Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Harapan


__ADS_3

Leon sendiri lebih banyak murung di kamarnya enggan untuk keluar dan tersenyum. Sebenernya banyak harapan yang ingin dia jemput namun patah sebelum waktunya.


Raina faham dengan kondisi mental Leon. Dia sedang pada zona patah hati karena melihat ayahnya lebih mempercayai keluarganya dari pada mereka yang baru mereka temui. Dia faham dengan situasi Adry, pada dasarnya dia adalah sama baiknya dengan orang tua seperti Leon tetapi dia hanya diperalat oleh orang tuanya.


Nita yang terlihat baik, malah membuat masalah semakin runyam. Dia seharusnya bisa menerangkan semuanya dengan baik bukannya malah menyiramkan minyak pada api yang menyala.


Raina memeluk Leon dari belakang yang sedang duduk melamun di jendela. Anak itu lalu menoleh dan melihat ke arah Ibunya.


"Beberapa hari ini kau terlihat bersedih," ucap Raina duduk di depan Leon. Semilir angin menerpa wajah dan rambutnya yang panjang.


"Aku hanya rindu dengan kampung halamanku. Mereka memang terkadang menghina tetapi tidak ada kepura-puraan dalam sikapnya. Tidak seperti Nenek yang terlihat baik namun ternyata dia ...," Leon diam tidak meneruskan pembicaraannya.


“Hanya karena seseorang tersenyum kepadamu, tak berarti dia menyukaimu. Jangan percaya terlalu banyak, jangan mencintai terlalu banyak, jangan berharap terlalu banyak, sebab terlalu banyak akan melukai begitu banyak pula.”


Leon lalu memeluk ibunya dan menangis. Aku terlalu banyak bermimpi untuk punya keluarga yang sempurna seperti teman-temanku. Mempunyai kakek dan nenek yang mencintaiku, Ayah yang menemaniku bermain dan ...," Leon menghentikan kata-katanya. "Melindungi kita."


"Kau tahu merindukannya?" tanya Raina. Leon tidak menjawab tetapi Isak tangisnya yang mengeras menandakan bahwa dia memang merindukan ayahnya.


"Jangan salahkan mereka yang mengecewakanmu, pada kenyataannya kamulah yang menempatkan diri untuk dikecewakan."


"Maksud Ibu," kata Leon.


"Kita terlalu mudah percaya bahwa semua mimpi itu terlalu mudah kita raih, kita mempercayai semuanya kenapa karena kita tidak pernah berpikir negatif terhadap seseorang. Nyatanya, dunia tidak seindah itu, ada banyak hal yang orang rahasiakan di dalam hatinya. Mereka pun ingin meraih yang akan kita raih sehingga mereka bisa saja berupaya untuk menjatuhkan kita. Di sini kita yang salah karena tidak mewaspadai keadaan yang ada."


"Apakah semua orang itu jahat, Bu?"


"Tidak semua Sayang, hanya saja kita tidak tahu mana yang tulus dan mana yang tidak?"


"Apakah Om Adry adalah ayah yang buruk Bu?" tanya Leon.

__ADS_1


"Dia ayah yang buruk telah meninggalkanmu selama ini?" ujar Raina kesal mengepalkan tangannya.


"Dia tidak tahu jika aku ada, jika dia tahu pasti dia akan selalu berada di sisiku."


"Kalau begitu dia ayah yang egois, selalu mementingkan keinginannya sendiri," ujar Raina.


"Dia hanya ingin yang terbaik bagi kita, ayah bahkan pernah mengajakku mencari sekolah terbaik yang aku inginkan. Dia tidak memaksaku," ungkap Leon menunduk.


"Kalau begitu dia ayah yang egois karena ... ," Raina lupa ingin mengatakan apa. "Jarang mengajakmu bermain."


"Tidak, jika ayah pulang kerja dia selalu menemaniku bermain," suara Leon terdengar parau, matanya bahkan telah berkaca-kaca.


Leon memeluk pinggang Raina meletakkan kepalanya di dada wanita itu. Menumpahkan tangisnya.


Tanpa mereka sadari Adry yang sengaja pulang dari kantor cepat berdiri mendengar pembicaraan ibu dan anak itu. Dia ikut menyeka air matanya dan tersenyum. Anaknya tidak membencinya. Dia hanya merasa kecewa. Benar apa yang dikatakan oleh ayahnya jika dia membuat harapan ibu dan anak itu musnah oleh satu tindakan kasar yang tanpa sadar dia lakukan tetapi berakibat fatal.


"Ibu tahu kau merindukan ayahmu," ucap Raina. Leon tidak menjawabnya tetapi pelukannya yang semakin erat menjawab semuanya.


"Apa Ibu membenci Om Adry?" tanya Leon.


"Dia itu ayahmu, tidak seharusnya kau memanggilnya seperti itu. Ayahmu juga sangat merindukanmu, Nak. Lihat, setiap pulang kerja dia datang kemari dan menunggumu turun untuk sekedar ingin melihat wajahmu yang tampan ini." Raina memegang dagu Leon dan menggerakkannya ke kanan dan kiri.


"Tapi dia telah memukul Ibu."


"Ibu tidak pernah mengajarimu untuk berbuat kurang ajar pada orang tua," ujar Raina menyentil hidung Leon.


"Apakah Ibu tidak marah atau membencinya setelah apa yang ayah lakukan pada Ibu."


"Bagaimana Ibu bisa membencinya, dia itu adalah ayahmu, orang yang telah membuatmu ada. Dia juga suami ibu." Raina lalu menatap langit dan melihat jauh ke depan.

__ADS_1


"Selain itu Ibu tahu mengapa ayahmu melakukannya."


"Kenapa Bu?" tanya Leon.


"Karena ayah tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia tahunya ibu memarahi nenekmu dan nenekmu itu adalah ibu ayah. Ayah juga sama sepertimu yang tidak ingin ibunya di sakiti walau itu istrinya sendiri."


"Tetapi yang salah Nenek, Bu?" debat Leon tidak terima.


"Kau belum tahu tentang orang dewasa, mereka itu rumit. Intinya ayah tidak tahu apa yang terjadi. Kau juga tidak boleh menghakiminya seperti itu. Dia sangat sedih karena kau marahi."


Leon menganggukkan kepalanya.


"Besok kita akan kembali ke negara kita," ungkap Raina. Leon menatap ke arah bola mata Raina yang kelam.


"Apakah hanya kita berdua?" tanya Leon sesak. Dia berharap ayahnya meninggalkan semuanya dan ikut bersama mereka.


"Entah, Ibu juga tidak tahu." Leon kembali mengusap matanya yang mulai basah kembali.


"Hei, katanya kau ingin pulang kembali ke negara kita," kata Raina tersenyum. Dia tahu jik Leon sama seperti dirinya yang ingin Adry ikut bersama mereka dan tinggal bersama namun itu hanya mimpi saja. Kenyataannya dia pasti lebih memilih orang tua dan istri tuanya.


"Ini sudah hampir petang. Ayo, bantu Ibu membuat makanan untuk makan malam," ajak Raina. Leon menganggukkan kepalanya mereka lalu turun dari kusen jendela dan menutupnya.


Mereka mulai turun ke bawah dan terkejut melihat Adry sudah ada di sana dengan appron di tubuh. Meja makan tampak tertata rapi dengan berbagai macam makanan yang ada di atasnya. Adry sedang menyalakan lilin di atas wadahnya yang terbuat dari perak. Rangkaian bunga mawar putih yang mekar juga berada di tengah meja di atas vas.


Leon membuka mulutnya lebar. Dia menatap ke arah Ibunya yang sedang menaikkan kedua alis ke atas.


Adry yang menyadari kedatangan anak dan istrinya lalu menatap ke arah anak tangga. Dia mengelap tangannya di appron. Lalu menyunggingkan senyum lebar.


"Aku ingin memasak makanan untuk kalian tapi takut mengacaukannya jadi aku memesannya." Matanya lalu mencari kesana kemari seperti mencari sesuatu. Dia lalu berjalan ke arah kursi ruang tengah dan mengambil satu ikat bunga anggrek putih. Dia berjalan mendekati Raina dan Leon.

__ADS_1


"Aku kira ingin membuat kenangan indah untuk kita sebelum kalian pergi dari sini," dada Adry terasa sesak mengatakannya dan nyeri. "Jika kalian bersedia aku ingin melayani kalian malam ini saja sebagai bentuk permintaan maafku."


__ADS_2