
Esok paginya, Karina mendapatkan pesan tidak dari ibunya. Ibunya mengatakan ada beberapa orang pria berseragam yang datang dan memaksa ibunya untuk tutup mulut dan diam tidak membicarakan kasus ini lagi. Mereka mengancam akan membunuh Karina dan Ibunya jika bukti yang Ayahnya sempat bawa di berikan ke pihak berwajib.
Karina yang mendengar hal itu menjadi panik. Tiba-tiba rasa sesak memenuhi dadanya. Dia mulai kesulitan bernafas.
Roy mulai khawatir karena Karena tidak kunjung keluar dari kamar mandi.
"Karina," panggil pria itu untuk ketiga kalinya namun tidak ada jawaban sama sekali. Roy lalu membuang selimutnya. Dia berjalan pelan menuju ke kamar mandi.
"Karina apakah kau masih ada di dalam?" Panggil Roy lagi.
Suara berdebum pelan terdengar membentur dinding berkali-kali. Roy berlari cepat membuka pintu kamar mandi.
Roy meraskan bagian dari dirinya kehilangan nyawa ketika melihat Karina telengkup sambil memukul tembok dengan satu tangan yang lemah.
"Karina, Ya Tuhan."
Roy segara menjatuhkan diri di dekat Karina. Dia memangku wanita itu dan meletakkan tangannya di pipi Karina.
"Tas," lirih Karina.
"Apa yang terjadi, penyakitmu kambuh lagi?"
"Inhaler," suara Karina semakin terdengar kecil.
Roy merasa sangat panik. Pikirannya sempat hilang untuk beberapa saat. Hingga akhirnya dia pergi meninggalkan Karina sendiri di lantai dan berlari ke ruang dokter atau perawat terdekat.
Roy melihat seorang Dokter sedang berjalan di tikungan lorong. Dia lalu memanggil Dokter itu.
"Dokter tunggu!" teriak Roy memegangi dadanya yang nyeri. Dokter itu menghentikan langkahnya dan mendekati Roy.
"Selamat malam Tuan, tidak seharusnya Anda berlari di te...," Dokter itu menghentikan kata-katanya karena Roy memotong terlebih dahulu.
"Aku butuh pertolonganmu di kamar mandi dalam ruanganku. Seseorang sedang menderita sesak nafas sekarang dan harus mendapatkan pertolongan secepatnya."
"Ayo kita kesana, sekarang."
Dokter itu lalu memanggil perawat yang lainnya untuk datang ke ruangan yang ditunjuk oleh Roy.
Roy hanya bisa bersandar lemas di tembok sembari melihat Karina yang sudah pingsan.
Beberapa saat kemudian wanita itu sudah berada di ruang tindakan.
"Anda beruntung Nona Karina segera mendapatkan pertolongan," ucap Dokter yang sedang memberi pertolongan padanya.
__ADS_1
Nafas Karina masih tersengal-sengal, kondisi paru-parunya belum sepenuhnya pulih tetapi ini lebih baik dari pada tadi. Karina tidak pernah menyangka penyakitnya akan separah ini.
"Kapan terakhir kalinya kau menemui seorang Dokter penyakit dalam yang khusus menangani masalah paru-paru?" tanya Dokter itu dengan raut wajah menyebalkan.
"Aku menemui Dokter langgananku sebulan sekali," jawab Karina.
"Apakah dia Dokter spesialis?" tegas Dokter itu
"Bukan Dokter umum biasa." Pria itu menarik nafas kesal serta menggelengkan kepalanya.
"Kau butuh seorang Dokter paru-paru, seharusnya kau tahu itu!"
Karina tahu dia membutuhkan seorang Dokter spesialis tetapi dia mengabaikannya. Dia pikir Dokter umumnya masih bisa mengatasi dan mengendalikan asmanya dengan mengkonsumsi obat yang diberikan.
"Apa kau punya rumah sakit di Jakarta sebagi tempat rujukan?" tanya Karina. Dokter itu nampak berpikir sejenak.
"Aku akan merujukmu pada Dokter Frans di salah satu rumah sakit besar di Jakarta."
"Kami juga punya Dokter spesialis, aku tadi sudah menghubunginya dan dia menyarankan sejumlah obat yang mungkin bisa konsumsi nanti. Besok kau bisa menemuinya."
Sang Dokter mulai menjelaskan resep obat yang dia berikan pada Karina sebelum meninggalkan ruangan.
"Dokter," panggil Karina ketika Dokter itu akan membuka pintu ruangan.
"Apa?"
Karina menghela nafas panjang. Dia lalu membenarkan letak selang dan mengucapkan terima kasih.
"Berterima kasihlah padaku dengan tidak lagi kembali kemari. Apa kau tahu ada berapa banyak wanita muda sepertimu yang meninggal setiap tahunnya akibat serangan asma?"
Karina menggelengkan kepalanya.
"Jangan jadi salah satu diantara mereka." Dokter itu melirik ke arah monitor diatas kepala Karina.
"Kau akan berada di sini untuk beberapa waktu Nona Karina. Sebaiknya kau mencoba untuk tidur," saran Dokter itu.
Karina memejamkan matanya dan merasakan debar jantungnya semakin kencang, meskipun aliran nafasnya terlalu pendek. Namun, setidaknya semua itu berfungsi. Karina bis membayangkan nasib seekor ikan yang keluar dari air.
"Karina," panggil Roy yang sudah berbaring di sebelahnya. Dia membangunkan wanita itu. Karina mulai membuka matanya dan terkejut lalu tersenyum di detik kemudian.
"Karina aku tahu kau suka menarik perhatian semua orang tetapi tidak dengan cara seperti ini. Ini terlalu berlebihan."
Karina memukul lengan Roy dan tersenyum.
__ADS_1
"Bukankah kau seharusnya di kamarmu?" tanya Karina menaikkan selang infus di mulutnya agar bisa berbicara dengan jelas.
"Bagaimana aku bisa tidur nyenyak jika keadaanmu sendiri seperti ini."
Karina sangat menyukai perhatian dari Roy yang tidak dibuat-buat. Dia lalu menggeser tubuhnya agar Roy bisa lebih leluasa berbaring.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Roy.
"Lebih baik." Roy mendesah mendengar jawaban Karina.
"Kau membuatku khawatir dengan keadaanmu," ujar Roy. Karina menyentuh lembut rahang pria itu yang sudah mulai ditumbuhi dengan bulu-bulu halus.
"Maaf," ujar Karina.
"Apa yang terjadi?" tanya Roy.
"Aku hanya terpeleset," bohong Karina.
Roy menyipitkan matanya seolah mencari kebenaran dari kata-kata Karina.
"Mungkin karena lantai kamar mandinya yang licin," lanjut Karina. Roy menyatukan kedua alisnya. Cara bicara Karina terdengar gugup. Namun, dia tidak mungkin akan mencecar wanita itu dengan banyak pertanyaan karena kondisinya tidak sedang stabil.
"Kau menyelinap kemari?" tanya Karina mengalihkan pembicaraan.
"Hmmm," ujar Roy pendek.
"Mereka akan mencarimu dan jika mereka tahu kau disini maka mereka akan mengusirmu dari kamar ini. Kalau itu terjadi jangan katakan jika aku tidak memperingatkanmu," ucap Karina.
Wanita itu lalu melihat jam dinding. "Sudah pukul dua malam," ujarnya.
"Kalau begitu tidurlah, percaya padaku tidak ada yang berani mengusirku dari sini. Aku akan menemanimu. Jika perlu sampai kau pulih dan bisa kembali pulang."
"Kau yakin?'' tanya Karina tidak percaya. Kondisi Roy juga tidak sedang baik-baik saja dia khawatir hal ini akan membuat kesehatan pria itu tidak stabil.
"Aku akan baik-baik saja," ucap Roy yang tahu apa arti tatapan Karina. Wanita itu tersenyum lalu memeluk lengan Roy dan mencoba untuk memejamkan matanya.
"Apa kau sering mengalami ini?" tanya Roy. Karina membuka matanya lagi.
"Biasanya tidak separah ini," ujar Karina menatap netra Roy yang teduh. Pria itu lantas mengusap kepala Karina.
"Jika ada apa-apa ceritakan padaku. Aku pasti akan membantumu," ucapnya. Karina terkejut mendengar perkataan Roy.
Dia nampak ragu untuk mengatakan semuanya.
__ADS_1
"Apakah kau tidak mempercayaiku?" tanya Roy lagi. Pria itu sangat pandai menebak perasaan seseorang dan tahu jika Karina sedang menyembunyikan sesuatu.
"Aku ... aku... hanya tidak ingin menambah masalahmu," ungkap Karina.