapnya lemas. Hana menyeringai tipis terakhir Roy makan pedas dia tidak menghabiskannya.
Hana yang sudah bersiap keluar dari ruangan itu kembali duduk. Dia menambah sambal pada mangkuknya lalu menawari Roy, namun pria itu menggelengkan kepala.
Roy melihat ngeri ketika membuka bakso jumbo di depannya. Di dalamnya terdapat sambal yang dicampur dengan daging serta ada cabai rawit merah yang masih utuh. Seketika perutnya sudah mulai merasa mulas terlebih dahulu.
__ADS_1
Dia menatap Hana yang sedang makan
"Wow, ini sangat lezat. Kau cobalah!" ucap Hana memotong bakso ukuran jumbo milik Roy.
"Coba!" Hana memasukkan potongan bakso ke mulut Roy. Roy mulai mengunyah nya. Terpana dengan Hana yang terlihat biasa saja padahal lima menit sebelum ini mereka baru saja bertengkar.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa," ungkap Roy bangkit dari tempat duduk. Berjalan ke arah meja kerjanya lalu mengambil ikat rambut dan mendekat ke arah Hana lagi. Mengikat lembut dan rapi rambut panjang Hana.
Hana terpaku dengan perlakuan Roy. Dia bisa merasakan perhatian Roy padanya degan tulus dan itu akan menyakitinya jika dilakukan terus menerus. Dia takut jatuh cinta pada pria itu. Padahal hati pria itu tidak mungkin jadi miliknya karena sudah menjadi milik wanita lain.
Mereka kembali makan. Roy memakan semuanya hingga habis. Dia tidak mengeluh sama sekali tentang apapun. Padahal wajahnya sudah menggelap dan memerah. Kedua netranya yang berwarna cokelat gelap juga ikut memerah.
"Pak Roy jika kau tidak kuat hentikan saja."
"Aku selalu kuat menjalani semuanya. Hidupku sudah ditempa dengan kesulitan dari kecil. Jika kau mau mengujiku dengan makanan ini. Ini bukan apa-apanya."
"Pak Roy!" Hana terkejut dengan perkataan Roy.
"Aku...."
"Sudah kukatakan aku akan menerima semua yang kau berikan dan kau inginkan. Aku hanya ingin hidup bersama dengan anak-anakku, jika mereka berpisah denganmu mereka tidak akan bahagia."
__ADS_1