
Raina mengambil gaun satin dengan renda di bagian atasnya. Memakainya dari atas hingga menutupi sebagian tubuhnya. Pakaian itu memang melayang indah di tubuhnya.
Dia lalu memandangi pantulan dirinya di cermin, bergerak ke kanan dan kiri menatap hati-hati. Tubuhnya terlihat besar dengan dada yang penuh dan baju itu terlihat terbuka. Dia meringis.
Raina memandangi pintu dan tahu jika seharusnya dia pergi ke kamar Adry namun kakinya terasa berat, tak mampu untuk melangkah. Adry menginginkan mereka tidur bersama lagi dan tinggal satu kamar dan dia menyanggupinya.
Dia tidak ingin kesana bukan karena dia tidak mempercayai pria itu. Dia yang tidak mempercayai dirinya sendiri dan merasa begitu bodoh jika menyangkut pria itu. Begitu kembali dalam pelukan pria itu dan meringkuk dalam pelukannya, dia mungkin akan kehilangan sedikit akal yang masih tersisa dalam pikirannya.
Raina mendesah dan kembali duduk di tempat tidur. Keraguannya untuk kembali ke dalam pelukan Adry mengisyaratkan bahwa keretakan hubungan mereka masih ada. Pikirannya membuat dia terhalang dari Adry.
Dulu, Adry seringkali membawa pekerjaannya ke rumah. Membawa laptop di atas tempat tidur mereka dan berkonsentrasi penuh pada layar di hadapannya. Raina yang kesal biasanya membuang bajunya, bergerak merayu dan menggoda hingga pria itu melupakan laptopnya.
Adry tertawa dan berkata seharusnya dia tidak membawa itu karena tahu Raina pasti tidak akan membiarkannya. Kini, untuk pergi ke kamarnya saja Raina malu.
Suara pintu kamar Raina mulai diketuk lalu terbuka. Adry sesaat berdiri di pintu memandanginya lalu bergerak maju ke depan dan duduk di sebelah Raina. Meletakkan tangannya yang terbuka di atas paha Raina tanpa mengatakan apapun dan melakukan apapun.
Raina menatapnya lalu menautkan tangannya ke sela-sela jari Adry. Adry lalu bangkit dan menarik tangan Raina agar ikut berdiri.
"Kau dan aku sama-sama lelah. Ayo kita tidur dan jangan cemaskan hari esok."
__ADS_1
Adry menuntun Raina ke kamarnya hingga sampai di tempat tidur. Dia bisa merasakan kegelian Raina di dalam suasana kamar yang temaram. Adry mundur untuk memberi ruang Raina agar wanita itu tenang.
Raina lalu berbaring di sisi kanan favoritnya dan bergerak ke pinggir. Itu menandakan jika wanita itu ingin memberi jarak pada Adry. Adry lalu berbaring di sisi satunya. Tempat tidur bergerak dan melesak ke dalam ketika pria itu mendekatinya. Kehangatan menyelimuti ketika pria itu masuk ke dalam selimut. Hal itu membuat hati Raina berdebar dengan kencang.
Adry meletakkan tangannya di tubuh Raina menariknya agar lebih mendekat. Pipi pria ditempelkannya di pipi Raina lalu menyesap aroma dari tubuh wanita itu. Terlalu lama dia tidak merasakan perasaan ini. Satu titik air mata mulai keluar dari sudut mata wanita itu.
Adry mencium leher Raina dan merapat sedikit. Lalu menangkup kedua tangannya dan Raina di perut besar wanita itu.
"Rileks Raina, aku hanya ingin memelukmu seperti ini," bisik Adry di telinga Raina membuat tubuh wanita itu menegang. Namun, anehnya Raina juga menginginkan hal ini. Dia merasa tenang bisa tidur dengan nyaman dalam pelukan Adry. Bayinya yang biasanya bergerak di saat dia ingin tidur pun ikut merasakannya. Dia seperti tertidur pulas dalam perutnya.
Seharusnya hubungan mereka seperti ini semenjak dahulu tetapi mengapa semesta selalu memisahkan mereka di saat mereka bersama. Tidak awal pertemuan mereka, sepuluh tahun kemudian atau mungkin setelah ini.
Raina mengangkat kepalanya dan menatap pria itu masih memejamkan kepalanya. Dia handak bergerak untuk menjauh tetapi tangan Adry menghalanginya.
"Biarkan tetap seperti ini dulu." Pria itu ternyata sudah terbangun semenjak tadi. Raina lalu meletakkan kepalanya di dada pria itu dan mendengar degub jantung Adry sama keras dengan debaran dadanya.
"Kau masih tetap cantik ketika baru bangun tidur." Kata-kata itu membuat Raina tersentak dan menatap Adry. Bibirnya sangat dekat dengan bibir Raina. Entah apa yang mendorong Raina bergerak menyentuh bibir Adry dengan bibirnya. Bergerak pelan di atasnya. Adry terkejut tetapi terdiam membiarkan apa yang Raina lakukan.
Ketika Raina berhenti tiba-tiba tangan Adry mencengkeram kuat lengan Raina dan membalas ciuman itu. Awalnya lembut seakan merayu lalu menjadi keras seakan menuntut. Raina bisa merasakan nafas panas Adry yang berhembus kencang di pipinya.
__ADS_1
Dengan tangan pelan Adry melepas pengait penutup bagian depan tubuhnya. Sehingga dua buah yang besar itu menyembul keluar dengan bebas. Sebelum tersadar Raina sudah berbaring dan bibir Adry berkelana di tempat yang ada. Berapi-api, terengah-engah dan dengan kuat.
Adrenalin menghantam pembuluh darah Raina, cepat dan tajam. Membuat dia menggeliat tanpa henti. Sementara itu tangannya menarik rambut Adry satu tangannya menekan kuat tengkuk pria itu seakan memohon untuk meminta lebih.
Di saat itu, Adry memundurkan wajahnya dan menatap ke dalam mata Raina. "Aku ingin melakukannya denganmu tetapi jika ini hanya akan memperburuk hubungan kita aku akan menghentikannya."
"Keinginanku lebih besar dari keinginanmu," ucap Raina dan memang itu kenyataannya. Raina begitu merindukan dan mendambakan pria itu ketika mereka tidak bersama.
Mendengar jawaban Raina sorot mata Adry dipenuhi oleh api yang menyala. Dia merasakan kemenangan dan kepuasan lalu dia membungkuk dan mengecup bibir Raina sebelum membuat wanita itu bergerak untuk membuka kain yang menutup tubuhnya.
Adry tersenyum lalu mengusap perut Raina dan mengecupnya lama. "Bayi kita." Ada rasa yang mendesir di dada yang membuatnya nyeri tetapi merasa bahagia. Matanya berembun lalu meletakkan pipinya di kulit perut Raina.
Adry menghembuskan nafas kelegaan dan tersenyum. Tangan Raina mengusap jejak air mata di pipi pria itu.
"Cantik sekali." Adry menatap ke perut besar Raina. "Aku menyesal telah melewatkan pertumbuhannya dan melihat perubahan tubuhmu. Kau sangat seksi, Raina."
Raina merasa mabuk mendengarnya tetapi itu bukan alkohol. Jari-jari Adry mulai bergerak dan membuatnya kembali semakin tidak sadar. Tubuhnya merinding kala pria itu menatapnya tajam seakan mengatakan jika Raina adalah miliknya. Adry mulai menyatukan tubuh mereka. Mereka begitu cepat melakukannya.
"Maafkan aku, aku tidak bisa menahannya, mungkin karena sudah terlalu lama. Ini, ini begitu indah."
__ADS_1
Raina menarik bahu pria itu mendekat dan memeluknya. Adry mengecup dahinya. Percintaan mereka memang selalu indah tetapi Adry selalu bisa menguasai keadaan dan tidak hilang kendali seperti ini. Keputusasaan, ketakutan, kerinduan dan gairah yang menggebu melebur menjadi satu hingga membuatnya menjadi begitu cepat.