Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Apa Niatmu datang kemari?


__ADS_3

"Apa yang kuperoleh dengan menikahimu?" Roy menyilangkan tangannya. "Tidak ada."


"Aku juga tidak terlalu berharap kau menerimanya tapi jika iya mungkin itu jalan terbaik agar aku bisa lepas dari semua masalah yang membelit."


"Kenapa kau pikir aku bisa menyelesaikan masalahmu?" tanya Roy.


"Karena aku tahu sepak terjangmu dulu.... Aku dulu adalah bawahanmu," ujar Karina menggigit bibir bawahnya.


"Ya, kau pernah bekerja di perusahaan Quandt."


"Aku juga tahu kau punya affair dengan istri Kakakmu," kata Karina lagi.


Roy menatap tajam pada wanita itu. Tidak semua orang tahu masalah ini.


"Aku pernah melihat kalian bertengkar," ujar Karina. "Tidak lebih." Dia menatap Roy dengan intens.


Roy menghela nafasnya. "Apalagi yang kau tahu?"


"Tidak ada lagi, only that."


"Baiklah. Kau disini saja. Kita lihat apa yang akan Kakak lakukan padamu," kata Roy.


Karina dibawa ke villa yang didiami oleh Adry. Di sana Raina dan Adry sudah menunggu. Karina lalu ditarik dan di dorong ke lantai di bawah kaki Adry dan Raina.


"Bisakah kau sedikit halus dengan wanita!" seru Raina.

__ADS_1


"Tidak pantas mengasihani seorang pengkhianat ular tetap ular tidak akan berubah menjadi seekor kucing jinak yang manis." Roy lalu memilih duduk di sudut ruangan untuk bisa leluasa mengamati pergerakan Karina.


"Ish kau itu." Raina membantu Karina berdiri.


"Apa yang Roy katakan itu benar Raina. Dia kemari untuk menghancurkan kita."


"Tapi dia wanita."


"Itulah sebabnya aku tidak suka jika kau ikut urusan pria," gerutu Adry. Raina tidak memperdulikan perkataan Adry. Dia lalu menyuruh Karina duduk di salah satu kursi dan memberinya air mineral.


Karina lalu memegang gelas dengan kedua tangannya. Pandangan Adry padanya serasa menguliti. Aura Adry yang tenang malah terlihat lebih menakutkan dan dingin tetapi pria itu berusaha untuk tidak terlalu memperlihatkan emosi dan kebenciannya. Bagaimanapun apa yang Janeta katakan memang benar jika Raina bisa mengendalikan pria itu.


"Apa yang kau suruhan dari ibuku?" tanya Adry.


"Jika kau berbohong kau malah mempersulit keadaanmu. Jangan membuat emosiku naik!" Adry mengucapkan itu dengan lirih namun terdengar tegas, kilatan tajam matanya laksana pedang membuat Karina bergidik.


"Aku tidak berbohong," kata Karina.


"Okey!"


Adry berdiri dan mengambil laptop miliknya. Dia lalu memperlihatkan sebuah pesan what's up yang dilakukan oleh Karina dengan seseorang.


"Di situ memang tidak ada keterangan siapa yang menghubungimu tetapi kau tahu, kau berbicara dengan siapa," kata Adry.


Karina tertawa kecil lalu menghela nafasnya.

__ADS_1


"Pulau ini memang sangat terjaga dengan baik dan tidak ada sesuatu yang bisa keluar tanpa mendapat pantauan dari kalian. Termasuk pesan yang aku kirim secara diam-diam."


"Kalau begitu ceritakan niatmu kemari," kata Adry.


"Ayah dan Ibumu sudah tidak ada di Cape Town. Mereka sudah dibawa pergi oleh seseorang. Jika kau tidak mau berkerja sama dengan kami maka kau dan keluargamu tinggal nama saja."


"Itu terlalu kejam!"


"Tidak ada yang kejam Sayang, ini tentang keselamatan keluarga kita."


"Sebetulnya ini mudah, kalian tinggal minta maaf pada orang tua kalian dan semua akan selesai," sela Karina.


"Jika semudah itu," ujar Raina membuang muka.


"Intinya Nyonya Besar hanya terluka melihat kalian bahagia, terutama kau Tuan Adry. Kau bahkan melupakan keluargamu, darahmu dan juga hubunganmu."


"Tahu apa kau tentang hubungan kami," seru Adry dengan tatapan tajam.


"Sekarang katakan saja apa yang kau rencanakan!" suara Adry meninggi. "Teman kencanmu sedang menunggu di boat sekarang." Adry tersenyum smirk.


"Kau pikir bisa mengelabui kami dengan mudah."


"Ibumu hanya ingin aku mengambil peta tempat ini dan mengetahui sistem keamanannya."


"Hanya itu? Itu terlalu mudah," Adry tersenyum smirk lalu pandangan matanya menggelap.

__ADS_1


__ADS_2