Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Pilihan Hidup


__ADS_3

"Aku sungguh tidak tahu apa yang ibumu rencanakan. Hanya itu yang aku ketahui."


"Sekarang pilihanmu ada dua mati disini atau ikut dengan rencana kami," tawar Adry.


"Aku pilih hidup." Karina menjawab dengan cepat dan santai. Ketiga orang itu menatap Karina.


"Kalian itu tidak terlihat kejam samasekali," ujar Karina. "Aku lebih memilih ikut kalian karena itu. Jika kembali pada ibumu entah apa yang akan dia lakukan padaku nantinya."


"Paling kau akan dijual di bawah tanah, sebagai budak."


"Tidak... aku tidak inginkan itu. Aku belum menikmati hidup yang sesungguhnya. Jatuh cinta, menikah, punya anak dan hidup bahagia."


"Itu terdengar menyenangkan. Kau menikah saja dengan Roy. Dia juga butuh pasangan." Raina menggigit lidahnya menatap Adry yang menampilkan muka serius.


"Tapi kau juga harus belajar masak agar kau bisa membahagiakan adik iparku itu," lanjut Raina sembari mengusap pundak suaminya.


"Sudah jangan terlalu tegang. Aku mengantuk. Kalian urusi saja, urusan yang membuat kepalaku pusing ini." Raina menguap dan bangkit. Dia mengecup bibir suaminya.


"Saranku jujurlah, Karina, jika ingin selamat. Kami bukan musuhmu, tetapi jika kau ingin mengkhianati kami pikirkan dua kali lipat. Tidak ada gunanya kau membela orang yang salah. Kau hanya akan hidup menderita walau bergelimang harta." Suara Raina terdengar hangat dan tulus sesuatu yang Karina jarang dapatkan dari orang sekitarnya. Walau dia ingin berbuat jahat pada keluarga ini tetapi sikap Raina sedikit banyak membuat pikirannya berubah tentang keluarga ini.


Mereka menatap kepergian Raina.


"Aku tidak tahu cara berpikir istrimu Kak. Mengapa dia ingin sekali membela wanita tidak tahu diri ini," ucap Roy.


"Dia terlalu polos dan baik, karena itu aku mencintainya," ujar Adry.


"Ya, kakak ipar memang terlalu baik dan layak untuk dicintai."


"Sedangkan dia, sebaiknya apa yang akan kita lakukan?"


"Kita masukkan saja ke gudang belakang rumahku dan pikirkan besok apa yang akan kita lakukan."


Roy lalu menarik Karina ke gudang belakang dan mengurungnya di sana. Mereka lalu keluar dari sana dengan menguncinya.


"Kita ikuti dia nanti jika kabur dan melarikan diri dan melihat apa yang akan dia lakukan."


Roy mengangguk mendengar interuksi dari Adry. Mereka akan melihat apakah Karina memang ingin berniat bersama mereka atau lebih ingin melarikan diri. Jika itu terjadi mau tidak mau mereka akan membunuhnya dilautan.


Sedangkan Karina duduk dengan tenang di gudang yang gelap itu. Dia tidak berusaha mencari jalan keluar dan duduk dengan tenang. Dia lelah terus menerus ditekan dengan semuanya. Dia ingin istirahat walau sejenak. Entah besok apa yang akan terjadi tetapi dia percaya jika apa yang dikatakan Raina benar. Bahwa dia butuh ketenangan hidup bukan harta yang berlimpah.


Dia lalu memejamkan mata dan mengistirahatkan tubuhnya. Larut dalam mimpi yang indah.

__ADS_1


Sedangkan di luar entah apa yang Adry dan Roy lakukan pada Mitch karena pagi harinya pria itu sudah ditemukan di pulau lain dan sedang sakau dan polisi menemukan sabu-sabu dalam jumlah banyak di balik bajunya.


"Kau sudah bangun?" kata pria itu ketika masuk ke dalam gudang. Dia membawa sepiring nasi dan sebotol air mineral.


Karina yang sedang melamun menegakkan kepalanya. Dia menatap Roy yang sedang meletakkan baju itu di lantai.


"Aku sudah katakan akan mengikuti apa yang kalian inginkan asalkan kau bantu orangtuaku dari semua masalah yang ada."


"Kau tidak dalam mode tawar menawar. Kau hanya perlu menurut atau mati."


"Mitch bagaimana keadaannya?"


"Dia sedang berada di rumah sakit karena tidak sadarkan diri setelah mengkonsumsi obat terlarang dalam jumlah banyak. Dia juga akan dipenjara atas kepemilikan itu. Aku tidak tahu apakah nanti dia akan dihukum mati atau tidak oleh negara ini."


"Kau menjebaknya?"


"Dia yang membawa barang terlarang ini ke pulau bukan? Aku hanya membantu pihak polisi untuk menangkapnya. Setelah ini aku yakin karirnya di industri perfilman akan hancur."


"Kau ... sangat licik dan kejam," kata Karina.


"Kita hanya perlu akal untuk melawan musuh dan menjatuhkan mereka tanpa harus mengeluarkan tenaga dan membuat tangan kita kotor."


"Makan setelah itu ikut aku," kata Roy.


"Kau tidak takut jika minuman itu kuberi racun."


"Aku akan menerima racun apapun darimu," goda Karina membuat Roy menatap malas ke arahnya.


Setelah itu mereka ke kediaman Roy. Dia menyuruh Karina untuk membersihkan diri karena sebentar lagi Adry dan Raina akan datang.


Karina melakukan semua yang Roy katakan. Termasuk memakai baju sundress yang sudah disiapkan oleh pria itu.


Dia keluar dari kamar dengan rambut yang masih basah sebagian menetes di bahunya yang terekspos. Hal itu membuat perhatian Roy yang sedang membersihkan senjatanya teralihkan.


"Hai," sapa Raina yang masuk ke dalam rumah itu. Wanita itu terlihat menggendong buah hatinya. Adry berdiri di belakangnya dengan wajah serius.


"Aku tahu kau pasti akan memilih kami," kata Raina memeluk Karina.


"Kita belum mengujinya Raina," ujar Adry yang kesal mengapa istrinya sangat menyukai Karina dan mempercayainya. Katanya insting wanita.


"Baiklah. Beri pekerjaan padanya dan lihat apakah dia layak untuk kita pertahankan atau tidak jika tidak kau bisa melakukan hal apapun dengannya," ujar Raina santai. "Benar Sayangku," Raina menatap Regina yang tertawa kecil."

__ADS_1


Anak itu meminta turun dari gendongan ibunya dan berlari-lari di sekitar rumah Roy.


"Apa itu, Paman?" tanya Regina melihat senjata api di atas meja.


"Ini mainan orang dewasa anak-anak tidak boleh memainkannya." Roy menyingkirkan mainannya itu jangkauan Regina.


"Bu... aku ingin mainan itu," pinta Regina.


"Itu mainan pria, mainan wanita di dapur. Nanti kita bikin puding bunga yang indah."


"Aku maunya puding buah," kata Regina. "Aku yang potong-potong.


"Okey, Sayang."


"Hari ini kau keluar dari pulau ini dengan peta dan sistem keamanan yang ada dalam flashdisk ini. Pergerakanmu akan kami pantau. Jika kau terlihat mencurigakan dan hendak berkhianat silahkan tetapi aku yakin nasibmu tidak akan selamat."


"Roy akan mengawasi pergerakanmu," ujar Adry lagi.


Karina lalu menatap ke arah Roy.


"Bagaimana dengan orangtuaku apakah kalian sudah menemukan keberadaan mereka?"


"Belum, tapi kami sedang melacak dan mencarinya. Kau hanya perlu mengikuti semua interuksi dari Roy saja."


"Rencanya aku akan ke Bali untuk menyerahkan ini."


"Jadi Ibuku ada di Bali?" ujar Adry.


"Mungkin. Atau mungkin saja orangnya yang akan datang untuk mengambil ini."


Raina menatap ketakutan pada Adry. Dia trauma jika bersentuhan dengan masalah Janeta. Dia tidak ingin masa kelam hidupnya terulang lagi.


"Kita harus selesaikan ini jika benar-benar ingin hidup dalam kedamaian. Bukannya lari dari masalah Raina."


"Aku tahu hanya saja aku mencium sesuatu yang tidak baik akan terjadi."


"Itu pikiranmu sendiri."


"Bagaimana jika mereka memisahkan kita lagi?" ujar Raina takut.


"Kita tidak akan berpisah malah bertemu dengan Leon dan bersama lagi seperti dulu."

__ADS_1


Raina menghela nafas berat. "Leon ...," gumammya. Ibu mana yang tidak sakit hati jika anaknya terpisah dari orang tuanya. Dia merasakan hal itu tetapi Janeta juga sama terlukanya karena putra satu-satunya membenci dirinya walau itu karena kesalahannya sendiri.


__ADS_2