
Raina tertidur setelah Adry pergi bekerja. Vitamin yang diberikan oleh Dokter serta kondisinya yang sedang berbadan dua membuat dia mudah sekali tertidur.
Rere masuk ke kamar Raina dan melihat ibunya sedang tidur. Dia lalu kembali keluar kamar. Pengasuh Rere sendiri sedang membuat susu untuknya dan tidak tahu jika Rere berkeliaran sendiri di rumah.
Janeta yang sedang berkeliling menggunakan kursi rodanya melihat Rere sedang berjalan di pinggir pagar pembatas balkon dalam rumah.
Janeta ingin memanggil seseorang tetapi tidak ada seorang pun di ruangan itu.
"Rere, jangan ke pinggir nanti jatuh," teriak Janeta namun Rere yang berada di atas tidak mendengarkan.
Dia lalu menjalankan kursi rodanya ke arah lift. Berharap semoga anak itu tidak melakukan hal yang berakibat buruk. Benar saja, ketika lift sampai ke lantai dua Rere sudah berada di sela-sela pagar pembatas tangannya keluar hendak meraih mainannya yang tersangkut.
"Di mana semua orang?" omel Janeta. Dia menjalankan kursi roda dengan cepat ke arah Rere. Lalu meraih tangan Rere. Anak itu terkejut, mengerjapkan bulu matanya lentik, menatap Janeta.
"Menangislah yang keras agar ada yang tahu kau sendiri di sini."
Bukannya menangis Rere malah tersenyum. Mirip sekali dengan senyuman Raina yang tulus. Dua lesung tersemat indah di pipinya yang chubby mirip sekali dengan Adry.
__ADS_1
"Ibu tidur, Nanny tidak ada," ucap Rere.
"Berbahaya bila bermain di pinggir pagar. Kau bisa jatuh nanti."
"Bola Rere ada di sana," tunjuk Rere ke sela-sela pagar.
"Nanti biar Frans yang ambilkan untukmu. Nenek tidak bisa mengambilkannya. Sekarang ikut Nenek saja bermain di luar," ajak Janeta.
Rere menatap ke arah kursi roda Janeta. Wanita tua itu tersenyum.
"Kemarilah naik ke sini," tunjuk Janeta di pangkuannya. Senyum lebar kembali tersemat di bibir Rere. Dia lalu mendekat ke arah Janeta dan merangkak naik ke atas.
"Ya, Tuhan Rere. Nanny mencarimu dari tadi. Rupanya kau ada di sini," ucap wanita itu.
"Kau darimana saja? Tahukah kau karena ketelodaranmu Rere hampir saja jatuh ke lantai satu. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan cucu perempuanku!" bentak Janeta pada pengasuh itu.
"Nenek marah... tidak boleh teriak-teriak kata ibu," ujar Rere membuat Janeta terdiam.
__ADS_1
"Nanti aku akan mengatakan hal ini pada Frans agar menggantimu dengan orang lain. Kau tidak becus mengasuh cucuku ini."
Pengasuh itu hanya bisa menundukkan wajahnya.
"Mungkin kali ini kau akan diberi peringatkan dan hukuman lain kali tidak ada ampun untukmu. Kau itu datang dari mana? Bagaimana bisa Frans memasukkan orang yang tidak bisa bekerja masuk ke dalam rumah ini," omel Janeta.
"Mana susunya," pinta Janeta. Pengasuh itu memberikan botol susu untuk Rere pada Janeta wanita itu langsung memberikan pada Rere. Anak itu lantas meminum susunya sambil duduk di pangkuan Janeta.
"Bawa aku berkeliling rumah," perintah Janeta.
Awalnya Rere terlihat antusias lama-lama dia tertidur di pangkuan Janeta sambil meminum susunya.
Frans yang melihat Rere sedang duduk dipangkuan nampak membuka mulutnya lebar dengan anggun. Dia lalu mendekat.
"Nyonya? Aku tidak sedang bermimpi kan?" tanya Frans. Janeta menghela nafasnya.
"Sekarang bawa aku ke kamarku dan baringkan dia tempat tidur milikku. Raina sedang sakit jadi tidak bisa merawatnya untuk sementara waktu. Sedangkan pengasuh ini tidak becus menjaga Rere. Dia hampir terjatuh dari lantai dua ke lantai satu tadi."
__ADS_1
Frans menajamkan mata menatap pengasuh itu.
"Gajimu akan dipotong lima belas persen nanti!" ucapnya dengan suara seorang pria yang berwibawa.