Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Tamparan Keras


__ADS_3

Roy mengendarai mobil Adry. Dia tidak akan mungkin membiarkan pria itu menyetir ditengah kondisinya yang kacau balau.


"Aku tidak tahu mengapa Nita sampai sekeji itu mengkhianatiku. Apa yang tidak kulakukan untuknya? Semua yang dia inginkan kuberikan!"


Pria itu menendang dashboard di depannya.


"Sabar, kau harus tenang untuk tahu kondisi serta situasinya."


"Situasi apa! Aku ditipu habis-habisan oleh kalian dan aku tahu tetapi aku diam karena berpikir semua akan baik-baik saja jika aku bisa mengendalikan situasinya. Nyatanya, Raina yang malah jadi korban dari semuanya. Aku takut terjadi apa-apa dengan anak dan istriku."


Adry mengusap wajahnya kasar.


"Memang tidak mudah untuk memilih antara keluarga besar dan keluarga kecilmu. Orang tuamu adalah orang yang punya andil besar dalam terbentuknya dirimu hingga saat ini. Namun, istrimu dan anakmu adalah masa depanmu! Kau harus mendahulukan mereka saranku." Roy mengatakan hal itu untuk menenangkan. Adry yang sedang dilanda emosi.


"Leon, aku takut jika Ayah dan Ibu membawanya pergi jauh dariku," ujar Adry menarik rambutnya ke belakang.

__ADS_1


"Kau selesaikan salah satu masalah dulu baru beralih ke masalah lainnya. Kita lihat apakah Orang tuamu masih ada di hotel tempatnya menginap." Adry menganggukkan kepala menyetujui usul Roy.


Adry mengetuk pintu kamar hotel Suit room presiden milik Orang Tua Adry. Salah satu pelayan yang dibawa oleh ibunya membukakan pintu. Adry langsung mendorong ke depan pintu itu dengan kasar.


Dia lalu mengeluarkan perintah singkat agar memanggil ibunya.


Adry berjalan mondar-mandir dengan gelisah ketika Janeta masuk ke ruang tamu.


"Adry, ada masalah, kau tidak menelfonku dan memberi tahu akan datang?" tanya Janeta dengan raut wajah tanpa dosa.


Adry menatap wajah orang yang melahirkannya berpikir bagaimana dia bisa buta dengan perangai ibunya. Jelas-jelas ibunya salah orang yang egois tetapi dia tidak berpikir jika ibunya akan berpikir jahat untuk menyingkirkan Raina dan menyakiti fisik serta verbalnya.


"Adry," panggil Janeta dengan penuh kasih sayang. Sang ibu meletakkan tangannya di lengan Adry dengan raut wajah cemas.


Adry menepis tangan ibunya dan mundur selangkah.

__ADS_1


"Jangan sentuh aku!" tukas Adry dengan suara rendah. "Aku tahu apa yang Ibu perbuat, aku juga tahu permainan apa yang Ibu dan Nita lakukan untuk menyingkirkan Raina."


Wajah Janeta berkerut karena kaget lalu dia mengangkat tangan, berpaling dan bersedekap.


"Dia bukan wanita yang tepat untuk mendampingimu Adry. Kau hanya tergila-gila padanya, dibuat bergairah dan dibutakan olehnya. Jika tidak kau bisa melihatnya. Lagi pula kau sudah punya Nita yang telah menemanimu selama ini."


"Ibu kau bahkan tidak ingin menyangkalnya? Ya Tuhan, apa yang Raina lakukan hingga membuatmu menjadi seperti ini. Dia sedang hamil dan sekarat sekarang. Dia hamil cucumu tetapi dulu malah menyusun rencana busuk untuk menyingkirkannya. Orang gila macam apa yang akan melakukannya?"


"Aku tidak menyes.karena melindungi keturunan Quandt dari wanita parasit sepertinya," potong Janeta kaku. "Aku akan melakukannya lagi. Kau akan mengerti apa yang kulakukan jika anak-anakmu telah dewasa. Kau harus bisa merancang masa depan terbaik untuk mereka dan menyingkirkan rumput ilalang atau benalu yang mengganggu kehidupan kalian ke depannya.''


"Kau akan melindungi mereka memastikan bahwa mereka tidak melakukan kesalahan yang akan mereka sesali. Kau tidak bisa hanya diam dan melihat mereka melakukan kesalahan tanpa berbuat apapun. Datanglah padaku beberapa tahun lagi dan tanyalah apakah kau masih membenciku."


Adry benar merasa takjub melihat bagaimana cara ibunya membela diri dan membenarkan apa yang dia lakukan. Perbuatan itu bukan hanya perbuatan bercela dan tidak bermoral tetapi itu adalah tindakan kriminal.


"Aku harap aku tidak akan melakukan yang Ibu lakukan menyakiti orang yang bersalah apalagi wanita itu dalam kondisi hamil hanya karena wanita itu tidak cukup pantas untuk bersanding denganku."

__ADS_1


"Ibu tahu, sesungguhnya kita yang tidak pantas untuknya. Dia terlalu baik untuk kita miliki. Aku harap dia mau memaafkanku dan menerimaku lagi, setelah apa yang kuperbuat. Terlepas dari keluargaku yang tidak berharga."


Kata-kata Adry serasa menampar wajah Janeta.


__ADS_2