Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Akhir dari Perayaan


__ADS_3

"Hai, Adry? Sepertinya aku datang di saat yang tepat," kata Nita tersenyum lebar walau di hatinya menyembunyikan seribu luka.


Sayang. Mereka sudah saling memanggil dengan kata itu? Adakah yang dia lewatkan? Emosinya telah meluap tetapi dia tetap menampilkan keramahan dan sikap anggun serta menawan.


"Kak Nita, silahkan masuk," kata Raina mencoba menarik dua sudut bibirnya ke samping dengan sulit untuk bisa tersenyum. Sedangkan Adry hanya terdiam terpaku tidak tahu harus berbuat apa. Dia terlalu shock dengan kedatangan Nita ke apartemen ini.


"Sayang, bagaimana kabarmu," kata Nita memeluk suaminya dan memberi kecupan di bibir pria itu. Membuat Adry sadar.


"Baik, aku tidak menyangka kau ada di sini."


"Roy, yang memberitahu." Nita melongok ke dalam. "Kau akan membiarkan aku berdiri di sini atau...."


"Maaf, ayo masuk," kata Adry meletakkan tangan di pinggang langsing Nita. Pria itu menatap Raina dengan perasaan bersalah.


Nafas Raina menjadi sesak seketika melihat pemandangan itu. Dunianya akan hancur mulai detik ini. Pikirnya.


"Hari ini ulang tahun Raina dan kami sedang merayakannya," terang Adry canggung. Dia merasa telah membuatkan kesalahan pada dua wanita yang sama-sama dicintainya. Adry dan Nita lalu berdiri di depan Raina.


"Kalau begitu selamat Raina, semoga kau menemukan kebahagiaan yang sejati, tetapi yang pasti bukan bersama suamiku, ha... ha... ha...," ledek Nita. "Maaf aku bercanda."


"Tidak apa-apa," jawab Raina tersenyum masam.


"Aku tidak bawa kado karena tidak tahu," imbuh wanita itu lagi.


"Kau sudah membawa kado kabar buruk padaku." batin Raina.


"Bu, siapa?" kata Leon masuk ke dalam ruang tamu.


"Hai Leon," sapa Nita mendekat ke arah Leon dan memeluknya. "Apakah kau sudah sehat? Om Adry memberitahu jika kau sudah mendapatkan donor ginjal dan sudah dilakukan pemasangannya. Aku turut bahagia. Maaf aku tidak bisa menunggumu selama kau sakit."


"Tidak apa-apa Tante, aku sudah sehat semua terjadi atas bantuan Ayah." Leon tersenyum lebar.

__ADS_1


"Ayah...?" Nita menoleh melihat ke arah Adry. Dalam benak dan pikirannya dipenuhi banyak pertanyaan.


"Iya aku sudah memanggil Om dengan sebutan Ayah karena dia bertindak seperti seorang ayah sedangkan ayahku malah tidak seperhatian Om Adry."


"Oh.....," Nita menghela nafas lega. Jadi Leon tidak tahu jika dia adalah anak kandung Adry. Rencana apalagi ini?


"Kak, silahkan duduk," ucap Raina bergetar dan gugup. Nita tersenyum lalu duduk dengan anggun layaknya seorang wanita terhormat. Adry lalu duduk di sebelahnya.


"Aku akan buatkan minuman untukmu," kata Raina membalikkan tubuhnya, ingin masuk ke dalam. Dia sudah tidak tahan lagi dengan situasinya.


"Tidak usah Raina, aku kemari hanya ingin membawa suamiku pulang kembali ke rumah. Aku datang ke sana namun dia tidak ada jadi aku bertanya dimana dia, kata Roy dia sedang di sini bersama kalian."


Mata Raina telah memerah dan buliran bening perlahan jatuh. Dia lalu menyekanya dengan cepat.


"Oh, ya dia datang siang ini dan membuat kejutan tadi," bohong Raina tidak ingin membuat masalah lain. Leon tidak mengerti yang terjadi tetapi dia tahu ada yang tidak beres. Ibunya menyeka air mata berarti sesuatu yang buruk sedang menimpa mereka.


"Apakah pestanya sudah selesai atau masih berlangsung?" tanya Nita dengan suara seperti orang bodoh.


"Kami baru selesai makan malam tadi. Semua telah selesai dan telah berakhir," ungkap Raina memandang Adry. "Bukan begitu, Adry? Oh maaf, Kak Adry."


"Kalau begitu sebaiknya kami pulang saja." Nita berdiri namun Adry masih duduk di kursinya.


"Ayo, Sayang kita pulang." Tingkah laku dan gerak gerik Nita memang selalu lemah lembut pada Adry membuat pria itu tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia tidak bisa melukai perasaan wanita yang telah mengisi hidupnya selama dua belas tahun ini.


"Pulang... ehm kita pulang," kata Adry merasakan separuh hidupnya tertinggal di hunian ini.


"Raina kau pulang dulu." Nita mencium pipi Raina. Dia lalu mendatangi Leon.


"Hai, Sayang, jika kau merasa baikan bagaimana kalau besok Tante Nita mengajakmu berjalan-jalan. Kita berdua ke mall membeli hadiah yang kau suka sebagai ungkapan permintaan maaf Tante karena tidak menantimu operasi dan sebagai kado karena kau telah menjadi anak yang pemberani."


"Boleh, apakah Ibu ikut?" tanya Leon melihat ke arah ibunya.

__ADS_1


"Ibumu sedang ada program kesehatan jadi dia tidak boleh banyak berjalan-jalan.


"Program apa o...," mulut Leon dibekap oleh Raina.


"Dia tidak tahu Kak. Aku senang jika kau membawa Leon bersenang-senang besok."


"Okey, baiklah, besok pukul sepuluh aku akan menjemputmu. Gunakan pakaian terbaik, Okey!"


"Pasti, Kak," jawab Raina. "Huh!" Raina menghembuskan nafas berat.


Nita lalu menggandeng lengan Adry yang berdiri memaku memandangi istri kedua dan anaknya. Berat rasanya meninggalkan mereka.


"Tunggu," ucap pria itu melangkah gontai ke depan Raina


"Aku pergi dulu, Raina," pamit Adry menatap Raina. Pupil wanita itu terlihat gemetar sehingga membuat Adry ingin memeluknya dan berkata semua akan baik-baik saja.


"Leon, jaga Ibumu," kata Adry menepuk bahu putranya.


''Pasti, aku akan menjaganya dengan baik," ucap Leon seperti mengerti situasi yang terjadi antar kedua orang tuanya.


Pandangan mata Raina dan Adry bertemu lagi. Bibir Adry seperti mengucapkan maaf yang tidak bersuara. Hati Raina serasa remuk redam menatapnya. Apalagi ketika pria itu membalikkan tubuhnya dan pergi keluar dengan digandeng oleh Nita. Nafas Raina seperti ikut pergi bersamanya.


Leon lalu menutup pintu itu.


Raina yang tidak ingin terlihat lemah di depan Leon lalu membalikkan tubuhnya.


"Leon, Ibu ingin ke kamar, Ibu lelah," ucapnya menyeka air mata. Raina lalu berjalan tegap naik ke atas kamarnya. Leon hanya bisa menatap hampa ruangan itu.


Ruangan yang satu jam lalu masih terdengar gelak tawa dan suka cita kini berubah menjadi penuh kesedihan. Dia juga merasa kehilangan atas kepergian Adry. Leon seperti tidak rela jika Adry pergi bersama dengan Nita tetapi dia tahu jika Nita adalah istri pertama Ayahnya jadi dia tidak bisa berbuat banyak.


Mengapa harus seperti ini. Ketika kebahagiaan baru menghampiri ibu dan dirinya di saat itu pula harus diambil lagi oleh Tuhan dengan cepat. Apa Tuhan begitu membencinya sehingga tidak membiarkan dia mempunyai keluarga utuh dan bahagia?

__ADS_1


Leon lalu pergi ke ruang makan melihat kue ulang tahun masih ada separuh. Dia tersenyum seraya meneteskan air matanya. Ibunya pasti saat ini sedang menangis dan bersedih. Leon lalu berlari ke atas ke kamar ibunya. Dia langsung membuka pintu dan melihat ibunya duduk dipinggir tempat tidur dengan wajah yang basah.


Leon berjalan cepat memeluk ibunya dan mendekapnya erat. Mereka lalu menangis bersama tanpa mengucapkan satu kata pun.


__ADS_2