
"Aku sudah membuatkanmu jadwal untuk satu Minggu ini." Janeta melihat ke arah Raina yang sedang berlatih berjalan anggun dengan highless tinggi. Beberapa buku tebal ditaruh di atas kepalanya.
"Aww!" kaki Raina terselip dan hampir jatuh. Buku-buku itu akhirnya mendarat di lantai.
"Bagaimana sih kau, melakukan itu saja tidak bisa. Aku dari umur tiga tahun sudah terbiasa melakukannya." Janeta bangkit dan meletakkan buku itu di kepala Raina lagi.
"Maaf, Bu," ucap Raina.
"Ayo lakukan. Satu Minggu ini kau harus bisa melakukannya. Aku adalah keturunan bangsawan keluarga kerajaan Jerman jadi berjalan dengan sempurna dan makan dengan sempurna adalah sebuah keharusan jika tidak itu akan mempermalukan nama baik keluarga kami."
"Aku akan melakukannya, Bu," ucap Raina.
"Bagus dan harus!" ungkap Janeta. Dia kembali duduk lagi dan menulis di buku catatan di atas meja. Dia lalu mulai membacakannya pada Raina.
"Hari pertama atau hari besok kau akan belajar posisi duduk dan berjalan bila belum bisa. Siangnya kita akan ke berbelanja membeli baju yang pantas untuk kau kenakan. Bajumu bermerk bagus hanya saja pemilihannya modelnya buruk. Sepertinya aku akan mengajarimu banyak hal dan aku harus meluangkan banyak waktu untukmu," gerutu Janeta.
Raina menelan Salivanya dalam-dalam. Ini baju Roy dan sekretaris Adry yang memberikan.
"Hari kedua kita akan belajar make up."
"Hari ketiga, kita akan coba bersosialisasi dengan orang luar, aku akan mengajakmu melakukan kegiatan sosial di salah satu pantai asuhan di kota ini."
"Hari keempat belajar table manner, itu sangat diperlukan agar kau makan dengan sopan tidak seperti orang udik," ucap Janeta menusuk hati Raina.
"Hari kelima kita akan ke panti jompo dan membagikan perhatian serta kasih sayang pada orang tua di sana."
"Hari keenam kita akan belajar merangkai bunga, siangnya melakukan perawatan wanita."
"Hari ketuju jika kau sudah siap aku akan ,membawamu pergi menemui teman-temanku," ungkap Janeta. Dia lalu membacakan jadwal hingga hari ke berapa Raina tidak mendengarkannya dengan pasti. Pikirannya hanya berkutat dengan urusan rumah Leon dan Adry. Jika jadwalnya padat seperti itu bagaimana bisa dia berinteraksi dengan mereka. Leon juga belum sembuh total masih ditahap pemulihan.
"Bu, apakah tidak ada hari libur?"
"Libur tentu saja boleh hanya saja aku ingin kau terlihat sempurna dulu di mata orang-orang. Mungkin kita hanya memerlukan waktu sebulan Raina. Jadi bersabarlah ini demi masa depanmu," ujar Janeta.
"Namun ...." lirih Raina berpikir.
"Apa?"
__ADS_1
"Leon, dia membutuhkanku, aku harus membawanya ke rumah sakit untuk kontrol, selain itu dia juga membutuhkanku di sampingnya."
"Kau jangan khawatir. Leon bisa melihatmu belajar atau kau bisa mengajaknya ikut serta dalam kegiatan kita. Jika kau periksa kau bisa libur dalam kegiatan ini."
"Baiklah." Raina mulai bersemangat.
"Sekarang mulai lagi berjalan dari ujung kamar ini ke ujung lainnya dan ingat lihat lurus ke depan. Posisinya seperti ini, okey," ujar Janeta. Raina mengikuti instruksinya. Sejenak Janeta tersenyum licik dibelakang Raina.
"Gadis bodoh!"
Mereka melakukan itu hingga berjam-jam lamanya, ada saja posisi yang membuat Raina salah dan dia harus mengulangi.
Raina lelah dan langsung pergi ke kamarnya dan tertidur.
Dia lalu dibangunkan oleh suara Leon yang mengguncang tubuhnya.
"Bu,Bu," panggil anak itu.
"Ada apa?" Raina membuka matanya lalu duduk. Leon seketika memeluk ibunya.
"Baru kali ini aku disanjung banyak orang, selama ini kita hidup dalam hinaan dan teman-teman sering membullyku entah di sekolah atau di rumah. Namun, sekarang berbeda, semua orang ingin mengenalku," akhir cerita Leon.
Raina menatap Leon tanpa berkedip, dia senang dengan kebahagiaan Leon tetapi ada yang berbeda dari diri Leon dan dia mulai kehilangan. Sifat rendah hati itu seakan mulai hilang. Ini bukan Leonnya.
Raina yang sedang memeluk Leon sembari duduk mencium kepala anak itu.
"Dengarkan ibu, cacian itu tidak selamanya buruk terkadang hal itu membuat kita bersikap rendah hati dan menghormati yang lain. Kita pernah merasakan di bawah dan itu tidak enak karena itu disaat kita diatas kita tidak bisa sombong karena kaya atau miskin itu sama saja yang penting hati kita baik. Mereka yang menghina karena merasa kita dibawah mereka jadi jangan sampai ketika kau melihat orang dibawahmu kau hina mereka. Tetaplah jadi anak ibu yang rendah hati dan jangan berubah walau permata dunia mengelilingiku."
"Iya Bu. Aku akan tetap jadi anak Ibu yang baik dan tidak akan sombong karena bisa menyakiti yang lainnya seperti aku dahulu yang disakiti oleh teman."
"Nah, itu baru anak Ibu."
"Kau sudah makan? Biar ibu siapkan."
"Sudah tetapi aku rindu masakan Ibu, aku ingin makan sayur kangkung dan tempe goreng atau ikan asin dan sayur asam, aku rindu makanan itu," terang Leon.
"Ibu juga rindu masakan itu. Ingin sekali Ibu pulang ke Indonesia," ujar Raina.
__ADS_1
"Namun, sepertinya Ayah tidak akan memperbolehkannya," kata Leon. Dia lalu melihat sekitarnya.
"Tinggal di istana ini enak Bu hanya saja makanannya aku kurang suka," ucap Leon jujur.
Raina mengusap kepala Leon lembut.
"Satu lagi, kamarku sangat besar dan jauh dari kamar Ibu. Aku ingin seperti dulu tidur di peluk oleh Ibu," ujarnya.
"Kau sudah besar sekarang," ungkap Raina.
"Tapi aku rindu Ibu," ungkap Leon sepertinya hati anaknya itu terikat dengan hatinya yang sedang merindukan Leon.
"Ya, sudah nanti kau tidur di sini bersama Ibu dan Ayah."
Sedangkan di ruang lain Nita sedang berbincang dengan Janeta.
"Bagaimana dengan Leon?"
"Dia diterima baik di sana dan mereka mengatakan akan meminta Adry untuk ikut serta dalam foto itu, foto keluarga yang indah untuk sebuah majalah. Mereka memuji Leon dan aku lalu mengatakan jika feel antara ibu dan anak itu terasa ketika bersama dengannya."
"Apakah Leon senang dengan kegiatannya?"
"Ya, dia nampak antusias walau sesekali terlihat lelah. Dia tidak bisa bekerja terlalu keras." Nita menghela nafasnya.
"Aku punya rencana Nita?"
"Rencana apa, Bu?" tanya Nita.
"Kau inginkan agar Adry menjadi milikmu seutuhnya dan Leon bersama dengan kalian?"
"Aku... aku ... tidak berani mengatakannya," ujar Nita walau dalam hatinya sangat menginginkan hal itu.
"Jangan munafik Nita, aku melihat kebencian di matamu untuk Raina," ungkap Janeta. Nita memandang Ibu mertuanya terkejut.
"Iya aku menginginkannya namun Adry...," ucap Nita ragu padahal dalam hatinya dia bersorak-sorai mengetahui mertua wanitanya mendukung dia.
"Kita buat Adry selalu salah paham terhadap Raina. Kau dekati Leon dan berikan kasih sayang yang dia perlukan serta ambil hatinya. Aku akan membuat Raina sibuk dengan semua kegiatan itu dan membuat dia jauh dari Leon di saat itu semua terjadi. Kita pelan-pelan menjauhkan Adry dan Leon dari Raina dan buat mereka membencinya. Lalu kita singkirkan dia hidup atau mati, lewat kecelakaan mungkin jika wanita itu tetap bertahan di keluarga ini."
__ADS_1