
Nita mengangkat wajahnya. Eyeliner yang dikenakannya luntur membuat matanya menghitam. Roy mengambil secarik tisue dari meja dan menghapus air mata wanita itu.
"Kau jahat Roy, kenapa kau biarkan Raina kembali dan membuat rumah tanggaku hancur?" kata Nita penuh emosi memukul dada pria itu. Roy memeganginya tangannya dengan menatap tajam ke arah Nita.
"Kau yang menghancurkan rumah tanggamu sendiri. Seharusnya dari awal kau jujur pada Adry jika kau sudah tidak bisa punya anak lagi," ketus Roy dengan suara penuh penekanan. Dia tidak habis pikir mengapa Nita melakukannya, berjuang demi sesuatu yang semu. Jika dia percaya Adry mencintainya dia tidak harus berbohong di depan suaminya.
"Kau tahu aku sangat mencintainya karena itu aku akan melakukan apapun demi tetap bisa bersama dengannya. Bu Janeta ingin seorang pewaris dan aku tidak bisa memberikannya, aku tidak ingin dibuang seperti sampah dan posisiku digantikan oleh orang lain.
"Itu bukan cinta tapi ambisi. Apa kau sadar jika kau menjadi orang berbeda setelah kau bersama dengannya. Kau gila dengan semua harta, ketenaran dan nama baik yang Adry berikan. Kau tidak menjadi dirimu. Apakah kau bahagia Nita? Tidak, hidupmu menyedihkan. Hanya bisa menangis, mabuk untuk melupakan sesuatu hal yang tidak bisa kau sangkal. Kau merasa sendiri dan kesepian," ungkap Roy berapi-api, sudah lama dia memendam kemarahan ini dan ingin mengatakannya pada Nita.
"Aku kemari untuk menceritakan masalahku padamu bukannya untuk mendengar ceramahmu," kata Nita kesal.
"Jika begitu kenapa kau tidak menemui Angel temanmu itu. Dimana sekarang dia?"
"Dia sedang mengurus artis bimbingannya yang baru."
"Kau yang lama ditinggalkan!" Roy berdecak. "Tidakkah kau lelah dengan gemerlap dunia yang semu itu Nita? Mereka semua menyanjungmu ketika kau berada di atas tetapi berusaha menjatuhkan di belakangmu. Mereka akan membuatmu semakin terperosok ketika kau sudah turun ke bawah. Saat itu, siapa yang akan menemanimu? Orang tuamu sudah berumur tidak mungkin kau menambah beban hidup mereka lagi."
"Roy, aku sedang ingin untuk didengarkan buka. untuk mendengar ceramahmu."
"Kalau begitu kau datang ke tempat yang salah. Aku berharap kau pulang setelah sadar jika jalan yang selama ini kau tempuh itu salah." Roy bangkit dan menepuk celana jeans pendeknya. Dia lalu berjalan meninggalkan Nita.
"Roy, kau tidak bisa melakukan ini. Katakan saja kau cemburu pada kebahagiaanku dan Adry sehingga kau ingin agar kami berpisah," teriak Nita keras.
Terdengar tawa sumbang dari Roy. "Aku cemburu pada Adry? Aku bahkan kasihan padanya, belasan tahun dia diperdaya olehmu. Dia dulu terlihat sangat mencintaimu hingga tidak tahu kalau dia kau manfaatkan."
"Aku mencintainya, Roy," teriak Nita.
__ADS_1
"Cinta apa? Hartanya?" tawa mengejek Roy. "Awalnya kau membuangku dan menjadikan Adry batu loncatan besar untuk karirmu dengan menjadi model untuk iklan perusahaannya. Untuk memenuhi ambisi mu itu kau menggugurkan kandungan di Hongkong agar bisa bersama dengan Adry selamanya. Waktu itu aku senang Adry sempat sadar oleh kelakuanmu yang pergi tanpa pamit. Namun, kau berlagak seperti wanita yang terluka dan ingin Adry kembali. Mengemis cinta padanya padahal kau tidak membutuhkan itu, kau butuh hartanya untuk bisa membuatmu terlihat cantik, menarik dan menawan."
"Cukup Roy!" teriak Nita.
"Kenapa kau tidak tahan jika aku bongkar kenyataannya sesungguhnya!"
"Aku sangat mencintainya dengan sepenuh hati. Aku bahkan tidak pernah sekalipun berselingkuh darinya. Itu membuktikan semuanya," teriak Nita keras. Roy lalu kembali maju dan memegang tangan wanita itu.
"Lihat mataku dan katakan kau mencintainya!" ucap Roy.
"Aku mencintainya," ucap Nita menahan tangis.
"Jika kau mencintainya kenapa kau sering meninggalkan dia sendiri dengan alasan kesibukan? Apa kau coba lari dari sesuatu."
"Kau tahu jika dia juga punya segudang pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan dan aku juga."
"Jika kau mencintainya kau akan mengikutinya bukannya sibuk dengan duniamu sendiri," kata Roy lirih mengusap pipi Nita.
"Ini rumah kita, Sayang. Seharusnya kau pulang kemari," ungkap Roy.
"Jangan panggil aku, Sayang, karena aku bukan kekasihmu," ujar Nita kesal.
"Lalu aku harus memanggil Sayang pada siapa? Sedangkan kau membuat semua wanita yang dekat denganku pergi," kata Roy membuat Nita membelalakkan matanya.
"Aku tidak mungkin melakukannya," ujarnya menelan air liur sendiri agar tenggorokannya tidak terasa kering.
"Aku tahu kau yang telah menyingkirkan wanita-wanita itu dari hidupku. Aku tahu kau cemburu dan tidak rela jika ada wanita lain yang dekat denganku. Benarkan Nita?"
__ADS_1
"Kau bilang apa, semua itu tidak benar," kata Nita gugup melihat ke arah lain tidak mampu untuk menatap Roy.
"Mereka semuanya mengatakan kau yang mengusir mereka dari hidupku."
"Mereka tidak layak untukmu," kata Nita pada akhirnya.
"Berarti kau mengakuinya?"
"Aku ingin kau mendapat wanita yang lebih dari diriku," ujarnya. Roy melipat tangan di dada.
"Aku tidak mengerti, tidak layak dan ingin aku mendapatkan wanita yang lebih darimu. Apa maksudmu," cecar Roy.
"Ya, itu tadi. Kau pantas mendapatkan wanita baik-baik sedangkan mereka yang mendekatimu hanya kumpulan ja ... Lang yang pergi dari satu pria ke pria yang lainnya."
"Lalu apa urusannya dengan dirimu, terserah aku mau hidup dengan ****** atau wanita murahan. Kau tidak punya hak mengatur dengan siapa aku pergi dan hidup bersama."
Nita menatap Roy dengan wajah cemberut. "Tidak Roy, kau hanya milikku. Tidak ada yang boleh menyentuhmu selain aku."
"Mungkin aku akan rela jika kau telah menemukan wanita yang tepat untuk berada di sisimu." Nita menggigit lidahnya sendiri karena keceplosan bicara.
"Rela berarti selama ini aku tidak rela jika aku bersama dengan wanita lain?"
"Bukan itu maksudku ... ," ucap Nita terpotong ketika Roy tiba-tiba meraih pinggangnya dan mencium Nita.
Awalnya wanita itu tertegun dengan serangan mendadak itu namun lambat laun dia mulai menikmatinya. Dia merindukannya. Nita terdiam ketika bibir Roy mulai menggodanya, menyesapnya pelan lalu memasukkan lidah ke dalam mulutnya bermain di sana dan menjelajah setiap sudut yang ada.
Tangan Nita menggenggam erat udara. Matanya terpejam dan tubuhnya seakan menginginkan lebih. Lebih dari ini sesuatu yang dia rindukan. Kebersamaan mereka yang terpisah selama 11 tahun lebih.
__ADS_1
Roy lalu menghentikan tautan bibir itu tatkala mendengar nafas Nita mulai naik turun tidak beraturan.
"Kau merindukannya? Aku sangat merindukan ini. Sudah terlalu lama dan rasanya masih sama," jari Roy mengusap bekas air liur mereka di bibir Nita. Sedangkan Nita merasakan lemas di kakinya sehingga dia tidak mampu bergerak sedikit pun. Bahkan kakinya terasa gemetar seperti anak remaja yang mendapat ciuman pertamanya.