Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Ramai


__ADS_3

"Hana... ," panggil Roy lembut, dia tahu jika hanya si Kembar yang bisa menenangkan Hana. Namun, dia ingin mencoba melakukannya.


Dia tidak berusaha mendekati Hana secara langsung. "Hana... ini aku, aku tidak akan menyakitimu...."


Isak tangisnya mulai berhenti.


"Hana kau percaya padaku kan?" Roy mulai mendekati Hana satu langkah.


Hana mulai mengangkat kepala. Pipinya basah oleh air mata dan matanya memerah ketakutan menatapnya.


"Jangan sentuh aku, jangan sakiti aku...."


"Maafkan aku karena telah menyakitimu. Aku janji tidak akan melakukannya lagi."


"Jangan bicara denganku!" ucap Hana memeluk tubuhnya sendiri. Hati Roy terasa sakit dan perih melihatnya. Rasa penyesalannya tidak bisa mengembalikan apa yang sudah terjadi. Tidak bisa membayar semua kesalahannya.


"Maaf, Hana. Aku minta maaf atas semua yang terjadi, tapi kumohon ijinkan aku untuk membantumu keluar dari masalah ini."


Hana masih menatap Roy dengan takut dan kosong, dirinya masih terperangkap dalam memori beberapa tahun silam. Saat dia bersama dengan Roy dalam satu kamar.


"Sakit...." suara Hana lirih memelas.


Roy menutup matanya. Dia tidak tega melihat keadaan Hana yang seperti ini.


"Kita akan obati sakitmu."


"Jangan lagi... kumohon," cicit Hana terisak.


"Tidak... aku tidak akan melakukan apapun padamu. Hanya ingin mengobati sakitmu," kata Roy.


"Kau bohong, kau melukaiku."


"Maaf, aku tidak akan melakukannya lagi. Percaya padaku... percayalah!"


Hana menatap Roy. Lalu tiba-tiba jatuh terkulai tidak sadarkan diri.


Roy langsung meraih dan memeluknya.


"Hana... Hana...," panggil Roy. Namun, Hana tidak kunjung membuka matanya. Roy lalu membawa Hana ke kamarnya. Menghindari si Kembar. Dia tidak ingin mereka tahu apa yang terjadi dengan ibunya dan membuat mereka khawatir.


Setelah meletakkan Hana di kamar miliknya. Roy lalu menghubungi Rama.


"Ada apa Roy. Aku ada di jalan."


"Hana pingsan setelah teringat kejadian itu."


"Itu buruk, berarti dia dalam keadaan tertekan."


Roy menatap Hana dengan prihatin. Dia mengusap pipi wanita itu menghilangkan bekas jejak tangis.


"Aku harus bagaimana?"


"Aku akan kesana nanti malam setelah tugasnya di salah satu rumah sakit selesai."

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan menunggumu."


Roy mulai mengamati Hana. Dia merasa ini tidak adil bagi wanita itu mengalami hal menyedihkan yang menghancurkan hidup dan masa depannya.


Hana berpura-pura kuat dengan memperlihatkan senyumnya pada semua orang padahal jiwanya terluka dalam. Hal itu membuat gangguan psikis yang hebat.


Roy menunduk. Berbisik di telinga Hana. "Percayalah padaku, aku tidak akan menyakitimu. Percayalah jika aku akan menjagamu seumur hidupku, walau kau bersamaku atau tidak."


***


Saat ini mereka sedang bersiap makan malam bersama.


."Ibu dimana Ayah?" tanya Bagus.


"Ibu sedang beristirahat di kamar Ayah. Katanya kalian suka mengganggu nya."


"Kenapa tidak di suruh makan sekalian?" Semua orang menatap Bagus dan Roy bergantian.


"Ibumu sedang butuh ketenangan. Kalian tahu jika ibu suka sakit kan?"


"Apa Ibu menangis lagi?" tanya Bagus dan Ayu bersamaan. Mereka nampak khawatir.


"Ibu sedang istirahat, tidur di kamar Om. Kalian jangan khawatir," terang Roy berusaha untuk membuat si Kembar tenang.


"Apa kami bisa melihat Ibu?" tanya Ayu.


"Besok pagi saja, ya?" bujuk Roy. "Akan ada dokter yang datang dan memeriksa. Semua dilakukan agar ibu bisa cepat sembuh dan tidak mengalami hal itu lagi."


"Hush, Ini masalah keluarga mereka kita boleh ikut campur," ucap Adry.


"Aku hanya ingin tahu."


"Kau masih kecil untuk tahu." Regina lalu memajukan bibirnya kecewa dengan jawaban Ayahnya. Dia masih mode mengambek dengan Raina. Jadi tidak mau duduk di sebelah sang ibu.


"Lalu aku tidur dengan siapa? Kakak tidur denganku, ya?" pinta Ayu.


"Tidur bersamaku saja, Ayu," tawar Regina.


"Memang boleh?" tanya Ayu.


"Tentu saja, kita bisa bercerita banyak nanti," jawab Regina


"Lalu aku tidur dengan siapa? masa di bawah sendiri."


"Bersamaku saja," tawar Aaric.


"Jangan, dia tidak akan memberimu tempat tidur karena tubuhnya besar dan dia kalau tidur tidak bisa tenang," ujar Leon.


"Kakak!" panggil Aaric kesal.


"Sudah, sudah. Nanti biar Ibu meminta pelayan membawa kasur tambahan untuk Bagus agar bisa tidur bersama dengan Aaric." Raina lalu memandang Leon tajam. "Leon Ibu tidak suka kau membully adikmu karena tubuhnya. Itu sangat menyakitinya. Dia bisa tidak percaya diri karena kata-katamu!"


"Maaf Ibu aku hanya bercanda."

__ADS_1


"Itu keterlaluan, kau dulu tahu bagaimana tidak enaknya ketika diejek oleh temanmu kenapa kau malah seperti itu pada adikmu!"


Leon lalu menunduk.


"Sudah, Raina kita akan makan bukan berdebat," ujar Carl.


"Maaf, Ayah."


"Ayo, semuanya makan."


"Maaf aku tidak bisa menemani kalian. Aku akan membawa makanan ini saja ke atas untuk Hana."


"Silahkan!" ujar Carl. Roy dibantu Raina mengambilkan makan untuk Roy dan Hana lalu meletakkannya di baki dan dibawa Roy ke atas.


Sedangkan semua orang dalam ruangan, mulai makan bersama dan seperti biasa suasana nampak ramai. Entah itu berebut makanan atau hal kecil dalam pembicaraan.


Janeta dan Carl menikmati kegaduhan itu. Tidak dengan Raina yang sibuk melayani semua orang. Lupa jika dirinya pun belum makan.


Adry yang melihat lalu menariknya duduk. Dia menyuapi istrinya.


"Makan dulu," ujarnya. Raina lalu tersenyum.


"Ayah dan Ibu membuat yang muda ini ingin cepat dapat jodoh dan menikah!" celetuk Leon.


"Tidak boleh!" balas keduanya bersamaan.


"Kenapa tidak boleh? Aku sudah lulus dan besok mulai bekerja di perusahaan."


"Tidak sebelum kau menyelesaikan S2-mu, " ujar Adry.


"Kalau Ibu belum siap dipanggil Nenek. Ibu masih terlalu muda untuk itu," ujar Raina.


"Sayang, umurmu sudah kepala empat."


"Memang ada masalah apa dengan kepala empat, semua mengira aku masih muda umur dua puluhan. Kau lihatkan semua komentar di laman publik milikku."


"Kalau begitu, Ayah menarik kata-kataku tadi. Kau boleh menikah muda agar ibumu sadar jika dia sudah tua."


Leon yang sedang minum menyemburkan minumnya. Sedangkan Raina tersedak. Adry memang terlalu posesif dari dulu hingga sekarang.


"Apa kau tidak suka jika aku terlihat muda dan cantik?" kini giliran para orang tua yang berdebat.


"Bukan tidak suka Sayang, hanya saja aku menjaga istriku agar sadar bahwa umurnya sudah tidak muda lagi. Kau sudah pantas untuk jadi nenek jadi tidak usah posting cantik cantik centil."


"Ayah, Ibu kalian lihat yang dikatakan oleh anakmu ini?"


"Dia hanya cemburu, takut jika ada yang naksir lalu menggodamu," ujar Janeta menengahi pembicaraan.


"Sungguh? Itu sweet sekali Sayang. Aku jadi makin mencintaimu." Raina mencubit pipi Adry dengan gemas membuat Ayu dan Bagus tertawa.


"Paman dan Bibi, lucu."


Mereka senang berada di lingkungan yang hangat oleh kasih sayang dan penuh candaan.

__ADS_1


__ADS_2