
"Jangan harap. Jika kau ingin membuatku emosi sebaiknya kau cepat pergi dari sini sebelum aku mengusir secara paksa," ancam Adry penuh emosi.
"Kau lihat kan dia sangat posesif yang mengartikan jika dia sangat peduli padamu."
Adry mendengus kesal mendengar penuturan Jonathan. Dia lalu melihat ke arah Raina yang terkikik.
"Jadi bagaimana kau akan menikahi anak Tuan tanah itu?"
"Ya, jika tidak ayah dan ibuku akan mengeluarkan aku dari rumah dan memblacklist namaku di perusahaan manapun "
"Itu pemaksaan yang kejam," ujar Raina.
"Itu perlu agar kau insyaf dari bermain dengan wanita," sela Adry cuek.
"Aku tidak pernah mempermainkan wanita," ujar Jonathan.
"Karena kau merasa bermain dengan mereka dan merasa hubungan itu hanya sebuah kesenangan belaka. Aku juga pernah muda seperti dirimu Jo," ucap Adry. Jonathan seperti tertampar oleh pernyataan Adry.
"Apakah kali ini kau akan membiarkan istrimu ini datang ke acara pernikahanku kan?"
"Aku tidak janji," ujar Adry.
"Sialan!" umpat Jonatan.
"Ya, sudah Raina, aku harus pergi karena sepertinya suamimu itu tidak menyukai kehadiranku. Aku harap kau akan selalu bahagia entah bersamanya atau tidak. Jika kau membutuhkan sesuatu ada aku yang akan memberikan apapun yang kau mau," ujar Jonathan lari sebelum Adry melempar minuman di tangan ke wajah pria yang pernah jadi saingannya.
"Adry, aku lelah dan mengantuk," ucap Raina setelah menyelesaikan makanannya.
"Tunggu Raina, aku ingin berbicara padamu."
"Katakan!" ujar Raina bersiap mendengarkan apa yang Adry katakan. Sepertinya ini masalah serius karena wajah Adry terlihat tegang.
__ADS_1
"Ibu berkali-kali memberiku pesan agar aku mau mengajak kau makan malam keluarga.
Tubuh Raina melemas mendengarnya. Dia menduga cepat atau lambat saat ini pasti akan dia temui. Dia harus bisa untuk menahan diri untuk menyampaikan kegundahannya. Adry sudah cukup berkorban dan memperlihatkan sikapnya pada Raina. Kini ujian sesungguhnya akan terjadi. Apakah setelah bertemu dengan keluarganya, pria itu akan tetap percaya padanya atau dia akan berubah. Rasa takut bergelayut dalam jiwa Raina membuat wanita itu berpikir keras tentang langkah apa yang harus dia tempuh.
"Kapan?" tanya Raina.
"Jika kau keberatan dan tidak nyaman sebaiknya tidak usah."
"Aku akan menghadapi mereka cepat atau lambat. Lagipula aku juga ingin melihat Leon dan tahu keadaannya setelah ditinggalkan aku."
"Jika kau tidak nyaman kita bisa pulang, tidak ada keharusan untuk tetap tinggal di acara makan malam itu," ungkap Adry was-was. Raina bisa melihatnya.
"Kapan?" tanya Raina lagi. Hati Raina sebenarnya tidak ingin hadir. Membayangkan harus melihat wajah keluarga Adry yang tidak menyukainya saja sudah membuat dadanya sesak apalagi menjalaninya. Dia tidak bisa membayangkannya. Lalu apa yang akan dia lakukan nanti? Apakah harus bersikap baik atau bersikap cuek?
"Akhir pekan ini jika kau bersedia," kata Adry sangat berhati-hati.
"Baiklah," ujar Raina dengan suara rendah. Adry mencoba untuk membuat segalanya lebih baik dan dia harus mau untuk bekerjasama. Pikir Raina.
"Aku lebih baik ketika mendengar kau mengatakan hal itu." Raina men.... de ...sah.
"Kau ragu?" Adry menaikkan satu alisnya menunggu jawaban dari Raina.
"Bohong jika aku mengatakan tidak ragu. Aku takut bahkan untuk keluar apartemen pun aku sangat takut." Raina menatap Adry dengan pandangan sendunya. "Aku sebenarnya tidak suka menjadi orang yang seperti ini. Aku telah berubah dari Raina yang dulu. Aku lebih hati-hati dalam mengambil sikap dan keputusan. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Aku berubah menjadi wanita yang kuat dan keras agar bisa bertahan hidup. Aku tidak menyukainya tetapi memang harus begitu jika ingin bertahan."
Adry melihat kepedihan dan kesedihan di mata Raina. Dia tidak tahan untuk tidak memeluknya.
"Jadilah Raina yang dulu, biarkan aku jadi perisai yang akan melindungimu setiap saat. Katakan semua yang kau rasakan dan beritahu apa yang kau inginkan."
Adry memegang jari tangan Raina yang kosong. "Pakailah kembali cincin menikah kita," pintanya dengan suara parau.
"Biarkan mereka tahu jika kita telah bersama lagi. Aku ingin membuat mereka mengerti bahwa kau adalah istriku dan akan selalu memperoleh dukunganku."
__ADS_1
Air mata Raina meledak dan dadanya terasa nyeri. Adry mengeluarkan cincin dari saku bajunya, sebuah cincin nikah Raina yang selama ini wanita itu simpan di tasnya. Adry mengerti jika wanita itu telah kecewa oleh pernikahannya sehingga enggan untuk memakainya kembali. Untuk itu, dia ingin agar Raina memakainya sebagai tanda bahwa dia setuju dengan keputusan ini.
Adry tidak memakaikan cincin itu dijari Raina hanya meletakkannya di atas telapak tangan wanita itu.
"Aku...," Raina menunduk menggenggam cincin itu. "Keluargamu?"
"Sstt, aku tahu jika ini tidak akan mudah untuk kita. Tetapi aku ingin mendapatkan kepercayaanmu terlebih dahulu sebelum melangkah kedepannya. Aku ingin kita kembali merajut kebahagiaan bersama hingga akhir nafas. Setelah itu, baru kita menyelesaikan semua masalah bersama sehingga masa lalu tidak menjadikan halangan dimasa mendatang."
Raina mengusap pipinya yang basah. Dia melihat ketulusan di mata Adry untuknya. "Kalau begitu pakaikan lagi untukku dan jangan buat aku kecewa untuk yang ketiga kalinya."
Mata Adry melebar dan bersinar. Dia tidak mengira Raina akan secepat itu menerima permintaannya. Dia memeluk tubuh mungil itu mengabaikan orang-orang yang melihat ke arah mereka.
"Aku berjanji akan menjadi suami dan ayah yang lebih baik lagi dimasa kini dan yang akan datang. Berusaha keras untuk tidak pernah mengecewakanmu lagi."
Adry lalu melepaskan pelukannya dan mengambil cincin pernikahannya lalu dengan tangan gemetar dia memegang tangan Raina. Dia seperti melakukan ini untuk pertama kalinya dan sebuah kemantapan kini dirasakannya. Jauh berbeda ketika dia menyematkannya dulu ketika mereka menikah.
Adry memasukkan cincin itu ke sela jari manis Raina. Emosinya begitu meledak sehingga setitik air terlihat di matanya. Dia merasa lega dan bahagia. Adry lalu mencium tangan Raina dan cincin itu. Mereka berdua tersenyum sembari menyeka air mata yang mengalir.
"Ayo," ajak Adry menarik tangan Raina.
"Kita pulang, aku ingin memelukmu di rumah jauh dari pandangan orang-orang." Netra Raina lalu melihat ke sekitar. Beberapa orang memang terlihat fokus menatap mereka.
Raina dan Adry akhirnya kembali ke mobil mereka untuk pulang. Adry sengaja mengambil jalan memutar dan dia malah masuk ke sebuah pemukiman kelas menengah keatas. Mobil mereka berjalan dengan pelan.
"Aku berencana membeli rumah untuk kita di sekitar daerah ini," kata Adry.
"Rumah kita?" tanya Raina.
"Hummm, sebetulnya aku ingin membongkar rumah lamamu hanya saja itu terlalu kecil untuk kita dan dua anak lainnya jadi aku memutuskan membeli rumah saja."
"Menjadi orang kaya memang mudah ya, tinggal memilih saja apa yang diinginkan."
__ADS_1
"Kaya jika sendiri maka semua terasa tidak berarti. Keluarga adalah semangat hidup, Raina, yang membuat kerja keras seorang pria terasa berarti."