
Raina membuka pintu setelah mendengar ketukan di pintu utama. Dia terkejut melihat satu pria berambut panjang berwarna pirang serta satu wanita membawa kotak make up besar. Di belakangnya lagi ada kurir yang membawa beberapa baju di tangan.
"Ada apa ini?" tanya Raina.
"Silahkan masuk," kata Roy pada orang-orang itu.
"Kau akan diajak oleh Adry ke rumah orang tuanya." ucap Roy lirih di dekat telinga Raina.
Mata wanita itu membola dengan sempurna. Sudah seminggu pria itu tidak menemuinya sama sekali dan kini tiba-tiba dia diajak ke rumah orang tuanya.
"Aku tidak tahu harus apa? Aku tidak punya persiapan sama sekali."
"Kau harus menjadi wanita yang layak untuk diperjuangkan," ucap Roy.
"Tetapi?"
"Kalau kau tidak percaya diri pulang kembali ke negaramu saja sekarang!" ucap keras Roy dengan nada lirih. Raina menelan Salivanya dalam-dalam. Dia menghela nafas.
"Kalian kerjakan semuanya dengan baik. Jika hasilnya memuaskan nanti Bos besar akan berikan bonusnya." Roy berbicara dengan bahasa Jerman.
"Okey, Say," jawab pria tampan yang gemulai.
Roy lalu pergi pamit setelah melihat Raina di bawa oleh dua orang itu sedangkan Leon yang berdiri menatap mereka dibawanya pergi ke suatu tempat. Mereka ke tempat boutiq terkenal dan ke salon pria, mengubah total penampilan Leon sehingga terlihat menawan dan berkelas. Auranya memang sudah terpancar jelas dari dulu kini semakin mengkilap setelah dipermak.
Leon di suruh memilih pakaian apa yang akan dikenakannya, aksesorisnya serta memakai jam tangan pemberian Nita. Leon sangat suka dengan jam itu.
"Apakah tidak berlebihan Om?" tanya Leon mematut dirinya di cermin.
"Tidak kau sangat tampan, Tuan Besar pasti akan senang melihatmu."
"Siapakah Tuan Besar itu?" tanya Leon.
"Orang tua Tuan Adry," jawab Roy.
"Mengapa mereka memanggilku dan ibu," tanya Leon.
"Karena kalian sudah menjadi bagian dari Tuan Adry." Leon menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Karena Ibu sudah menikah dengan Ayah?"
"Seperti itulah?" ujar Roy. "Ayo sekarang kita pulang dan jemput ibumu."
"Uncle, apakah betul jika aku mirip dengan Ayah?" tanya Leon tiba-tiba ketika mereka telah berada di mobil.
Ini visual Adry ya, mata hijau dengan rambut berwarna cokelat khas orang Jerman. Mirip g ma papihnya? Mata mereka sama-sama hijau dan berambut lurus kecoklatan.
"Rambut dan mata kalian mirip, namun itu biasa terjadi kan?" kata Roy ambigu. Leon terdengar menghela nafas. Wajahnya terlihat tidak puas dengan jawaban Roy serta gelisah seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi dia tahan.
"Kenapa kau bertanya begitu?" tanya Roy penasaran. Setahunya Tuan Adry pernah mengatakan jika tidak ingin mengungkap jati dirinya pada Leon. Biar Raina sendiri yang mengakuinya di depan Leon. Dia merasa tidak berhak karena selama ini Leon dibesarkan dengan susah payah oleh Raina.
"Biasanya yang terlihat mirip itu antara ayah dan anak. Aku pikir mungkin itu hanya pikiranku saja yang ingin Ayah Adry menjadi ayah kandungku," Leon menundukkan wajahnya, dia mungkin banyak berharap.
Roy menghela nafas dan merengkuh tubuh Leon. Dia mengusap lengan anak itu perlahan.
"Jika di dekat Ibu, Ayah selalu tertawa," bela Leon.
"Mungkin Ibumu membawa kebahagiaan untuk ayahmu itu. Jika seseorang telah bersama dengan orang yang dicintainya maka mereka akan bahagia."
"Iya, Ayah mengatakan cinta pada Ibu," Leon menutup mulutnya seraya tertawa kecil.
Lalu perbincangan itu terjadi begitu saja. Sifat Leon yang mudah bergaul mengalir apa adanya. Dia bercerita panjang lebar. Wajah anak itu yang dulu terlihat pucat kini terlihat berseri-seri. Mungkin kesehatannya sudah mulai membaik berkat ginjal baru di tubuhnya.
Sedangkan di mansion Quandt, Adry duduk dengan gelisah. Sesekali dia berjalan keluar pintu melihat apakah Raina dan Leon jadi datang atau tidak.
Nyonya Janeta dan Tuan Carl sendiri saling memandang dan menaikkan kedua alis mereka memandangi anaknya.
"Duduklah, sebentar lagi juga istrimu datang," ujar Carl santai.
"Entahlah, kenapa aku merasa ada yang istimewa di sini. Tidak biasanya anak kita terlihat gelisah."
"Mungkin dia sedang rindu dengan istrinya karena sudah seminggu menghindarinya," jawab Carl.
__ADS_1
"Oh, c'mon Ayah dan Ibu, aku tahu kalian mengetahuinya," ujar Adry.
"Mengetahui apa? Mengetahui jika istrimu sudah tidak bisa punya anak?"
Adry memutar bola matanya malas. Mereka sudah membahas itu berkali-kali selama seminggu ini.
Setelah Adry mengetahui kebenarannya, Adry lalu menemui Nita di rumahnya.
"Jadi kau membohongiku?" tanya Adry.
"Membohongi apa?" tanya Nita dengan suara sedikit goyah.
"Kau sudah tahu jika hasil pemeriksaan itu diketahui jika ternyata sel indung telurmu bermasalah?"
Wajah Nita menjadi pusat pasi. Dia memegang seprai dengan erat menahan air mata.
"Kenapa kau lakukan itu, kau bisa saja jujur padaku sedari awal," teriak Adry penuh emosi.
"Aku... aku juga baru mengetahuinya setelah keguguran untuk terakhir kalinya. Tadinya aku tidak percaya dan kucoba untuk hamil melalui bayi tabung berharap semua baik-baik saja walau dokter Ryan sudah mengatakan semuanya tidak mungkin terjadi. Kalaupun terjadi maka kesempatannya kecil dan bisa saja anak kita akan cacat." Nita menangis tersedu-sedu.
"Jadi dokter itu sudah tahu semuanya?" Nita menganggukkan kepalanya.
"Sial! Kau dan dia membohongiku?"
"Aku hanya ingin kau punya anak dan kita tetap bisa bersama. Aku melakukan itu karena tidak ingin kehilangan dirimu!"
"Namun, semua rencanaku itu gagal ketika kau malah membawa Raina ke Jerman. Aku sudah pasrah dengan semua yang terjadi. Aku kira kau akan menghentikan proses bayi tabung itu setelah tahu tes kesehatanku."
"Aku tidak ingin kau terluka karena tahu bahwa kau ...." Adry tidak meneruskan kata-katanya.
"Bahwa aku wanita cacat dan tidak sempurna yang tidak bisa memberikanmu seorang anak!"
"Atau kau malah membuat ini sebagai suatu kesempatan untuk bertemu dengan kekasih lamamu. Bodohnya aku sendiri yang memilih Raina untuk jadi ibu pengganti. Aku tidak tahu jika kau dan dia punya masalalu indah berdua dan kalian menjadikan itu sebagai suatu kesempatan untuk bisa kembali bersama di atas semua lukaku," ucap Nita menggeru-geru.
"Itu semua tidak seperti yang kau pikirkan."
"Lalu katakan kebenarannya padaku dengan jelas agar tidak ada lagi kesalah pahaman setelahnya kau bisa membuang diriku untuk hidup bersamanya. Biarlah aku berteman dengan sepi dan sedih karena hidup sendiri." ungkap Nita.
__ADS_1