
"Aku sangat senang hanya saja kau tahu bagaimana keadaanmu ketika melahirkan Rere. Aku sangat takut kehilanganmu waktu itu." Pelukan Adry yang hangat membuat Raina merasa tenang dan nyaman.
"Aku rasa kehamilanku kali ini akan baik-baik saja karena kau ada bersamaku."
Adry terdengar menghela nafas berat. "Ketika hamil Leon, kau sendirian menghadapi dunia sedangkan aku malah... entahlah. Hamil Rere, aku malah menuduhmu. Jika ingat semua itu membuatku semakin dirundung rasa bersalah. Seolah semua yang kulakukan tidak bisa menebus semua dosa ku padamu. Maafkan aku, Sayang."
"Semua sudah berlalu, jangan diungkit-ungkit lagi. Nasi yang sudah basi tidak enak jika dimakan kembali."
Adry mengecup pucuk kepala Raina. Dia sangat beruntung mempunyai istri seperti Raina yang sabar dan tegar dalam menghadapi semua masalah.
"Apakah aku boleh pulang sekarang. Bau rumah sakit selalu membuat kepalaku pusing," pinta Raina.
"Nanti setelah kita melakukan pemeriksaan kehamilanmu dengan dokter spesialis serta melihat kondisi calon bayi kita."
"Bayi... sepertinya aku selalu minum pil KB agar tidak hamil tetapi... ."
"Ini anugerah harus kita syukuri."
"Hanya saja bagaimana bisa?"
"Apa yang tidak bisa terjadi."
"Rere masih terlalu kecil," ujar Raina.
"Apa kau tidak menginginkannya?"
Raina terkejut dengan pertanyaan dari Adry untuk sesaat. Dia lalu tertawa kecil.
"Bukan begitu... aku hanya berpikir belum siap hamil lagi." Raina menunduk. "Ibu... aku belum merebut hatinya." Suaranya terdengar sedih.
"Semua butuh proses dan waktu, Raina."
"Aku tahu, hanya saja dalam hatiku selalu bertanya, kapan dia akan menerimaku sebagai menantunya? Aku juga ingin seperti wanita lain yang bisa bercerita tentang masalah rumah pada mertuanya atau menggunjing di belakangmu."
__ADS_1
Adry mencubit hidung kecil dan mancung milik Raina.
"Nakal!"
***
Sedangkan di rumah keluarga Quantd. Carl terlihat kewalahan menghadapi rengekan Rere yang meminta ibunya untuk cepat pulang. Leon pun sudah berusaha keras agar Rere tidak menangis tetapi tetap saja anak itu marah-marah dan menangis jika teringat ibunya.
Janeta melihat apa yang terjadi. Dia menggerakkan kursi rodanya mendekat ke arah Carl.
"Rere lapar mungkin. Jika dia kenyang maka dia akan tertidur. Anak kecil selalu seperti itu."
"Dia hanya butuh ibunya."
"Kau coba ajak dia bermain di luar sambil disuapi, ceritakan apapun yang membuat fokusnya tidak tertuju pada ibunya. Setelah itu, bawa ke ruang keluarga ajak menonton film kesukaannya."
"Apa yang nenek ucapkan benar. Ibu selalu mengajak makan Rere sambil bermain, lalu mengajak bercerita di atas ranjang dan Rere nanti tertidur."
Carl menatap Janeta tetapi wanita itu sudah kembali pergi dengan kursi rodanya. Seulas senyum tipis terbit di bibir Carl.
Janeta sendiri hanya melihat aktifitas mereka dari kejauhan. Egonya masih membuatnya menahan diri untuk mendekat ke keluarga.
Sore harinya, Raina dan Adry kembali pulang ke rumah setelah sebelumnya Dokter memberi peringatan pada Raina agar berhati-hati dalam kehamilannya kali ini. Mereka pun harus melakukan pemeriksaan rutin selain itu Raina dalam status pengawasan Dokter.
Mobil memasuki rumah keluarga Quandt. Leon yang mendengar suara mobil datang langsung berlari ke bawah. Sedangkan Carl yang sedang duduk bersantai melepaskan penatnya dengan duduk di kursi malas. Dia bernafas lega setelah tahu Adry dan Raina kembali.
Hari ini dia membatalkan beberapa rapat penting di perusahaan. Ternyata, mengurus anak itu lebih melelahkan dan memusingkan daripada mengurus perusahaan besar. Pinggang tuanya bahkan sampai sakit karena harus menggendong Rere yang menangis sepanjang hari. Beruntung Janeta mengatakan apa yang harus dia lakukan, sehingga Rere bisa tidur setelah anak itu merasa kenyang dan kecapaian.
Membayangkan Raina mengurus rumah sebesar ini, mengasuh anak serta merawat Janeta yang sering membuat ulah itu adalah pekerjaan yang sangat berat. Dia bahkan tidak pernah mengeluh atau meminta bantuan pada orang rumah. Pantas saja jika menantunya itu jatuh sakit. Seharusnya, dia juga meluangkan waktu untuk bermain-main dengan cucunya di kala senggang untuk mengurangi pekerjaan Raina.
"Ayah... Ibu... ," Leon berlari menyambut kedatangan Raina dan Adry. Dia lalu memeluk Raina dengan erat. Menangis.
"Ibu tidak apa-apa kan?" tanyanya khawatir. "Aku takut kalau Ibu sakit."
__ADS_1
"Ibu baik-baik saja hanya sedikit pusing tadi."
"Leon," Adry memberi tanda anaknya untuk menyingkir. Leon dan Raina tidak mengerti mengapa Adry melakukan itu. Belum sampai satu detik, tubuhnya sudah diangkat oleh Adry.
"Ibumu ini tidak boleh lelah, Ayah harus menggendongnya ke kamar," ucap Adry. Raina mengalungkan tangan ke leher suaminya.
"Ayahmu ini lebay," ujar Raina tetapi tertawa. Leon pun tertawa senang melihatnya.
Mereka lalu masuk ke dalam rumah, langsung melewati Carl yang sedang duduk bersantai di dekat jendela.
"Apa kau sudah baik Raina sehingga kau sudah kembali?" tanya Carl bangkit.
"Dia hanya kelelahan Ayah. Selain itu, ehem...," Adry berdehem, Raina menggerakkan kedua alis menatap dirinya. "Leon, Ayah aku punya berita baik."
"Berita apa itu?"
"Kau akan punya satu adik lagi."
Mata Leon membelalak lebar. Carl tertawa lalu bertos ria dengan Leon. "Rumah ini akan semakin ramai nantinya oleh celoteh anak."
"Selamat Raina," ucap Carl.
"Yeay, aku akan punya adik lagi berarti nanti akan ada penghuni baru di rumah ini." Leon terlihat diam dan sedih.
"Aku tidak melihat Rere sewaktu masih di perut Ibu, tidak melihatnya sewaktu bayi. Ayah bahkan tidak mengatakan jika aku punya adik lagi." Leon mengusap air matanya yang mulai jatuh.
Adry menurunkan Raina lalu berjongkok di depan Leon. "Maafkan Ayah, Sayang. Waktu itu Ayah tidak ingin melihatmu bertambah sedih. Semua gara-gara Nenek, aku benci dia...," ucap Leon yang baru pernah memperlihatkan isi hatinya.
"Leon kau tidak boleh berbicara begitu," ucap Raina.
"Memang seperti itu, kata Nenek jika aku tidak menurutinya maka Ibu akan dipenjara. Jadi aku harus selalu menurut padanya. Termasuk meninggalkan Ibu sendiri." Leon lalu memeluk tubuh Raina dan menangis. "Aku bahkan tidak boleh berbicara dengan Ibu," imbuhnya dengan suara parau dan gemetar.
Mata Raina memerah dan buliran bening tidak bisa dia tahan lagi. Dia mengelus rambut Leon dengan lembut. Dia marah pada Janeta yang benar-benar telah mempermainkan hidupnya tetapi lega karena Leon diam bukan karena kecewa padanya telah melakukan hal buruk pada neneknya. Dia hanya merasa takut karena diancam.
__ADS_1
Sedangkan Carl dan Adry saling memandang.
Janeta yang sedang mengintip dari kejauhan langsung menjalankan kursi rodanya ke kamar. Belum sampai dia menutup pintu, Adry terlihat sedang berjalan ke arahnya. Aura tubuh anaknya terasa mencekam.