Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Menunggu


__ADS_3

"Ini terlalu berat ku kenakan, aku tidak bisa menerimanya."


"Kenapa kau menolak pemberian Ibu?'' Nampak nada kecewa dalam kata-kata Roy.


" Aku bukan menolak tanpa alasan, tapi ini punya arti besar. Jika aku menerimanya berarti, aku juga menerima keluarga ini sebagai keluarga ku. Tidak Pak Roy, maafkan aku, aku tidak bisa menerimanya. Aku harap kau mengerti dan memberi tahu alasan ini pada ibumu."


"Aku faham."


"Ayo kita pergi, katamu kau sudah terlambat," ajak Hana.


"Tunggu sebentar, aku akan mengambil sesuatu terlebih dahulu."


Roy lalu membiarkan Hana berjalan ke bawah terlebih dahulu sedangkan dirinya pergi ke ruang kerja.


Setelah itu, mereka masuk ke dalam mobil setelah pamit pada semua orang.


"Mereka itu cocok." Raina menatap kepergian mobil itu sampai keluar gerbang.


"Ya, Hana bisa mengimbangi kekakuannya."


"Semoga mereka bisa bersatu," kata Raina.


"Aku tidak berharap banyak karena ketika dulu aku banyak berharap, Karina tiada dan aku ikut sakit."


"Cukup berdoa, Roy menemukan kebahagiaannya."


"Amiin."


Di mobil Roy menyerahkan, bekal makanan pada Hana.


"Makan dulu," kata Roy.


Hana mengangkat kedua alisnya. Roy meletakkan bekal itu ke pangkuan Hanna. Hana membukanya. Bawah bibirnya digigit sebelah. Sekotak susu dan sandwich.


"Makan dulu, agar kau tidak pingsan di jalan."

__ADS_1


Hana mencibir lalu memakan makanan itu hingga habis separuh.


"Apa kau sudah sarapan?"


"Sudah, segelas kopi."


Hana menghentikan kunyahan nya. Dia menatap sandwich di tangannya.


"Perutmu belum terisi apapun?"


"Aku sebenarnya tidak pernah sarapan," jujur Roy.


"Kau akan menderita penyakit hati nanti. Orang yang tidak pernah sarapan akan mengambil nutrisi dari empedu. Kau akan mati cepat jika seperti itu, umurmu pun sudah empat puluh tahun lebih jadi risiko itu lebih besar."


"Kau itu seperti seorang ibuku saja."


"Anak memang suka bandel tidak mau mendengar apa yang Ibu katakan. Sekarang dengan kan Ibu ini bicara. Makan sampai habis sandwich ini." Hana menjejalkan sandwich sisanya ke mulut Roy.


Roy memakannya. Menghabiskan sisa sandwich milik Hana. Sesaat dia menatap ke arah Hana yang melihat keluar jendela. Wanita itu punya sesuatu yang membuat semua orang nyaman berada di sisinya.


"Hati-hati."


"Iya."


"Nanti biar sopir ku menjemputmu setelah mengantar aku." Roy lalu menunjuk ke arah bodyguardnya," dan dia ikut denganmu."


Hana menekuk wajahnya.


"Untuk kebaikanmu sendiri," ujar Roy.


"Ini nampak berlebihan."


"Aku akan tenang kalah dia ikut denganmu."


"Kau hanya takut aku kabur."

__ADS_1


"Itu memang benar. Jika Ibu anakku pergi makan anakku akan kehilangan induknya."


"Memang aku ayam!"


Mereka lalu berpisah.


"Jemput dia setelah ini dan bawa ke kantorku."


"Baik Pak!"


***


"Nyonya, saya di suruh Pak Roy untuk menjemput Anda."


"Dia melakukan ini juga."


Hana lalu masuk ke dalam mobil. Mobil lalu berjalan cepat ke sebuah tujuan yang jelas bukan jalan menuju rumah Roy.


"Kita akan kemana? Apakah tidak menjemput Ayu dan Bagus terlebih dahulu."


"Tidak, karena sudah ada orang suruhan Pak Roy yang menjemput mereka."


"Apakah mereka dikawal juga?" Hana melihat ke arah bodyguard yang duduk di samping sopir.


"Ya, Bu."


"Huft!"


"Lalu kita akan kemana?"


"Kita akan ke restoran itu," ujar sopir.


"Ini belum jam makan siang," ujar Hana melihat ke arah jam tangan murahan miliknya.


"Belum, tapi Pak Roy sedang ada di sana menunggu Anda."

__ADS_1


__ADS_2