
Roy membuka pintu dengan cepat, dia langsung menangkap tubuh Hana yang hampir menyentuh tanah.
"Kau tidak apa-apa?" Hana menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan Roy. "Apakah ada yang luka?" Roy memeriksa tubuh Hana.
Hani sendiri hendak melangkah pergi tetapi panggilan Roy menghentikan langkahnya.
"Hei, kau. Berani-beraninya mendorong ibu anakku!" ucap Roy dengan wajah menggelap menahan marah.
"Kenapa kau tidak terima!" Hani menanggapi dengan santai seolah tidak terjadi apapun.
"Kau! Jika kau laki-laki sudah ku habisi dari tadi."
Hani tertawa. Lalu menatap sinis pada Hana.
"Kau beruntung memilikinya Hana. Semoga kesialan mu tidak menular padanya!" ucap Hani sebelum pergi dari tempat itu.
Roy ingin menampar wanita itu tetapi Hana memeluknya dari belakang.
"Ish, itu saudaramu! Bagaimana bisa saudara satu rahim bisa seperti itu! Ingin sekali ku robek mulutnya."
"Jangan. Dia hanya kecewa padaku."
"Oh, c'mon Hana. Dia sudah menyakitimu dan kau masih berpikir baik tentang nya. Dia bahkan yang sudah menjebak mu denganku. Aku yakin itu."
"Kau jangan asal tuduh. Hani tidak akan sejahat itu padaku."
Roy kesal dengan Hana. Otaknya itu terbuat dari apa? Dia sudah melihat bagaimana tidak berperasaan saudara kembarnya. Tetapi masih berpikir baik saja tentangnya.
"Hana kau jangan senaif itu. Asal kau tahu dunia ini kejam. Siapa saja bisa jadi musuhmu."
"Tidak keluarga, Sayang."
"Terserah kau saja. Aku sudah memperingatimu." Roy kesal mendengarnya.
"Kau marah padaku!"
"Aku marah pada pikiran bodohmu."
"Jangan selalu berprasangka buruk pada setiap orang itu akan membuat hatimu keras dan tidak pernah menemukan ketenangan."
Roy gemas dengan Hana. Dia lalu memeluk tubuh wanita itu yang tidak kecil untuk ukuran orang asia tetapi masih terasa mungil untuk tubuhnya. Tingginya 190 cm sedangkan Hana sebahu nya.
Kini dia tahu satu hal. Hana adalah kebalikan dari sifatnya yang selalu waspada dan curiga pada siapapun. Hana terlalu baik dan lembut terlalu polos, baik sehingga mudah dibodohi. Itu akan jadi boomerang bagi wanita itu sendiri.
"Terserah kau saja. Kita teruskan makan kita atau pulang!" kata Roy. Hana menengadah menatap Roy.
"Aku ingin pulang." Ada kesedihan yang terpendam dari balik mata sayu itu.
__ADS_1
Roy mengangguk. Dia berjanji mulai saat ini akan menjaga wanitanya dari siapapun yang akan berbuat jahat padanya.
***
Sore harinya Roy dan keluarganya duduk di depan layar televisi yang terhubung dengan handphone. Mereka sedang melakukan panggilan video dengan keluarga Quandt lainnya yang ada di Jerman.
"Akhirnya kalian memutuskan menikah juga," ucap Carl.
Hana tersenyum malu, menunduk.
"Bukankah sudah kukatakan jika kami hanya butuh waktu untuk saling mengenal dan memantapkan hubungan ini."
"Kami senang mendengar berita ini. Kapan kalian akan menikah?" tanya Adry.
"Kalian saja yang mengaturnya. Aku terima beres saja."
"Kau itu!" tanggap Adry. Raina menepuk lengan suaminya.
"Aku sendiri ingin menikah sekarang di sini tapi kalian ingin membuat perayaannya dengan meriah. Jadi aku serahkan saja pada kalian."
"Ibu memang ingin melihat kau menikah dan menjemput kebahagiaanmu. Ibu tidak tahu sampai kapan Ibu bertahan hidup tapi berharap sebelum itu terjadi ibu bisa melihat kau sudah hidup bahagia bersama seseorang. Ibu lega kinj kau sudah menemukan seseorang itu."
Semua terdiam. Mereka tahu jika kesehatan Janeta memang sedang tidak fit akhir-akhir ini. Beberapa kali harus ke dokter walau tidak sampai harus menginap.
"Ibu... jangan bilang begitu. Ibu pasti kuat dan bisa melihat cucu-cucu ibu menikah nantinya." Raina memeluk Janeta dari samping dan menyenderkan kepalanya di kepala Janeta. Wanita tua itu mengusap lengan Raina.
"Kami masih butuh, Ibu. Ibu harus bertahan," ucap Roy dengan sesak. Walau awalnya hubungan mereka tidak baik-baik saja tetapi dalam beberapa tahun ini Janeta bersikap sangat baik pada Roy, terkadang dia bahkan menemani putranya di Jakarta hingga beberapa waktu, agar Roy tidak terlalu merasa kesepian di rumah. Tidak ada istilah tiri lagi. Janeta menganggapnya anak seperti Adry anak kandungnya. Bahkan lebih.
Suasana haru terasa walau mereka berbicara di beda benua. Roy bisa melihat wajah Janeta yang nampak pucat. Ada lingkaran besar di matanya.
Janeta yang mendengar ucapan Roy tersenyum kecut. "Hana, kau jaga ya putra Ibu dengan baik. Dia sendiri jika kau tidak ada di sampingnya. Ayu, Bagus, nenek tunggu kalian di sini. Nenek punya hadiah spesial untuk kalian."
Janeta membuka dua buah kotak perhiasan. Semua tersenyum melihatnya. "Ini bros keluarga untuk kalian jika kemari nanti."
"Wah, sepertinya bagus, Nek. Aku mau."
"Kalau begitu cepat datang."
"Pasti kami akan datang. Kalau libur benar kan, Bu?" tanya Ayu pada Hana. Wanita itu mengangguk.
"Waktu kami akan menikah nanti, kita akan buat pesta di sana, di rumah Kakek."
"Benar, Kek?" tanya Bagus.
"Apakah pesta besar seperti orang di tempat kita dulu, banyak makanan dan orang-orang?"
"Lebih besar dari itu," sela Raina. Ayu dan Bagus saling memandang.
__ADS_1
"Aku akan didandani seperti putri membawa bunga," ucap Ayu menyatukan tangan di bawah dagunya.
"Tentu saja. Kita berdua akan memakai baju yang sama, berwarna putih. Sama seperti baju pengantin bibi," lanjut Rere.
"Aku mau... kapan acaranya? Aku sudah tidak sabar ke sana?"
"Kapan Roy?" tanya Carl.
"Cincin pernikahannya paling cepat jadinya sebulan lagi."
"Baiklah, satu bulan lagi. Pastikan cincin itu jadi tepat waktu. Sayang, apakah waktu itu cukup merencanakannya?" tanya Carl pada istrinya.
"Cukup jika kita memakai WO berpengalaman."
"Aku ingin pernikahan yang sederhana saja, Bu. Cukup keluarga dan orang terdekat saja. Di rumah kita," pinta Roy.
"Kita akan membuat acara itu dilakukan di outdoor saja, ini musim panas cocok untuk membuat pesta kebun," usul Raina.
"Wah... akan ada banyak bunga." Rere memegang tangan Raina dan mengoyak nya.
"Iya... Sayang. Mungkin pengantinnya ingin request bunga apa?"
"Apa saja, kami terima beres."
"Di mana Leon?" tanya Raina.
"Dia sedang ada di rumah kalian yang lama. Dia memugarnya."
"Wah, Leon tidak mengatakan itu pada kami."
"Biarkan saja dia sudah besar, punya pikiran sendiri."
"Aku hanya takut dia melakukan kesalahan," ungkap Raina.
"Dia sudah besar, Kakak, tahu apa yang baik dan tidak, beri kebebasan padanya. Di umur segitu dia sedang ingin mengeskplor diri." Adry mengangguk setuju dengan ucapan Roy. Raina memang tipe ibu yang sangat protektif.
"Bagaimana dengan baju pernikahannya?" tanya Janeta.
"Baju biar kami bawa dari sini saja. Kami akan mengunjungi perancang baju terbaik di negeri ini.
"Itu bagus hanya satu saja pesanku," ucap Janeta membuat Hana mengangkat wajah dan menatap ke arah layar.
"Pastikan baju itu muat dipakai Hana saat hari itu tiba, aku takut kekecilan dan kita butuh baju baru yang lebih besar," sindir Janeta. Seketika Adry dan Raina juga Carl tertawa lepas.
"Aku juga berpikir sama, Bu," lanjut Raina.
Roy mengusap tengkuknya dengan wajah memerah. Hana tidak mengerti mengapa mereka tertawa.
__ADS_1