Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Fitnah


__ADS_3

Beberapa hari ini Raina disibukkan dengan kegiatan yang ibu mertuanya rencanakan untuknya. Wanita itu bahkan memanggil guru khusus untuk mengajarinya banyak hal. Raina senang dengan kesungguhan Janeta untuk mengajarinya tetapi sedih karena waktu bersamanya dengan Leon benar-benar terkuras habis dengan semua kegiatan itu.


Raina dan Leon akan tidur bersama hanya jika malam hari ketika Adry sedang bersama dengan Nita di rumah mereka. Janeta telah melarangnya namun di tengah malam diam-diam Leon masuk ke dalam kamarnya dan mendekap tubuh Raina.


"Aku sayang Ibu dan rindu Ibu," ucapnya. Sebenarnya anak itu pun merasa dijauhkan dari Raina tetapi dia tidak ingin membuat Ibunya menemui masalah dengan keluarga Ayahnya maka dari itu dia menuruti semua yang Janeta katakan termasuk selalu ikut dengan Nita kemanapun wanita itu membawa pergi atau jika Ibu sedang tidak ada di rumah Nita yang menemaninya sepanjang hari.


Nita memang baik, tetapi ibu tetaplah Ibu. Seorang anak akan lebih tenang dan nyaman bila bersama ibunya.


"Kau kemari, Nak?" tanya Raina membuka mata dan mengusap pipi Leon. Tangan Raina lantas basah.


"Eh, kau menangis Sayang?" tanya Raina bangkit. Leon meletakkan jari telunjuknya di bibir agar ibunya tidak bersuara.


"Aku rindu Ibu, kita pulang yuk Bu. Di sini kita tidak bisa bebas bersama. Aku ingin kembali lagi ke rumah kita yang lama."


Raina memeluk tubuh Leon. "Tidak semudah itu, Sayang. Paspor kita ditangan Ayah dan kita tidak bisa memintanya mengembalikan kita ke rumah semula. Kau tahu Ayah sangat mencintai kita."


Leon menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu kita kembali ke apartemen atau meminta Ayah agar kembali ke negeri kita."


"Sayang, tidak bisa seperti itu," ungkap Raina. Dia tidak bisa menjelaskan pada Leon posisinya saat ini.


"Pergilah tidur, nanti Ibu akan berpikir caranya."


Leon menganggukkan kepalanya. Mencoba untuk memejamkan matanya namun lagi-lagi dia tidak bisa. Dia malah memeluk erat Raina.


"Ada apa? Apa kau memendam sesuatu yang belum kau ceritakan pada ibu?"


"Aku pernah mendengar jika Tante Nita di suruh oleh Oma membawa pergi aku untuk ke mall. Padahal Tante Nita ada pemotretan saat itu. Oma marah dan bilang jika ...."Leon tidak meneruskan kata-katanya.


"Jika apa?"

__ADS_1


"Aku lupa Bu, sepertinya jika Ibu akan ke panti jompo bersama Nenek dan aku harus di rumah bersama Tante Nita atau dia menemaniku keluar untuk main."


"Ibu kira apa?" Leon terdiam.


Tetapi cerita singkat Leon membuat Raina mulai berpikir. Apakah yang dia pikirkan memang terjadi jika Nita dan ibu mertuanya berniat untuk memisahkan dia dan Leon.


Pagi harinya Janeta mencari Leon ke semua tempat tetapi tidak menemukannya hingga akhirnya dia mengetuk pintu kamar Raina.


"Apakah Leon ada di dalam?" tanya Janeta.


"Iya, Bu ada apa?" tanya Raina.


"Ehm... apakah Leon ada di dalam. Aku sudah mencarinya kemana-mana?" tanya Janeta tersenyum sembari melihat ke belakang Raina.


"Iya, semalam dia ingin tidur bersamaku."


"Ya, Tuhan Raina dia sudah besar dan apakah harus tetap tidur bersamamu?''


"Salah. Seorang anak harus tidur di kamarnya sendiri tidak boleh bersama dengan orang tuanya."


"Jika begitu salah juga jika seorang anak tetap tinggal satu atap dengan orang tuanya karena seharusnya dia tinggal di rumahnya sendiri," balik Raina.


"Apa kau coba berargumen pendapat dengan ku atau coba menentangku?" seru Janeta meninggi.


"Tidak, Bu, mana berani aku berbuat seperti itu pada Ibu. Aku hanya ingin meluruskan jika kebersamaan itu dianggap sebagai suatu kesalahan maka rasa kasih sayang itu tidak akan pernah timbul yang ada berkurang. Kita harus melimpahkan kasih sayang pada ibunya."


"Aku bukan mengatakan hal itu hanya saja, dia sudah besar alangkah baiknya jika dia tidur di kamarnya sendiri."


"Dia hanya tidur bersamaku tidak setiap hari dan itupun karena rindu karena akhir ini jarang sekali kami bertemu, itu hanya makan malam formal dan setelah itu kami berpisah, lalu salahkah dia jika ingin bersama ibunya?"

__ADS_1


"Maaf jika semua yang kulakukan membuat kau dan Leon menderita kalau begitu aku batalkan saja rencana kita untuk memesan pakaian untuk acara pesta Leon seminggu lagi."


"Ada banyak baju dan mereka bisa datang kemari untuk mengukur tubuh kita tidak perlu kita yang pergi ke sana! Bukankah Anda kaya bisa melakukan hal itu tetapi kenapa repot-repot harus pergi ke sana."


"Raina kau tidak bisa berkata dengan nada tinggi terhadap Ibu, dia adalah Ibu Adry!" hardik Nita yang datang tiba-tiba.


"Kenapa apa ada yang salah. Hari ini jadwal Leon pergi untuk kontrol dan aku ingin mengantarnya tetapi Ibu melarang dan ini sudah untuk ketiga kalinya. Alasannya sama kegiatan di luar."


"Ada aku di sini aku bisa mengantar Leon," jawab Nita.


"Memang kau tidak punya kegiatan lain selain menjaga Leon. Di sini aku adalah ibunya dan mengapa tidak kau saja yang sesekali ikut dengan kegiatan Ibu, memberi makan anak orang lain dan di foto sedangkan anak sendiri ditinggal sendirian di rumah. Hidup macam apa yang kalian berikan padaku. Aku bukan wanita yang suka kepalsuan!''


Janeta lalu menangis. "Aku melakukan ini karena permintaan Adry, aku ingin kau terlihat layak di depan mata semua orang untuk menjadi menantuku. Jika itu membuatmu berpikir buruk tentangku maafkan aku!"


Janeta menangis di pelukan Nita.


"Kau keterlaluan Raina, aku hanya ingin dekat dengan Leon bukan ingin merebutnya pemikiran mu salah."


"Dimana aku mengatakan merebut. Kau hanya bicara jika aku ingin pergi mengantar Leon kontrol, aku tidak bisa selalu ikut pergi Ibu acara manapun. Sesekali gantian lah kita berdua. Bukankah kita sama-sama menantunya?"


"Bila perhatianku kau anggap salah sudahlah!" Janeta mengusap air matanya.


"Tidak salah hanya saja aku ingin bersama Leon dan kalian berdua selalu mencoba menjauhkannya dariku."


"Raina! Tidak seharusnya kau berkata seperti itu pada ibuku!" teriak Adry. Membuat Raina terkejut. Nita tersenyum tipis hingga nyaris tidak terlihat.


"Apa salahku, aku hanya ingin bersama Leon dan mereka seperti melarangku untuk bersamanya."


"Sudahlah, Nak, dia memang tidak bisa diatur memang bukan golongan dari kita. Aku sudah sangat berusaha memperbaiki sikapmu namun dia seperti tidak senang dan membantah semua yang kuajarkan padanya. Untung kau lihat sendiri bagaimana dia bersikap pada Ibu," ucap Janeta dalam bahasa Jerman yang tidak dimengerti oleh Raina. Namun, wanita bisa menebak jika itu suatu gunjingan yang buruk.

__ADS_1


"Nita tidak pernah membantah pada Ibu walau dia ditekan seperti apapun," ungkap Adry.


__ADS_2