
Merasa sudah aman, Hana berani keluar dari rumah gardus milik Lina dan Ojim. Mereka lalu berjalan menaiki angkot menuju ke rumah Roy. Semua orang yang berada satu angkot menatap miris pada ketiganya. Bau tubuh Hana yang menyengat membuat beberapa penumpang menutup hidungnya dan saling berbisik. Kasihan dan empati mereka tujukan apalagi ketika melihat balutan luka Hana yang seadanya.
"Ini Bu, buat Ibu," ucap salah seorang ibu memberikan uang berwarna hijau pada Hana.
"Tidak Bu, buat Ibu saja," tolak Hana.
"Eh jangan menolak rejeki, Bu pamali."
Hana lalu melihat anak-anak itu.
"Terima saja Bu, lumayan buat bayar angkot," bisik Ojim.
"Terima kasih, Bu." Hana menerimanya walau dalam hati dia tidak pernah berharap pemberian orang lain. Ojim benar, mereka bisa gunakan untuk menambah biaya angkutan.
Mereka naik turun dua kendaraan umum untuk sampai ke daerah yang di tuju. Lalu berjalan lagi ditengah teriknya matahari. Hana berjalan dengan setengah di seret satu tangannya memegang potongan kayu yang dia gunakan sebagai tongkat. Mengabaikan rasa sakitnya berharap dapat bertemu keluarganya kini.
"Haus Kak," bisik Lina pada Ojim.
"Uang Kakak cuma tinggal-," Ojim mengeluarkan uang sepuluh ribuan yang terlipat dari kantong celana denim yang kumal miliknya.
Lina hanya bisa meneguk air liurnya. Ketika melihat toko kelontong yang memajang berbagai minuman di lemari pendingin membuat tenggorokannya semakin terasa tercekik.
Hana langsung berhenti. Dia mengambil uang dua puluhan dari saku bajunya.
__ADS_1
"Ojim belikan Lina air minum," kata Hana. Ojim lantas membelikan sebotol air minum dingin. Mereka meminumnya bersama, setelah menawarkan pada Hana namun Hana menolaknya.
"Untuk kalian saja."
Hana duduk di pinggir trotoar, mengamati keduanya dan tersenyum. Kasih sayang mereka berdua mengingatkannya pada Ayu dan Bagus. Bagaimana keadaannya? Apakah mereka menangis terus karena dia tidak ada? Roy bagaimana keadaannya? Apakah dia merindukannya sama seperti Hana yang merindukan dekap hangatnya?
Pikiran itu membuat semangat Hana berkali lipat bangkit, mengabaikan sakit yang mendera tubuhnya terutama kaki. Melawan lapar dan haus yang dia rasakan kini.
"Jika kalian mau beli saja roti untuk kembaliannya."
"Tidak, ini untuk uang saku jika nanti kembali."
Mereka lalu berjalan lagi. Lampu perempatan jalan berwarna merah, kendaraan mulai berhenti. Hana dan anak-anak hendak melewati jalanan itu ketika mobil milik Roy terlihat berhenti. Hana yang melihat Roy sedang duduk di dalamnya langsung berjalan cepat untuk bisa mendekat ke mobil itu.
"Tunggu... tunggu jangan pergi, ini aku Hana...." teriak Hana keras. Kakinya terantuk batu dan terjatuh di pinggir jalan. Luka di kakinya yang mulai mengering kembali terbuka dan menganga.
Hana menangis keras. Bukan karena rasa sakit yang dia dapatkan tetapi ketika harapannya lewat di depan matanya.
Ojim dan Lina yang melihat menutup mulutnya.
"Ibu Hana, apakah Ibu baik-baik saja. Lukanya berdarah kembali," ujar Ojim yang kembali membenarkan ikatan kain di kaki Hana.
"Ibu baik-baik saja. Mari kita jalan terus. Rumah Ibu sudah tidak jauh lagi." Hana menyeka air matanya. Semangatnya mulai kembali bangkit. Mungkin tadi Roy tidak melihatnya, makanya dia langsung pergi.
__ADS_1
Kali ini Ojim membantunya berjalan. Melewatkan panasnya tanah beraspal dibawah sandal jepit yang dia gunakan.
Pikirannya menjadi kacau. Siapa wanita yang duduk di sebelah Roy tadi? Itu bukan seperti Kakak Ipar. Tidak mungkin Roy sudah bersama. wanita lainnya. Dia harus berpikir positif.
Rumah Roy sudah semakin terlihat. Sebuah senyuman terbit dari bibir Hana.
"Itu rumahnya anak-anak."
"Wah, rumah Ibu besar sekali," ujar Ojim.
"Seperti istana," timpal Lina
"Itu rumahnya Ayah anak-anak, Ibu hanya ikut tinggal di sana," ucap Hana.
"Itu sama saja, Bu."
"Ayo, kita jalan."
Mereka lalu melangkahkan kembali kaki mereka. Sekitar sepuluh meter dari rumah Roy sebuah mobil mendekat ke arah mereka. Beberapa pria dengan wajah di tutup keluar.
"Eh mau apa?'' ucap Ojim.
Tubuh Hana di tarik masuk ke dalam. Ojim tidak terima dia mulai melawan beberapa pria bertubuh besar itu. Lina menangis ketakutan. Hana hanya bisa melawan sebisanya. Dia hanya bisa pasrah ketika tubuhnya dibawa masuk ke dalam mobil. Matanya mulai berkunang-kunang dan tubuhnya tiba-tiba seperti tidak bertenaga dan pingsan. Dia masih sempat mendengar teriakan Ojim dan Lina yang memanggil namanya.
__ADS_1