
Raina kembali masuk ke dalam rumah itu bersama dengan Adry. Dia berhenti di pintu sebelum benar-benar masuk ke dalam. Tangannya berkeringat dingin. Dia menatap Adry yang memandangnya dengan penuh cinta.
Kali ini dia memang tidak sendiri. Ada Adry di sisinya. Kini pun tidak lagi menjadi yang kedua, hanya dia satu-satunya. Janeta, dia yakin bisa menakhlukannya.
Tidak ada yang berubah dari rumah itu, semua nampak sama. Leon sendiri terlihat turun dari tangga dan mendekati Rere.
"Lihat apa yang Kakak bawa," ucap Leon memperlihatkan boneka kayu satu set dalam kotak. Rere nampak antusias melihatnya.
"Kita ke kamarku yuk, di sana kakak punya banyak mainan." Leon lalu mengajak Rere turun dari gendongan Adry. Mereka telah lebih dahulu baik ke atas.
"Hati-hati Leon, adikmu belum terlalu bisa naik tangga dan tidak terbiasa!"
"Aku lupa seharusnya aku mengajaknya naik lift saja tetapi aku juga ingin mengajak Rere melihat rumah ini." Leon merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa," ujar Adry.
Mereka lalu menuju lantai dua di mana kamar Adry ada di sana. Sedangkan, Leon dan Rere sudah tidak terlihat lagi.
Ketika Adry hendak membuka kamar itu, Frans menghentikannya.
"Tuan, saya menyiapkan kamar yang dulu Tuan tempati," kata Frans. Maksudnya adalah kamar yang dulu ditempati oleh Adry dan Nita.
"Tidak! Aku mau tinggal di kamar ini atau di kamar tamu saja," tolak Adry. Dia memang tidak ingin kehidupan rumah tangganya dibayangi oleh Nita walau itu hanya sebuah memory. Bukan karena dia membenci Nita, lebih kepada menjaga hati Raina.
"Kalau begitu, biar pelayan membersihkan semuanya terlebih dahulu. Kami akan menyiapkannya secepat mungkin," ujar Frans. Dia lalu menepuk tangannya dan menyuruh para pelayan untuk membersihkan kamar. Walau selama ini tidak digunakan tetapi mereka tetap rutin merapikannya.
"Ganti seprai dan selimutnya," ucap Frans di dalam kamar, yang masih terdengar oleh Raina di luar kamar itu.
"Kita ke kamar Leon saja," pinta Raina. Mereka lalu hendak melangkah ke kamar Leon tetapi Frans kembali memanggil pasangan itu.
"Nyonya, saya ingin menunjukkan kamar Nona Rere hanya saja karena tadinya kamar yang disiapkan di sebelah kamar lama Tuan Adry, apakah sekarang sebaiknya, saya juga pindahkan ke kamar sebelah sini?" tanya Frans.
"Itu ide yang bagus. Cepat bereskan karena aku sudah lelah. Seharusnya kau bertanya dulu sebelum menentukan sesuatu."
"Maaf, Tuan. Saya belum berpengalaman seperti Ayah."
"Oh, ya dimana Ayahmu?"
__ADS_1
"Beliau sudah berada di perkebunan menghabiskan masa tuanya bersama dengan ibuku."
"Oh, bagus itu. Dia pasti bahagia karena telah berkumpul bersama keluarganya di rumahnya sendiri."
"Anda benar Tuan. Kini segala masalahnya dengan urusan rumah ini telah jatuh ke pundak saya."
"Ayah percaya padamu berarti kau memang yang terbaik."
"Terima kasih, Tuan atas pujiannya."
"Kau galak sekali dengan Frans," ujar Raina. Setelah pria itu pergi.
"Aku sudah akrab dengannya dari dia kecil. Dulu dia sering dibawa kemari ketika ibunya sedang mengunjungi Ayahnya. Lalu, aku akan mengerjainya dan dia tidak pernah marah."
"Kau itu keterlaluan dan ternyata punya sifat jahat juga."
"Aku selalu jahat padamu ketika malam tiba dan tidak membiarkan kau tidur sebelum aku puas," bisik Adry. "Ngomong-ngomong sudah seminggu lebih kita tidak tidur bersama."
Raina menghembuskan nafas keras lalu meninggalkan Adry yang mulai berpikir tentang malam liar mereka.
***
"Apakah kau alergi dengan obat-obatan?" tanya Roy menghentikan cumbuannya.
Karina yang sedang merasa terbang kini terasa dihempaskan kembali ke atas kasur yang empuk itu.
"Kenapa kau bertanya tentang itu?" tanya Karina.
"Aku pikir, ini tidak akan membuatmu nyaman." Roy menunjuk bahan pelapis yang sudah dia gunakan.
"Kalau begitu buang saja!"
"Namun bagaimana jika kau hamil?"
"Kau nikahi aku," jawab Karina santai. Dia tidak bisa membayangkan jika harus berpisah dengan pria itu setelah malam ini.
"Bukan itu..."
__ADS_1
"Kau keberatan untuk bertanggung jawab jika seperti itu, kita aborsi saja!" lanjut Karina ingin tahu jawaban Roy. Dia lalu menarik selimut dari dan menutupi sebagian tubuhnya dengan itu.
Mendengar kata aborsi membuat wajah Roy memucat. Tidak dia tidak ingin kejadian Nita terulang lagi.
"Jangan bicara tentang aborsi. Aku sangat membenci kata itu. Aku tidak akan membiarkan anakku dihabisi oleh siapapun walau itu ibunya. Aku akan bertanggung jawab jika kau memang hamil."
"Jika aku tidak kunjung hamil, apakah kau tetap akan menikahiku?" tanya Karina bertanya tentang keseriusan Roy dengan hubungan mereka.
"Aku tidak tahu... aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Ini terlalu cepat."
"Kau sadar jika ini terlalu cepat," ucap Karina.
"Bukan karena aku tidak yakin denganmu. Aku malah lebih tidak yakin dengan diriku sendiri. Aku pikir kau itu cantik dan muda, kau bisa mendapatkan pria lebih dariku nantinya." Roy mende... sah. "Aku terlalu takut untuk merasakan sakit lagi karena sebuah cinta."
"Aku bukan wanita yang kau sebutkan di atas. Aku adalah aku. Aku ingin seperti orang tuaku yang berkomitmen dari awal hubungan mereka dan berpisah karena kematian."
Roy terdiam melihat keseriusan dari ucapan Karina.
"Satu lagi, aku begitu takut melihatmu tidak berdaya kemarin. Seolah aku tidak siap jika kau juga pergi meninggalkan aku."
"Bukan karena kau mengingat ketidak berdayaan Nita yang membawanya pada kematian?" tebak Karina.
Roy terkesiap sejenak. Lalu dia menggelengkan kepala. "Bukan itu, aku memang takut kau akan meninggalkan aku untuk selamanya hal itu membuatku yakin jika aku ingin selalu bersamamu."
"Alasanku tidak ingin kau hamil bukan karena semua hal yang kau sebutkan tadi. Aku takut kehamilanmu akan membuat penyakitmu semakin parah. Aku tidak ingin menjadi Adry yang harus memilih antara nyawa kekasihnya atau anaknya. Bagiku cukup kau ada di dekatku. Jadi, disini aku tegaskan, tidak akan mempermasalahkan jika kau akan punya anak atau tidak."
Karina lalu memeluk Roy. Tidak menyangka dia akan mengatakan semua hal manis itu.
"Jika orang mengatakan cinta itu tidak bersyarat, menurutku tidak. Aku mengajukan syarat padamu jika ingin melanjutkan hubungan kita."
"Apa itu?"
"Jangan pernah tinggalkan aku walau apapun yang terjadi tetap di sisiku. Aku tidak ingin seseorang yang sudah menjadi bagian diriku terlihat meninggalkan aku lagi, walau itu berurusan dengan kematian. Aku akan memanggilmu lagi, jika itu terjadi untuk memenuhi janjimu tetap bersamaku selamanya."
"Kematian itu hanya Tuhan yang menentukan."
"Lalu apa gunanya kita berdoa? Kau harus jawab ya dan selalu berdoa jika kau tidak akan pernah pergi dari sisiku selamanya hingga aku menghembuskan nafas terakhir."
__ADS_1
"Kau itu lucu," ucap Karina.
"Tidak aku serius kali ini bahkan sangat serius." Karina memang melihat wajah Roy yang bersungguh-sungguh ketika mengatakannya. Permintaan yang aneh. Pikirnya.