
Setiap menit dan setiap detik dilalui oleh keluarga kecil itu dengan penuh kebahagiaan seakan itu adalah kehidupan yang abadi. Tidak terasa dua Minggu lebih semuanya berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan.
Adry melupakan istri dan orang tuanya. Raina sendiri melupakan perjanjian mereka. Namun, apa yang tertuang tidak bisa diingkari begitu saja, disana ada hak dan kewajiban yang harus dipenuhi.
"Tidak ... tidak...," teriak Leon heboh memencet stik PS di tangannya.
"Bagaimana Boy? Apa kau akan menyerah?" tanya Adry menyenggol lengan Leon.
"Kali ini aku tidak akan kalah," seru Leon.
"Bu, lihat apa yang Ayah perbuat," lanjutnya lagi melihat ke belakang. Adry lalu menengok ke belakang. Di saat itu Leon memainkan aksinya menyelip mobil Adry.
"Terus maju Sayang, ayo terus... . Yeay... kali ini aku yang menang," pekik Leon senang.
"Kau curang," tuduh Adry pada anaknya.
"Aku tidak curang, tadi Ibu memang lewat tetapi hanya lewat," ujar Leon tertawa. Adry lalu menggelitik Leon membuat anak itu menggelinjang kegelian.
"Ibu, tolong aku, Ayah nakal!" teriak Leon memanggil Ibunya.
"Kau yang nakal mengatakan Ayah yang nakal ya... rasakan ini... ," kedua anak dan ayah itu bergumul di lantai bulu di ruang tengah.
Hari ini adalah akhir pekan jadi pria itu sengaja mengabiskan waktunya bersama dengan keluarga kecilnya.
"Ada apa ini?" tanya Raina berdiri dengan tangan dikedua pinggang. Ruangan di sana terlihat kotor dan berantakan. Banyak bungkus makanan kecil berserakan juga tidak sengaja Leon menendang kursi sehingga pop corn di atas meja tumpah mengotori sekitarnya.
"Ayah dia yang melakukannya," tuduh Leon.
"Aku, kau yang membohongi Ayah!" ujar Adry merapikan bajunya.
"Semua adil dilakukan dalam peperangan untuk memperoleh kemenangan."
"Bukan hanya peperangan, tetapi untuk cinta pun semua adil di lakukan, bukan begitu Sayang," imbuh Raina pada Adry.
"Hmmm," jawab singkat pria itu.
"Namun, kini bukan tentang cinta atau peperangan ini tentang ruangan yang kotor seperti tempat penampungan sampah. Aku sudah lelah membersihkan kamar kalian dan mencuci baju serta menyetrikanya sekarang kalian malah membuat masalah untukku. Kepalaku sudah mulai pening." Raina memukul pelan dahinya dan duduk lemas di sofa.
Leon dan Adry saling menyikut dan memberi isyarat melalui matanya. Raina mengintip melihat apa yang dilakukan oleh anak serta suaminya melalui sela-sela jari.
"Maaf, Bu, kami akan membereskannya." Leon memegang kedua daun telinganya.
"Aku juga akan membantumu memasak nanti," ujar Adry. Raina mengangkat satu alisnya keatas. Memasak? Pria itu bahkan tidak pernah mencuci piring sebelum bertemu dengannya.
"Are you sure?"
"Tentu saja aku yakin. Aku biasa melihatmu memasak."
__ADS_1
"Sekarang lebih baik kau ke kamarmu biar kami para lelaki yang membereskan semua masalah ini." Adry menepuk dadanya.
"Aku kok tidak percaya jika kalian bisa menyelesaikannya dengan baik. Pikiranku kalian akan mengacaukan semuanya."
Adry dan Leon lalu saling mengedipkan mata. Mereka lalu mendorong tubuh ibunya ke atas dan masuk ke kamarnya.
"Tunggu kami panggil baru keluar."
"Baiklah, tetapi ... ," ucap Raina tetapi pintu kamar ditutup oleh Adry.
"Tidurlah dulu Sayang, percaya kami akan melakukannya dengan baik," teriak Adry dari luar kamar Raina. Wanita itu lantas pergi ketempat tidur dan merenggangkan tubuhnya.
Dia berbaring dan mulai memejamkan matanya. Semalam seperti biasa Adry membuatnya lelah dan dia harus bangun pagi karena Leon mengajak kedua orangtuanya jalan-jalan pagi mengelilingi kompleks pagi hari. Sehingga jatah tidurnya berkurang.
Sedangkan Adry dan Leon bekerja sama membereskan ruang tamu. Setelah sudah bersih mereka pergi ke dapur.
"Ayah tidak pernah masak."
"Aku suka membantu Ibu membuat kue tetapi sepertinya semua bahan di rumah ini tidak lengkap dan berbeda merk-nya. Jadi aku tidak paham apa yang harus kita buat."
"Ini salah Ayah mengapa mengatakan pada Ibu ingin memasak sekalian."
Mereka berdua lalu melipat tangan didada.
"Kita pesan makanan saja dan kue tart," cetus Adry.
"Sebelum itu kita buat persiapannya."
Mata Leon terlihat berbinar.
"Aku tiup balonnya dan Ayah yang mendekor tempatnya."
"Di mana katanya Om Roy menyimpan pesanan Ayah?"
"Di dalam lemari kayu itu," tunjuk Leon pada kayu di ruang tengah.
Mereka lalu mencari pesanan Adry dan menemukannya di sana. Lalu membawanya ke ruang tengah dan mulai mendekor ruangan itu. Mereka memang tadi merencanakan membuat Ibunya kesal setelah itu membawanya masuk ke dalam kamar.
"Ayah sudah pesan makanannya?" tanya Leon.
Adry menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya sembari tersenyum. Leon tersenyum lebar menanggapinya.
"Ini akan seru."
Akhirnya setelah dua jam mereka berkutat dengan hiasan dan sejenisnya. Leon mulai memanggil ibunya untuk makan siang.
"Bu, makanan telah siap. Ayo turun!" seru Leon membangunkan Raina yang sedang tertidur lelap.
__ADS_1
"Oh, Ibu tidur dengan lelap sekali." Raina membuka matanya dan menguap.
"Makan malam, apakah makanan memang sudah disiapkan?" kata Raina langsung bangun.
"Semua siap!" Raina mulai merasa ada yang aneh dengan Leon.
"Apa yang kalian sembunyikan?" Leon tersenyum dengan mencurigakan.
"Tidak apa-apa, Bu," kata Leon.
"Dapur... dapur ... pasti kalian telah menghancurkannya!" Raina langsung bangkit dan berjalan keluar kamar. Namun semuanya gelap.
"Pakai ini," kata Leon menahan tawanya menawarkan senter pada Raina. Raina mengambilnya. Dia mulai turun ke bawah lewat tangga.
"Adry kau dimana?"
Klik! Suara stop kontak yang mulai dinyalakan.
Raina menutup mulutnya melihat hiasan balon dan pita diruangan itu. Pria itu juga memegang seikat bunga mawar besar ditangannya.
"Selamat ulangtahun," kata Adry. Mata Raina berkaca-kaca. Dia lalu menerima bunga itu, lalu memeluk Adry dan mencium bibirnya dalam.
"Bagaimana kau bisa tahu ulang tahunku," kata Raina. Sudah terlalu lama dia melupakan hal ini.
"Apa yang tidak kuketahui tentang dirimu," kata Adry.
" I love you Raina," kata pria itu mencium dahi wanita itu. Raina merasa terkesan dengan kata-kata Adry sesuatu yang dia tunggu akhirnya terwujud juga. Air mata wanita itu mengalir. Air mata yang mewujudkan kebahagiaan di hatinya.
"I love you too." Adry tersenyum lebar lalu mencium balik bibir wanita itu.
"Lihat Ibu, ini kuenya," seru Leon. Raina melihat kue berukuran sedang namun terlihat cantik yang berbentuk bunga mawar, seperti bunga yang Adry pegang. Mereka lalu mendekati kue itu. Raina berjongkok untuk meniupnya.
"Tunggu katakan permintaanmu di tahun ini," ucap Adry.
"Aku hanya minta kebahagiaan ini tidak dirusak oleh siapapun dan sampai kapanpun tidak akan berakhir."
"Amin," ucap Leon dan Adry bersama-sama.
Raina lalu meniup kue itu. Mereka lalu merayakan ulang tahun Raina dengan bahagia.
Di saat mereka selesai makan bersama. Terdengar suara bel pintu.
"Mungkin Roy," ujar Adry lalu berjalan ke arah pintu utama dan membukanya. Wajah Adry terlihat memucat. Dia menelan Salivanya dalam-dalam.
"Apakah Roy, jika iya biarkan dia ikut makan?" tanya Raina ikut melihat orang yang datang. Dia lalu berdiri di belakang Adry dan tersenyum pada tamunya.
Tubuh Raina sedikit limbung ke belakang begitu tahu siapa tamu yang datang.
__ADS_1