
Langit menampakkan sinar kelabu kala badai akan datang. Angin mulai berhembus kencang membuat daun-daun kering berterbangan. Seorang anak nampak sendiri tidak peduli dengan keadaan. Ditangannya ada sebuah buku namun tidak dia baca. Hanya menatap langit menanti jawaban Tuhan atas semua doanya.
"Leon, masuklah. Hujan, badai akan datang," ucap Nita pada Leon. Dia tidak bergeming barang sedikitpun. Membiarkan daun kering itu mengenai wajahnya.
Dhuar!
Suara petir mulai menyambar keras. Nita langsung menarik tangan Leon agar masuk ke dalam rumah.
"Leon. Jika kau di sini nanti akan terkena hujan dan kau bisa sakit nanti?"
"Apakah sakit itu lebih sakit dari yang pernah kurasakan? Jika tidak, aku bisa menahannya." Leon mengatakannya dengan suara sedingin es.
"Leon, kau ini kenapa? Tidak biasanya kau bersikap seperti ini?" ujar Nita.
"Aku lelah berpura-pura baik-baik saja padahal aku sangat terluka. Aku lelah berpura-pura jika ini adalah rumahku padahal kenyataannya aku merasa asing di sini. Aku lelah berpura-pura jika kau adalah ibuku pada kenyataannya ibuku entah dimana keberadaannya."
"Leon!" bentak Nita.
"Kenapa? Mom marah? Aku juga bisa marah. Di mana Ayah? Apakah dia marah pada Mom sehingga pergi dari sini?"
Nita menarik rambutnya ke belakang.
"Ayahmu sedang berada di luar negeri," kata Nita.
"Mom, yakin dia diluar negeri tanpa berita sama sekali? Bahkan dia tidak pernah menghubungi ku atau Mom," ujar Leon.
"Aku kira ayah sedang mencari ibu atau malah ayah sudah menemukan ibu. Tetapi jika mereka sudah bertemu, mengapa mereka tidak mengajakku?"
"Leon," panggil geram Nita.
__ADS_1
"Kenapa, Mom marah? Aku sendiri heran mengapa Mom pura-pura bahagia sedangkan setiap malam Mom sendiri kesepian. Mom pura-pura tertawa senang sedangkan terkadang Mom mabuk dan menangis. Apakah Mom tidak lelah?"
Nita tertegun mendengar ucapan Leon. Semua yang Leon katakan memang benar.
"Kau, hanya seorang anak kecil. Tidak tahu apa-apa tentang hidup ini." Nita malu pada dirinya sendiri karena seorang anak pun bisa menebak perasaannya.
"Aku dulu biasa melihat ibuku menangis tetapi ibu tidak meminum, anggur yang bisa membuatnya mabuk, dia pernah tidak pernah lepas kendali. Berteriak dan marah pada semua yang ada di dekatnya. Dia menangis dalam diam. Dia tidak pernah memperlihatkan kesulitannya pada siapapun dan selalu tersenyum pada semua orang."
"Ibumu dan aku berbeda Leon," seru Nita habis kesabarannya.
"Memang berbeda. Ibu menyayangi setiap orang dengan tulus jika Mom, aku tidak merasakan Mom melakukan semuanya dengan hati gembira. Mom tersenyum lebar jika ada wartawan atau media yang mendekat sedangkan setelahnya Mom terdiam malah seperti terlihat tidak senang. Apakah yang kukatakan benar."
"Anak Raina sangat ... sangat membuatku kesal," ungkap Nita duduk di kursi terdekat. "Tapi apa yang kau ucapkan memang benar," gumam Nita lirih nyaris tidak terdengar.
"Akhirnya Mom sadar jika aku adalah anak ibuku bukan anak Mom yang selalu diceritakan setiap orang. Aku mau ke kamarku dulu. Menunggu kabar dari Ayah. Aku sangat merindukannya," ucap Leon tenang.
Nita menundukkan wajahnya, menghela nafas panjang. Dia sangat marah pada Leon tetapi dia tidak bisa melakukannya. Bagaimanapun Leon adalah keturunan langsung keluarga Quandt jika sampai dia melukainya maka urusannya akan panjang. Dia bisa ditendang dari rumah ini dan dari kehidupan mereka.
Leon benar, dia sudah muak dan bosan dengan semua ini. Dia lelah berpura-pura menjadi orang bahagia sedangkan hatinya merasa kesepian. Dia butuh cinta, dia ingin merasakan dicintai. Mengharapkan Adry mencintainya lagi seperti dulu itu sangat sulit. Pria itu bahkan menjauhinya walau Raina sudah tidak ada diantara mereka. Adry- nya sudah tidak seperti dulu lagi. Kini hatinya milik Raina dan Nita sadar dengan hal itu.
Nita mengusap kasar wajahnya. Berjalan ke arah bar dan hendak mengambil sebotol wine kala sebuah suara yang tidak asing berbicara padanya.
"Apakah ucapan Leon tadi tidak berhasil menampar wajahmu, Nita?'' Nita menoleh ke asal suara, lalu menyeringai lebar.
"Akhirnya kau keluar juga dari tempat persembunyian mu."
Nita mengambil botol itu dan membukanya. Di saat dia ingin menuangkan wine ke gelas, Roy mengambilnya.
"Untuk apa kau bertahan jika kau tidak bahagia."
__ADS_1
"Jangan campuri urusanku. Aku sudah memilih jalan hidupku sendiri."
"Jalan hidup penuh kepalsuan ini. Kau masih belum sadar juga dengan apa yang telah terjadi? Sedangkan anak seumur Leon saja sudah bisa melihat kebenarannya. Sial! Kau memang keras kepala," umpat Roy.
"Lalu apakah kau tidak lebih keras kepala? Kau masih menungguku kembali walau sepuluh tahun lebih aku mengabaikanmu dan tetap hidup bersama dengan kakakmu itu?" Nita merebut botol dari tangan Roy dan menenggaknya.
"Cinta itu tidak berbatas Nita. Jika kau bahagia aku rela tetapi jika kau hidup seperti ini, aku ingin membawamu pergi jauh dari semua ambisi gilamu ini."
Sejenak mata Nita merebak tetapi dia menyingkirkan semua perasaan ingin dilindungi. Dia tidak ingin menduakan hatinya untuk pria selain Adry walau dia ingin merasakan diperjuangkan oleh seseorang."
"Apakah kau datang hanya untuk mengatakan ini? Atau kau ingin menertawakan kehidupanku ini?"
"Aku malah kasihan melihatmu, merawat anak yang bukan anakmu padahal kau sendiri membuang darah dagingmu sendiri. Berharap mendapatkan cinta dengan menyingkirkan seseorang tetapi yang didapat hanya kehidupan semu belaka. Kau merasa menang karena Raina telah pergi, tetapi kau tidak bahagia karena bayangannya tetap ada di sekitarmu. Menghantui mu sehingga kau tidak bisa hidup dengan damai dan tenang."
"Roy, cukup!"
"Itu kenyataannya Nita, kau mendapatkan semua yang kau inginkan tetapi kau tidak bahagia karenanya. Karena yang kau memperoleh semua itu dengan mengorbankan orang. Aku korbanmu, anak kita dan Raina..."
Wajah Nita merah padam seketika. Nafasnya terdengar memburu.
"Roy, keluar dari rumahku sekarang." Roy menyentuh hidungnya dan tertawa.
"Rumah? Rumah yang mana kau hanya menumpang tidur di sini. Semua ini milik keluarga Quandt yang artinya Leon yang lebih berhak tinggal disini bukannya dirimu. Kau pasti sadar akan hal itu. Aku kemari karena masih mencintaimu dan berharap kau sadar dengan semuanya. Kembalilah padaku, Nita."
"Keluar, Roy," teriak Nita histeris dengan mata basah.
"Saat ini aku yang keluar, jika nanti kau yang keluar dari tempat ini pulanglah ke rumah kita yang dulu. Di sana aku akan menunggumu, pulang."
Roy memang pergi ke Australia selama beberapa bulan namun setelah tahu bahwa Adry mulai mencium hal yang aneh maka dia memutuskan untuk kembali ke negaranya.
__ADS_1
Roy tidak tahu mengapa dia begitu mencintai Nita walau wanita itu telah mencampakkannya dan hanya mengambil keuntungan dari rasa cintanya. Mungkin di masa kelahiran yang dulu, dia yang menyakiti Nita hingga ketika renkarnasi yang sekarang dia ingin selalu melindunginya. Pikir Roy.