
"Aku kira ingin membuat kenangan indah untuk kita sebelum kalian pergi dari sini," dada Adry terasa sesak mengatakannya dan nyeri.
"Jika kalian bersedia aku ingin melayani kalian malam ini saja sebagai bentuk permintaan maafku." Raina melihat ke arah Leon dan anak itu menganggukkan kepalanya.
Mereka lalu berjalan ke meja makan itu. Lampu mulai dimatikan sehingga suasana terasa indah bagai di restauran mewah.
Adry menyeret kursi untuk Leon dan Raina, mempersilahkan mereka duduk. Raina yang tidak terbiasa untuk diperlakukan seperti ini malah balik menyeret kursi untuk Adry.
"Ikutlah makan bersama kami," kata Raina. Adry melihat ke arah Leon. Raina lalu memaksa tubuh tinggi besar itu untuk duduk.
"Kalau begitu biar aku yang ambilkan!" ucap Adry bangkit untuk mengambilkan makan mereka. Raina menatapnya tajam.
"Kau kemari ingin mengajak bertengkar atau ingin kita makan bersama dengan tenang!" ucapnya. Membuat Adry tersenyum. Dia rindu omelan wanita itu. Adry lalu menurut.
Raina mulai mengambilkan makanan ke piring masing. Setelah itu mereka berdoa bersama. Raina mulai makan dan Adry merasa senang, dia menyendok makanannya. Namun, Leon terdiam menatap ibu dan ayahnya bergantian.
Raina dan Adry lalu menghentikan makan mereka dan saling memandang.
"Ada apa, Sayang?" tanya Adry.
Leon menggelengkan kepala sembari mengusap matanya yang mulai basah. Adry lalu meletakkan alat makannya dan memutar meja serta berjongkok di depan Leon.
"Kenapa, apa kau tidak ingin melihat Ayah? Jika iya ayah akan pergi," ucap Adry menatap manik mata yang sama dengan miliknya.
Leon menggelengkan kepalanya sembari menarik nafas, air matanya mulai membasahi pipi.
"Jika tidak kenapa kau menangis, katakan pada Ayah?" Raina menengadahkan wajahnya ke atas seraya mengusap buliran bening yang ikut menetes tanpa bisa dia cegah.
"Aku... aku ... takut jika semua ini akan berakhir ketika aku terbangun, esok hari," ucap Leon tertahan dan terbata. "Aku kira ini hanya sebuah mimpi kan?"
Adry memeluk tubuh Leon dan meletakkan kepalanya di dekapan pria itu. "Jika kau mengijinkan ini semua tidak akan pernah berakhir." Adry menutup matanya lalu menengadahkan wajahnya ke atas.
Tangan Leon memeluk tubuh Adry erat. "Apa ini artinya kau memaafkan Ayah, Nak?"
"Tidak, aku tidak akan memaafkan Ayah karena telah membuat Ibu menangis tetapi aku akan memberi kesempatan Ayah untuk buat ibu bahagia kembali," ucap Leon tersengal-sengal.
"Kau memanggilku ayah lagi?" ucap Adry bahagia.
"Karena Ibu yang menyuruhku melakukannya."
__ADS_1
Adry menatap ke arah Raina dan tersenyum. "Terima kasih." Raina menganggukkan kepalanya.
"Jangan memarahi Ibu lagi!" Adry menganggukkan kepalanya. "Apalagi memukulnya," lanjut Leon.
"Ayah janji," ujar Adry.
"Bila ayah melakukan hal itu lagi, Ayah tidak akan pernah melihatku dan Ibu lagi!" ancam anak itu.
"Jangan, karena ayah tidak sanggup hidup tanpa kalian. Ayah sangat mencintai kalian."
"Kalau kalian terus bicara kapan kita makan." Raina mengusap ujung matanya dengan tissue.
"Iya, Bu," ucap Leon dan Adry bersamaan. Mereka lalu saling menatap dan tersenyum. Adry mengambil tissue dan menghapus jejak air mata di wajah Leon. Dia lalu mencium bawah mata anaknya itu dan dahi.
"Jangan menangis lagi, ayah tidak tahan melihatnya." Leon menganggukkan kepala.
Adry duduk kembali di meja itu dan mereka mulai makan. Tangan Adry menyentuh tangan Raina di bawah meja dan memegangnya.
"Maaf dan terimakasih," bisiknya di dekat telinga Raina membuat wanita itu menoleh dan hidung mereka bersentuhan. Satu kecupan kecil mampir di bibir Raina.
"Ih, Ayah, malu tahu!" ungkap Leon tertawa kecil sembari menutup matanya.
Memberi kesempatan bukan berarti memaafkan dan melupakannya. Namun, untuk melihat sedalam apakah cinta mereka berdua ketika ditimpa suatu masalah.
Bagi pria terkadang meminta maaf adalah sesuatu yang sangat sulit walau mereka menyadarinya. Ego yang membuatnya. Jika pria dan wanita saling keras kepala dan sama-sama mau menang sendiri, bagaimana sebuah rumah tangga akan terbentuk dengan indah? Malah yang ada hanya pertengkaran yang berujung pada perpisahan.
Setelah makan Leon dan Adry bermain PS bersama sesuatu yang Leon rindukan selama beberapa hari ini. Kebersamaannya dengan sang ayah.
Raina membereskan bekas makan mereka. Adry tadi memaksa untuk melakukannya tetapi Raina mencegah dan mengatakan jika lebih baik dia menemani Leon.
"Ayah, apakah besok ayah akan ikut dengan kami?" tanya anak itu sembari memencet stik PS.
"Kau ingin Ayah ikut atau tidak?" tanya Adry membuat Raina yang sedang mengelap dapur menghentikan gerakannya untuk mendengar percakapan antara anak dan ayah itu.
"Aku ingin Ayah ikut," seru Leon.
"Kalau begitu Ayah akan menuruti kemauan mu, ayah takut kau ngambek lagi. Seperti anak singa yang sedang marah, menakutkan." Leon terkekeh.
"Itu artinya Ayah akan ikut kami?" tanya Leon.
__ADS_1
"Tanya pada Ibu boleh tidak Ayah ikut tinggal bersama kalian?" bisik Adry melirik ke arah Raina.
"Ibu, boleh Ayah ikut kita?" teriak Leon.
"Memang Ayah mau tinggal di gubuk kita yang kecil?" tanya Raina balik tersenyum mengelap kembali meja dapur sampai kering dan bersih.
"Kalau kau mengijinkan!" ujar Adry memeluk pinggang Raina dari belakang dan mengangkatnya.
***
Flashback
Setelah pertengkaran Raina dan Ibunya Adry lalu langsung menyelediki permasalahan apa yang menyebabkan orang-orang yang dicintainya itu bertengkar tanpa sepengetahuan ayah atau ibunya.
Tidak mungkin anak kecil sampai semarah itu dan sangat membela ibunya jika tidak ada masalah pelik yang terjadi. Dia mulai mengamati CCTV yang memperlihatkan mereka beradu mulut. Lalu melihat CCTV keseharian keluarganya di dalam rumah.
Dia baru paham arti kalimat Leon yang mengatakan jika dia meminta jangan dipisahkan oleh ibunya. Anak itu terlihat takut dan bersembunyi jika ingin bersama Raina.
Beberapa kali Leon ingin ke kamar Raina tetapi selalu di cegah oleh Janeta. Melihat hal itu dan mendengar keterangan dari pelayan kepercayaannya Adry lalu mendatangi ibunya.
"Sebenarnya apa yang Ibu rencanakan?" tanyanya.
"Apa maksudmu?"
"Aku tahu Ibu ingin memisahkan Leon dari Raina dan mendekatkannya dengan Nita. Aku pikir kedekatan mereka itu karena natural dan dari hati nyatanya ini semua sebuah permainan belaka?"
"Kau menuduh Ibu? Apa perempuan itu mengadu padamu tentang semuanya?" Janeta terkejut mendengar tuduhan yang dilayangkan kepadanya dan mengira Raina telah mengadu dia dan Adry.
"Aku hanya melakukan yang kau mau membuat dia layak untukmu?''
"Tunggu, apa arti layak itu sesungguhnya? Apakah Raina tidak pantas menjadi menantu Ibu maksudnya?"
"Ibu tidak mengatakan hal itu cuma kau bisa menebaknya sendiri, jika tidak untuk apa kau memberikannya pada Ibu, bukankah kau pikir jika Raina itu sangat memalukan jika kau bawa keluar?"
"Oh, Sial! Ternyata aku salah menilai Ibu selama ini. Aku kira semua yang kau lakukan itu karena kau sangat menyayangi mereka, ternyata," Adry menarik rambutnya ke belakang dengan kesal.
"Seperti yang Leon lakukan kepadaku, aku tidak akan pernah memanggilmu Ibu sebelum Leon dan Raina memaafkanmu dan Ibu," ucapnya tanpa banyak kata meninggal Janeta sendiri dengan kekesalan dan kebencian yang menggunung pada Raina. Baginya Raina itu hanya sebuah sumber masalah bagi keluarganya yang tenang dan damai.
"Sadarlah, Nak, Nita seribu kali lebih baik dari Raina walau dia tidak bisa punya keturunan."
__ADS_1