
Hari demi hari dilalui oleh setiap penghuni rumah keluarga Quantd dengan tenang. Rere akan pergi mendekat ke arah Janeta jika sedang tidak ada yang menemaninya. Raina mudah tertidur karena kehamilannya sedangkan yang lainnya sibuk di kantor.
"Rere jangan berlari terus nanti jatuh," teriak Janeta.
"Frans kau kejar Rere aku takut jika dia jatuh nanti."
Frans yang melihat semua itu tersenyum senang. Jika Janeta seperti ini kan dunia tenang. Pikir pria gemulai itu mulai mengikuti langkah kaki mungil Rere.
"Nek, aku ingin makan tapi pakai krupuk," pinta Rere.
"Apa itu kerupuk?" tanya Janeta.
"Kriuk... kriuk... ," jawab Rere.
Frans langsung mencari di internet tentang kerupuk.
"Ini Nyonya, harus digoreng dengan minyak dulu," ujar Frans.
"Itu tidak sehat."
"Lagipula minyak sedang susah dicari sekarang semenjak Indonesia tidak mengekspor lagi ke Eropa."
"Aku mendengar beritanya. Namun, bagaimana stok minyak kita di rumah?"
"Aman Nyonya."
"Syukurlah. Sekarang sedang apa Raina?"
__ADS_1
"Dia masih dikurung oleh Tuan Adry di kamarnya. Nyonya sama sekali tidak boleh keluar sampai dia hari ke depan. Dia harus istirahat total agar janin dalam perutnya kuat."
"Kalau begitu beri dia makanan yang sehat agar janin dalam perutnya sehat."
Frans menaikkan satu alisnya mendengar perubahan sikap Janeta yang berubah seratus delapan puluh derajat. Mungkin dia melakukannya karena sudah sadar. Syukurlah jika begitu. Nanti jika itu terjadi maka rumah ini akan jadi surga.
"Kalau siang beri dia jus alpukat sangat bagus untuk orang yang sedang hamil."
"Nenek aku ingin krupuk boleh kan?" rajuk Rere lagi memegang kaki Janeta. Wanita itu tersenyum lalu mengangguk.
"Frans suruh orang beli makanan itu ke supermarket khusus orang Asia biasanya ada segala macam barang kebutuhan belanja orang Asia."
''Baik, Nyonya," Frans lalu pergi dari tempat itu dan sempat berpapasan dengan Adry yang berada di belakang Janeta.
Pria itu diam saja, beranjak pergi dari tempat itu. Membiarkan Rere bermain dengan ibunya. Janeta sempat menatap punggung Adry dengan tatapan sedih.
"Kau sudah pulang, Sayang?" tanya Raina.
Adry mendekat lalu mencium dahi Raina dan beralih ke perutnya.
"Sayang, apa kau nakal pada ibumu tadi? Tidak kan?"
"Tidak Ayah," cicit Raina menirukan suara anak kecil.
"Bagaimana keadaanmu sekarang apakah lebih baik setelah minum obatnya?"
"Sama saja. Jika ada makanan dalam perutku maka rasa mual akan melanda."
__ADS_1
"Berarti kau tadi muntah lagi?"
"Iya. Hanya dua kali lalu aku tertidur. Sepertinya kau harus mengganti susu hamilnya. Dengan rasa buah-buahan kalau ada."
"Aku akan mencarinya di supermarket selepas pulang nanti. Ada lagi yang kau butuhkan?"
"Sebetulnya aku ingin sesuatu namun kau pasti tidak bisa memenuhi nya."
"Apa yang kau inginkan? Mengapa kau pikir aku tidak bisa memberikannya padamu?"
Raina meringis. Dia hendak mengatakan sesuatu namun ditelannya lagi.
"Katakan saja kau ingin apa?"
"Aku ingin lutis mangga muda."
"Lutis manga muda? Mangga itu bisa kucari tapi lutis itu makanan seperti apa?"
"Mangga yang masih muda, di kupas dan di potong. Buat kuahnya dari gula merah asal Indonesia dengan bumbu bawang, cabai rawit, dan terasi. Di ulek... ya kau tahu apa yang kulakukan ketika membuat sambal. Itu namanya ulek."
"No... itu pedas berbahaya untuk janinnya."
"Hanya satu batang cabai lalu banyak gula. Tidak terlalu pedas.
"Kalau begitu aku akan panggil Frans untuk mencarinya di supermarket orang Asia." Adry lalu keluar dari kamar mencari Frans.
"Frans kemarilah." panggil Adry. Frans yang sedang memberi perintah pada bawahannya menghentikan kegiatannya. Dia berlari mendekat ke arah majikannya.
__ADS_1
Adry menceritakan keinginan Raina. Frans membuka informasi tentang 'Lutis'.
"Kenapa hari ini Ibu dan Anak menyusahkanku? Mereka mencari makanan yang sukar di cari di Jerman."