Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Sarapan yang menyiksa


__ADS_3

Adry berbaring dengan memeluk Raina, memikirkan apa yang telah terjadi tadi malam. Mungkin ini seperti percintaan biasa tetapi ini lebih dari pada itu lebih terasa keintiman mereka dan salah satu percintaan terbaik yang pernah dia rasakan.


Andai ini hanya sebuah penyatuan dua insan maka detak jantungnya tidak akan sekeras ini bahkan nyaris copot dari tempatnya. Walau pun cepat itu terasa menjalar ke syaraf dan membuat ke setiap sel tubuhnya bergetar hebat. Dia begitu terhanyut hingga tidak bisa untuk mengatakan tentang apa yang dia rasa dihatinya.


Kini, dia harus menemukan cara agar wanita itu tidak pernah pergi lagi. Dia pikir jika hubungan intim bukan cara yang baik untuk memperbaiki hubungan mereka karena itu bukanlah penutup luka yang telah dia perbuat.


Adry tahu bahwa terlalu banyak kepedihan yang telah terjadi dan ketidak percayaan yang membuat hubungan mereka semakin retak dan menjauh. Namun, dia bertekad untuk membuat hubungan baru yang kuat dilandasi dengan kepercayaannya. Bisakah dia membuat Raina mempercayainya lagi?


Adry memandangi Raina yang masih bergelung di dadanya. Hanya wajahnya saja yang terlihat dari balik selimut putih yang membentuk seperti awan.


"Raina apa sebaiknya aku membawakan sarapan untukmu?" tanya Adry menyentuh bahu Raina ringan.


"Hmm.. itu sepertinya ide yang bagus. Aku merasa sangat lelah dan aku sepertinya malas untuk menggerakkan tubuhku," ucap Raina tanpa membuka matanya.


"Kau ingin makan apa?" Adry tahu jika Raina akan makan yang dia mau jika tidak dia akan menyingkirkannya tanpa menyentuh.


"Aku ingin lontong sayur yang masih panas dan pedas serta segelas teh hangat."


"Raina dimana aku mencarinya?" tanya Adry yang tidak pernah memakan makanan itu.


"Kalau begitu pesan yang kau mau saja tidak usah tanya apa mauku." Raina lalu melepaskan pelukannya dan memunggungi Adry. Istri merajuk itu lebih parah dari kontrak yang terlepas dari tangan.


"Aku akan keluar mencarinya," ujar Adry lalu bangkit pergi ke kamar mandi sebentar dan cepat lalu kembali lagi dengan rambut serta tubuh yang masih basah. Tubuh pria itu terlihat padat dan berisi serta berotot membuat Raina menelan ludahnya. Tubuh yang telah meremukkan tubuhnya semalam.


Pria itu dengan cepat memakai bajunya dan pergi keluar kamar. Beberapa menit kemudian dia kembali lagi pergi ke laci dan mengambil uang tunai.

__ADS_1


Raina tersenyum di balik selimutnya hanya matanya saja terlihat. Adry pasti mengira makanan itu bisa dipesan di restauran bawah apartemen dia kembali karena tahu harus membeli nya di pinggir jalan. Wanita itu kembali melanjutkan mimpinya lagi.


Entah sudah berapa lama dia tertidur, namun sebuah gerakan di bahunya membuat dia membuka mata.


"Aku keliling kompleks ini dan menemukan orang yang jualan makanan ini terletak di dalam perkampungan. Aku membawa serta makanan di sana yang mungkin membuatmu suka."


Adry menunjuk ke tumpukan rantang di atas meja sofa. Raina mengangkat satu alisnya.


"Aku membeli sekalian wadahnya. Masa makanan itu dimasukkan ke dalam wadah plastik, itu tidak bagus untuk kesehatanmu dan janin kita."


Raina menarik nafasnya dengan gemas. Suaminya itu memang sangat polos tidak tahu tentang apa itu artinya beli makanan dipinggir jalan. Yang dia tahu hanya makanan mewah dengan label banyak bintang.


Raina lalu bangkit dan duduk sehingga selimut itu turun dan memperlihatkan bagian tubuhnya atasnya yang tanpa penutup. Adry lantas mengambil jubah untuk wanita itu dan memakaikannya. Lantas dia mencoba mengangkat Raina sekuat tenaga.


"Aku bisa sendiri," kata Raina yang merasa tubuhnya sangat berat sekarang.


"Aku biasa olahraga angkat beban jadi kau jangan menghinaku dengan mengatakan aku tidak kuat melakukannya. Aku yang berbuat aku yang bertanggung jawab," Adry terkekeh setelah mengatakan itu. Raina mencebik manja.


Adry meletakkan Raina di sofa dengan sangat hati-hati seperti sebuah benda rapuh yang gampang terkoyak dan rusak.


Setelah itu dia melihat rantang itu dan berpikir bagaimana cara membukanya. Raina yang tidak sabar lalu mengambil itu dan mulai melepaskan pengaitnya lalu menata semuanya diatas meja. Ada bakwan, sayur lodeh, sayur mie, telor dan kerupuk serta yang tidak ketinggalan potongan lontong. Air liur Raina sudah keluar dan dia menyesapnya lagi ke dalam.


Dengan tidak sabar dia mengambil makanan itu dan mulai menyantapnya. Baru saja beberapa suapan Raina menatap Adry.


"Kau coba makanan ini," kata Raina memperlihatkan serantang penuh lontong yang sudah bercampur dengan sayur yang berwarna merah.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak mau?" Adry takut mencobanya karena dia tidak pernah makan makanan pedas. Yang biasa Raina masak pun hanya terasa sedikit pedas dan tidak terlalu.


"Kau menolak keinginan anakmu, kau memang ayah buruk!" Raina lalu meletakkan rantang itu di meja dengan kesal.


"Ya Tuhan, apa ini?" Tadi kata ibu yang jualan dia harus mengikuti keinginan istrinya jika tidak ingin anaknya mengeluarkan air liur terus menerus jika nanti sudah lahir.


"Baiklah, aku akan memakannya." Dengan ragu Adry mengambil makanan itu dan mencobanya. Wajahnya langsung memerah, dia meraih teh hangat di depannya dan langsung menghabiskan air di gelas itu.


Mata Raina terlihat tidak puas ketika Adry membiarkan makanan itu tetap di meja. Wajahnya terlihat sinis dan mengerikan. Adry kembali menelan Salivanya yang tercekat di tenggorokan.


"Katanya kau akan melakukan apapun untukmu baru segitu saja kau menyerah. Sayang kan mubazir," ceramah Raina.


"Apa kau tidak ingin makan lagi Raina. Kau baru makan beberapa suap saja," kata Adry menyeka keringat di dahinya.


"Tadi aku sudah memesan salad buah untuk kumakan dari bawah karena kau sangat lama. Mungkin sebentar lagi pesanan ku akan datang."


Adry tersenyum tetapi telapak tangannya menahan geram. Mengapa dari tadi tidak pesan salad buah saja yang lebih mudah. Jika itu dia mampu menghabiskannya.


"Kau tidak mau memakan bekas punyaku?" tanya Raina sekali lagi dengan nada mengintimidasi.


Adry yang merasa tidak enak sekaligus takut jika istrinya akan kembali marah atau kecewa, mengambil rantang itu lagi. Jika tahu seperti ini dia akan memesan sedikit saja. Batin Adry.


Dengan gerakan seperti tersiksa Adry mulai menghabiskan makanan itu sedikit demi sedikit. Air putih di botol yang berisi satu liter tandas habis. Raina seperti menikmati apa yang Adry lakukan. Terbukti wajahnya menyirat sebuah senyum tipis penuh dengan kepuasan. Puas karena mengerjai suaminya, pikir Adry.


"Sayang, perutku sudah tidak kuat lagi menghabiskannya," kata Adry memegang perutnya yang kembung.

__ADS_1


"Ya, sudah kalau sudah tidak tahan jangan diteruskan nanti perutmu sakit," ujar Raina tanpa rasa bersalah dan tanpa ekspresi seolah semuanya normal saja. Hal itu membuat alis Adry terangkat ke atas dan mulutnya terbuka lebar.


Adry pikir dia butuh obat diare secepatnya.


__ADS_2